Hidupkatolik.com
home / sajian utama

Roma, Kota Wisata

Minggu, 27 Februari 2011 10:00 WIB
tangga-pilatus-hidup-katolik.jpg
HIDUPKATOLIK.com - Katakomba, Colosseum, Basilika St Petrus, Gereja San Silvestro, dan bangunan-bangunan lain di Roma, adalah prasasti getirnya sejarah umat Katolik yang kini justru menjadi magnet para peziarah dari seluruh dunia.

Menjadi orang Katolik bu­kanlah perkara yang mudah. Itulah yang dirasakan pengikut Kristus di Roma pada abad-abad pertama. Nyawa adalah taruhannya. Saat itu, pengikut Kristus dikejar-kejar dan dianiaya hingga mati. Karenanya, untuk bisa berkumpul, umat Kristiani mencari tempat persembunyian yang aman. Kuburan bawah tanah atau katakomba adalah tempat yang paling sering digunakan untuk bertemu. Meski sudah bersembunyi, acapkali mereka tetap ditangkap dan dibunuh.

Di Roma, ada banyak katakomba yang amat bersejarah, di antaranya Katakomba San Callisto, San Sebastiano, dan Katakomba Domitilla. Hingga kini katakomba menjadi saksi bisu keteguhan iman umat Kristiani Roma di masa lalu.

Selain katakomba, tempat lain yang menyimpan sejarah pahit umat Kristiani adalah Colosseum. Siapa yang tidak mengenal Colosseum, landmark Kota Roma? Sejatinya Colosseum adalah sebuah stadion yang sampai saat ini masih dikagumi orang. Bagaimana mungkin dua ribu tahun yang lalu orang mampu membuat bangunan semegah dan seindah Colosseum? Tidak heran, Colosseum sampai sekarang tetap menjadi salah satu kebanggaan orang Italia, khu­susnya Roma.

Di balik bangunan yang megah dan mengesankan ini, tersimpan sejarah yang kelam, terutama bagi umat Kristiani. Di tempat ini, ribuan umat Kristiani telah menumpahkan darah mereka demi iman yang mereka hayati. Para pengikut Kristus yang tertangkap, dihempaskan ke tempat ini, menjadi santapan binatang-binatang buas yang kelaparan. Sementara penonton bersorak-sorai gembira menyaksikan tontonan itu.

Kota suci

Roma pernah dijuluki sebagai Kota Suci. Hal ini tidak mengherankan karena Roma mewarisi banyak peninggalan sakral kekristenan. Selain itu, Roma merupakan pusat agama Katolik dunia. Vatikan dengan Gereja Santo Petrus yang megah menjadi simbol kepemimpinan Gereja Katolik.

Di samping Vatikan, Roma memiliki banyak hal menarik lainnya. Misalnya, ada tangga yang digunakan Pilatus untuk mengadili Yesus. Tangga ini dipindah dari tempat asalnya Yerusalem ke Roma. Kini, Scala Sancta atau Tangga Suci ini dirawat dalam sebuah kapel di seberang gereja megah San Giovanni Lateran. Umat berdoa sambil berlutut berturut-turut sejak tangga pertama hingga tangga terakhir. Umat percaya, dengan cara itu, doa-doa mereka akan lebih didengarkan Tuhan.

Salah satu pilar kekristenan adalah sosok Santo Paulus. Rasul ini dikenal amat bersemangat menyebarkan ajaran Kristus di luar bangsa Yahudi. Paulus ditangkap di Roma dan dijatuhi hukuman mati dengan cara dipenggal kepalanya. Hingga kini, tempat Pau­lus dipenjara dan dihukum mati masih terpelihara dengan baik. Sementara di atas makamnya, didirikan basilika yang amat megah disebut Basilica San Paulo fuori muro (Basilika Santo Paulus di luar tembok).

Menelusuri Kota Roma ibarat mengadakan perjalanan batin iman Katolik. Ada begitu banyak hal dan tempat yang bisa menceritakan betapa kuatnya iman umat Kristiani pada masa lalu. Meskipun demikian, semangat yang amat besar terkadang menjadi berlebihan. Sebagai contoh, di salah satu sudut Kota Roma ada gereja yang cukup besar, San Silvestro namanya. Gereja ini dibangun antara tahun 752-757. Konon, di Gereja San Silvestro ini, sejak abad XII tersimpan tengkorak kepala Santo Yohanes Pembaptis (yang dipenggal pada zaman Raja Herodes). Dan, memang di bagian depan gereja, ada kapel kecil tempat tengkorak itu diletakkan.

Pada tahun 1969, gereja ini kemalingan, termasuk tengkorak Yohanes Pembaptis ikut hilang. Menurut cerita, sang maling mengembalikan lagi tengkorak itu keesokan harinya. Namun, versi lain mengatakan, pastor paroki, saat diwawancarai tentang hilangnya tengkorak itu, menjelaskan, “Maling itu sungguh keterlaluan. Dia menggasak banyak barang berharga, termasuk kepala Yohanes Pemandi. Tapi, tidak apa-apa, kami masih punya persediaan satu lagi…!”

Cerita di atas memang masih perlu dibuktikan kebenarannya. Namun, sungguh benar bahwa semangat beragama yang berlebihan, kadang-kadang bisa kebablasan, menghalalkan segala cara.

Heri Kartono OSC,
Penulis pernah tinggal di Kota Rom
a



Share on Facebook || Share on Twitter
Berita Lainnya
Full Site