Hidupkatolik.com
home / sajian utama

Gereja Makin Mengindonesia

Kamis, 9 Februari 2012 10:07 WIB
seminar-gereja-r-sidang-kwi-hidup-katolik.jpg
HIDUPKATOLIK.com - Pada 3 Januari 1961 Paus Yohanes XXIII melalui Konstitusi Apostolik ”Quod Christus Adorandus” menganugerahkan Hirarki Episkopal kepada Gereja Katolik di Indonesia.

Penganugerahan ini merupakan pengakuan Takhta Suci bahwa Gereja Katolik di Indonesia sanggup berdiri sendiri sebagai hirarki. Untuk memperingati 50 tahun Hirarki Gereja Katolik di Indonesia, Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) menyelenggarakan seminar bertajuk ”Menuju Gereja yang Makin Mengindonesia”, di Ruang Sidang KWI, Jakarta Pusat, 12/10. Hadir sekitar 50 orang yang terdiri dari uskup, romo, bruder, suster, dosen, dan para aktivis Katolik.

Tujuan acara tersebut untuk mendapatkan pemikiran-pemikiran teologis, pastoral, kateketik yang paling mendesak untuk mempertajam peran dan keterlibatan Gereja Katolik Indonesia dalam konteks sosial, budaya, ekonomi, politik saat ini dan ke depan. Pembicara yang hadir antara lain Mgr F.X. Hadisumarta OCarm, Pastor Dr Ignatius L. Madya Utama SJ, Pastor Dr John Manford Prior SVD, Dr F. Francisia S. Seda, Dr J. Kristiadi, dan Sri Palupi.

Peserta seminar berdiskusi dan merefleksikan, serta memikirkan peran Gereja dan relevansinya di tengah masyarakat Indonesia. Refleksi itu juga menyangkut sampai di mana pemaknaan atas pemberian wewenang dari Takhta Suci dapat memacu kemandirian sebagai Gereja Katolik Indonesia dalam segala segi kehidupan menggereja.

Hirarki Indonesia

Mgr F.X. Hadisumarta memaparkan intisari tonggak penting sejarah hirarki sejak Majelis Agung Waligereja Indonesia (MAWI) hingga Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), juga bagaimana peran MAWI/KWI secara internal dan eksternal, serta refleksi atas makna Hirarki Gereja Indonesia.

Perjalanan Hirarki Gereja berdampingan dan menyatu dengan perkembangan masyarakat, negara, dan bangsa Indonesia. Perayaan 50 tahun Hirarki Gereja Katolik di Indonesia diharapkan tidak hanya dengan berpesta. Namun, dengan memperdalam makna hirarki dan mengusahakan perilaku yang sesuai dengan tuntutan zaman. ”Hemat saya, kita merayakan dengan mawas diri, dan refleksi. Yang penting itu kemandirian. Kita berbicara mengenai hirarki berarti kita bicara tentang kemandirian Gereja,” demikian Mgr Hadi.

Bagaimana Gereja Indonesia mewujudkan dan menghayati kemandiriannya? Upaya apa yang dilakukan sehingga kehadiran Gereja Indonesia di tengah masyarakat menjadi kehadiran Kerajaan Allah? Pertanyaan itu dijelaskan oleh Pastor Madya Utama dari kacamata pelayanan pastoral Gereja Katolik Indonesia.

Ia menjelaskan bahwa pastoral itu sering diartikan sebagai kegiatan yang berkaitan dengan pastor, reksa pastoral, pelayanan sakramental dan liturgis. ”Kita berpastoral berarti bekerjasama dengan Allah, sang pastor ambil bagian dalam karya-Nya dan melakukan pelayanan,” ungkapnya. Tujuan pelayanan adalah memberikan kesaksian mengenai Kerajaan Allah dan mengupayakan Kerajaan Allah terwujud di dunia guna menanggapi permasalahan yang terjadi di masyarakat.

Sosial-budaya

Permasalahan yang dihadapi masyarakat Indonesia, khususnya kemiskinan, bukan semata-mata menjadi permasalahan masyarakat dan bangsa Indonesia. Namun, juga menjadi keprihatinan Gereja Katolik. Sri Palupi berharap, orang Katolik bisa menjadi 100% Katolik dan 100% Indonesia. Menurut Direktur Eksekutif Ecosoc ini, duka masyarakat dan bangsa Indonesia adalah duka Gereja Indonesia dan duka kaum awam. Duka itu adalah karena yang miskin semakin miskin, yang kaya semakin kaya. ”Kita harus memiliki solidaritas, khususnya terhadap kaum miskin dan memperjuangkan hak-hak kaum miskin. Gereja diharapkan menjadi bagian dari solusi,” tandasnya.

Hal senada diungkapkan Francisia S. Seda, bahwa keberpihakan pada kelompok-kelompok marginal, dan tindakan nyata harus dilakukan. ”Praktik dalam kehidupan sehari-hari harus ditunjukkan, jangan hanya sebatas konsep atau wacana. Komunikasi antara pastor, dewan paroki, dan umat juga perlu dibenahi,” ujarnya.

Gereja Katolik Indonesia berada di tengah masyarakat yang memiliki aneka ragam budaya. Pastor Dr John Manford Prior SVD menyoroti keberadaan Gereja Katolik Indonesia serta peran hirarki secara antropologi dan budaya. Sejauh mana selama ini Gereja berinteraksi dengankebudayaan Indonesia, dan bagaimana Gereja memelihara budaya sekaligus dipengaruhi ragam budaya setempat.

J. Kristiadi memaparkan peran politik warga Gereja Katolik dalam masyarakat, dan sejauh mana peran hirarki dalam menggerakkan semangat berpolitik secara Katolik kepada umat yang berkecimpung di dunia politik praktis di Indonesia.

Peserta seminar memberikan pendapat dan masukannya dengan pancingan ide dari para pembicara. Beberapa hal yang menjadi keprihatinaan bersama, antara lain bagaimana mengusahakan agar kehadiran Gereja Katolik Indonesia sungguh-sungguh dirasakan; bagaimana pelayanan pastoral, etika dalam pelayanan pastoral bisa berjalan baik; bagaimana klerus, religius, dan awam dapat saling bersinergi untuk menghadirkan Gereja Katolik yang semakin mengindonesia, dan bagaimana persoalan implementasi dari Gereja universal dan Gereja partikular.

Maria Pertiwi



Share on Facebook || Share on Twitter
Berita Lainnya
Full Site