Hidupkatolik.com
home / sajian utama

Lokakarya Musik Liturgi di Mentawai

Jumat, 24 Juni 2011 16:07 WIB
Lokakarya-Musik-Liturgi-di-Mentawai.jpg

Sikerei adalah sebutan untuk dukun atau paranormal Mentawai. Untuk mengobati seseorang dari penyakit yang dideritanya, ia melantunkan lagu.


Irama lagu sikerei sangat khas dan unik. Nada-nadanya terasa tenang dan menyentuh hati. Lagu-lagu ini berdaya menenangkan pasien. Pada awal lagu, sikerei bernyanyi dengan nada rendah menggunakan suara dada, kemudian dengan suara tinggi menggunakan suara kepala. Tinggi rendahnya nada melambangkan komunikasi dengan roh-roh.

Lantunan lagu sikerei ini mengalun syahdu didendangkan para seniman asli Mentawai, di Gereja Paroki St Maria Diangkat ke Surga Siberut Mentawai, Keuskupan Padang, pertengahan Mei 2011. Pada 14-20 Mei, Lokakarya Musik Liturgi berlangsung di paroki ini. Lokakarya ini diadakan Pusat Musik Liturgi (PML) Yogyakarta, diikuti 29 orang warga paroki di WAWIL Mentawai, yakni Paroki Siberut, Paroki Sikabaluan, Paroki Sikakap, dan Paroki Sipora.

Ketua PML Pastor Karl Edmund Prier SJ dan Paul Widyawan hadir sebagai narasumber. Turut hadir, Ketua WAWIL Mentawai Keuskupan Padang Pastor Bernard Lie Pr, Pastor Paroki Siberut Anton Wahyudiyanto SX, Pastor Paroki Sikakap Frelly Pasaribu Pr, dan Pastor Paroki Sikabaluan Abel Maia Pr.

Belajar bersama

Lokakarya ini lain dari lokakarya pada umumnya. Lokakarya tidak berpangkal pada teori musik dan komposisi, namun dari dua titik pangkal lain, yaitu musik tradisional Mentawai yang bersifat lisan dan iman sebagai orang Katolik termasuk penghayatan liturgi dan Kitab Suci. Pada hari pertama, para peserta dan narasumber mempelajari bersamasama lagu tradisional Mentawai dengan mencari tangga nada, motif-motif melodi, dan irama yang khas dalam lagu sikerei, termasuk cara pembawaannya.

Pada hari berikutnya, dimulailah proses membuat syair. Para peserta dibagi menjadi delapan kelompok, masing-masing beranggotakan tiga atau empat orang. Mereka diberi tugas menyusun syair lagu liturgi. Kemudian, mereka diminta melagukan syair ini dengan mengikuti alunan salah satu lagu sikerei.

Hingga dapat dinyanyikan, dibutuhkan waktu hampir sehari, antara lain karena tidak semua anggota kelompok lancar menulis notasi lagu. Kesulitan lain adalah karena notasi lagu pop daerah Mentawai pun tidak punya ciri tradisional. Yang membedakan dengan lagu pop lainnya hanya bahasanya. Sementara lagu-lagu sikerei tidak pernah ditulis dan direkam. Lagu ini hanya bersifat lisan dan dinyanyikan saat upacara adat.

Sore harinya, masing-masing kelompok mempresentasikan lagu-lagu yang mereka ciptakan. Alat musik tradisional yang disediakan hanya tuddukat, yakni alat musik berupa tiga kentongan yang terdiri dari nada do, mi, dan sol. Bila lagu belum berhasil tersusun dengan baik, maka kelompok memperbaiki karya lagunya dibantu tim dari PML. Proses menggubah lagu ini berlangsung selama empat hari penuh, hingga akhirnya menghasilkan 31 lagu baru.

Beratnya mencipta

Dari proses penciptaan lagu tersebut, tampak nyata bahwa mencipta lagu liturgi baru memang berat. Proses ini membutuhkan konsentrasi. Belum lagi, dua hari terakhir lokakarya, mereka harus berhadapan dengan tidak mencukupinya tandon air untuk mandi. Sumur di kompleks pastoran dan susteran di Paroki Siberut surut drastis. Sumur di tempat ini hanya tergantung pada air hujan. Untunglah, pada saat-saat terakhir hujan datang hingga para peserta dapat mandi lagi.

Sebanyak 31 lagu liturgi khas Mentawai yang diciptakan dalam lokakarya ini masih harus diperkenalkan kepada umat. Namun, Pastor Prier dan Paul Widyawan yakin, setidaknya beberapa lagu di antaranya akan menjadi lagu favorit umat Katolik. Hal ini sudah tampak dalam Misa Penutupan Lokakarya.

Beberapa lagu baru dilatihkan pada paduan suara yang beranggotakan 100 anak usia Sekolah Menengah Pertama, sebelum Misa dimulai. Sewaktu Misa, paduan suara bernyanyi. Dengan bangga, mereka menyanyikan lagu-lagu liturgi baru dengan irama dan penghayatan khas Mentawai.

Lokakarya ini bukan yang pertama di Mentawai. Namun, perkembangan inkulturasi liturgi di kepulauan ini masih berjalan lambat dan kontroversial. Hal ini terjadi karena perbedaan sikap dari para pendeta Kristen Protestan tentang adaptasi tradisi-tradisi sikerei yang dilakukan Gereja Katolik.

Adaptasi ini terjadi dalam beberapa hal. Misalnya, upacara pemberkatan perahu, yang diangkat dan dikembangkan dari ritus sikerei. Dalam upacara asli, sikerei memanggil roh-roh nenek moyang untuk turun dalam sebuah perahu. Dalam pemberkatan perahu secara liturgis, bukan roh-roh nenek moyang yang dipanggil tetapi Roh Kudus.

Begitu pula orang yang akan dibaptis dihias dengan bunga seperti sikerei, dan istrinya memakai hiasan bunga. Makna yang diambil adalah bahwa orang yang dibaptis mengalami kelahiran kembali menjadi anak Allah. Suasana kelahiran kembali ini hendaknya disambut layaknya sebuah pesta.

Namun, saat ini perkembangan baru yang terjadi. Belum lama ini, diadakan Ibadat Ekumene di Paroki St Yosef Sipora. Dalam ibadat ini, dipakai beberapa lagu liturgi inkulturatif yang diciptakan dalam lokakarya pada tahun 1992. Pendeta di daerah ini, yang dahulu menolak lagu-lagu ini, mulai menikmati alunan nada-nadanya.

Pada akhir lokakarya, Paul Widyawan menyarankan agar didirikan sanggar tari dan musik. “Karena dengan demikian, orang terpaksa menanyakan para narasumber budaya tentang kekhasan dan fungsi tari, lagu, dan alat-alat musik tradisional sebagai dasar untuk tari kreasi baru. Sanggar musik juga dapat menjadi motor untuk memasyarakatkan Lagu Liturgi Mentawai yang dihasilkan dalam lokakarya ini,” jelasnya.

Ini adalah sekelumit perkembangan musik liturgi inkulturatif di Mentawai. Lalu, bagaimana perkembangannya di daerah lain? Apakah musik jenis ini masih kalah dengan lagu-lagu bernuansa pop-rohani? Apa saja yang seharusnya dilakukan untuk melestarikan dan merangsang gairah komponis-komponis muda agar mereka makin peduli pada Gereja dan kelangsungan musik liturgi inkulturatif?


R.B. Yoga Kuswandono, Laporan: Karl Edmund Prier SJ



Share on Facebook || Share on Twitter
Berita Lainnya
Full Site