Hidupkatolik.com
home / teropong

Membangun Budaya Keluarga dan Budaya Sekolah

Kamis, 31 Mei 2012 14:34 WIB
dhildrens-discussion-hidup-katolik.jpg
HIDUPKATOLIK.com - Proses terjadinya sikap (attitude) seseorang dimulai dari kebiasaan-kebiasaan kecil. Misalnya, pola bicara. Bila seorang anak biasa mendengar bagaimana anggota keluarganya menjawab telpon dengan nada yang halus dan juga ketika saling menyapa anggota keluarga, maka kebiasaan ini akan direkam anak menjadi kebiasaan di dalam caranya berbicara, dan digunakan setiap saat dalam berbagai kondisi sehingga kebiasaan itu menjadi sifat.

Bila hal itu dilakukan terus-menerus, akhirnya secara spontan anak akan menyapa orang lain, teman-temannya dengan nada yang halus dan sopan. Ini sudah menjadi bagian kepribadian anak, sehingga tanpa berpikir lagi, secara otomatis dia menampilkan perilaku halus dan sopan itu kapan dan di mana saja. Dalam diri yang bersangkutan telah terbentuk sikap sopan dan halus.

Dalam proses pembentukan sikap tanggung jawab dalam diri seseorang misalnya, sudah dimulai sejak dini. Dalam budaya keluarga yang selalu menekankan kepada anak-anak bahwa mereka harus membuang sampah sesuai dengan tempatnya, karena sudah membantu orang lain untuk gampang menyortir sampah organik, plastik, dan kaca/beling. Apabila budaya ini juga dialami oleh anak di sekolah, di mana guru-gurunya menjelaskan mengapa kita perlu membuang sampah pada tempatnya: sampah organik, plastik, dan kaca/beling demi memudahkan proses pengolahan sampah, maka kebiasaan yang telah dimulai dalam diri anak diperkuat dan diteguhkan, sehingga kebiasaan itu bisa menjadi sifat. Ketika perilaku ini dilakukan terus-menerus dalam berbagai keadaan dan kesempatan, akhirnya setiap orang yang ada di dalam budaya seperti itu menginternalisasi nilai “tanggung jawab membuang sampah” sehingga menjadi bagian dari dirinya (sikap).

Sebaliknya, program ini bisa juga dimulai di sekolah. Tentu saja program pembiasaan yang baik di sekolah akan lebih baik dan lebih berhasil apabila kebiasaan itu dilakukan juga di rumah oleh orangtua dan sanak keluarga. Maka, kerjasama sinergi antara guru-guru dan orangtua sangat dibutuhkan untuk membentuk sikap-sikap anak yang baik. Memang sikap-sikap yang sudah terbentuk dari masa kanak-kanak, usia 0 – 10 tahun menjadi semacam sikap dasar kepribadian seseorang. Lebih-lebih sikap disiplin dan tanggung jawab serta sikap menghargai (respect) terhadap orang lain. Sikap-sikap ini dibentuk bukan melalui kata-kata (nasihat), melainkan melalui pengalaman langsung yang dialami oleh seseorang. Ketika seorang anak mengalami sendiri pengalaman penghargaan (respect), pengalaman didengar ketika ia mengungkapkan perasaan dan pendapatnya, maka ia juga belajar mendengarkan orang lain (respect) dengan penuh ketulusan, seperti telah dialaminya. Tentu kenyataan sebaliknya bisa terjadi, apabila seorang anak selalu mengalami pengalaman diomeli, disalahkan, dituduh, dan direndahkan, maka ketika ia berbicara dengan orang lain, ia akan secara spontan menerapkan hal yang sama juga kepada orang lain. Maka, orang Latin mengatakan, Nemo dat quod non habet (Tak seorang pun mampu memberi apa yang dia tidak punya). Kalau dalam pengalaman bawah sadar anak-anak ada banyak yang positif, maka mereka mampu mengeluarkan juga yang positif.

Dapat kita simpulkan bahwa kebudayaan (baca: kebiasaan) dalam keluarga dan di sekolah menentukan bagaimana sikap, tata nilai yang akan dimiliki oleh anak-anak yang dibesarkan di lingkungan keluarga dan sekolah tersebut. Agen penentu budaya dalam keluarga adalah orangtua (ayah, ibu) dan semua anggota keluarga lainnya, termasuk baby-sitter, driver, dan mungkin kakek, nenek kalau tinggal bersama anak-anak. Agen pembentuk sikap dan nilai selanjutnya adalah para guru di sekolah, melalui cara mereka berkomunikasi dengan anak-didik, cara mereka merumuskan pikirannya menanggapi berbagai perilaku anak dan berbagai isu sosial. Para guru bisa mentransfer nilai-nilai keyakinannya sendiri kepada anak melalui cara guru memberi penilaian terhadap isu-isu sosial.

Sebagai contoh saja, ketika saya praktik di sebuah Sekolah Dasar di pinggiran Kota Roma (Italia). Anak-anak yang duduk di kelas empat melakukan sebuah diskusi dengan topik, mengapa kita harus membayar tiket bus sekolah. Ketika itu, isu sosial yang sedang terjadi adalah banyak orang yang kena razia, memalsukan tiket bus dalam kota, sehingga ini menjadi keprihatinan pemerintah. Nah, dalam diskusi itu, pendapat anak-anak didengar oleh guru. Seorang peserta-didik merumuskan pikiran logisnya, "Apabila setiap orang licik dan tidak membayar tiket bus, lalu siapa yang akan membayar gaji para supir, biaya pemeliharaan bus? Lalu, bagaimana kita bisa mendapat pelayanan nyaman dari bus yang kita nikmati sekarang ini? Sistem transportasi kita akan kolaps." Demikian diskusi muncul, dan tampak dalam diri semua peserta-didik itu tumbuh sebuah kesadaran akan tanggung jawab mereka terhadap kenyataan bahwa "mereka harus membayar tiket bus dan tidak boleh bersikap licik atau curang." Pendek kata, orangtua dan para guru di sekolah perlu juga melibatkan anak-anak kita untuk mendiskusikan isu-isu sosial dan membiarkan anak-anak menemukan solusinya, serta membuat gerakan bersama untuk memulai sesuatu budaya yang berbasis nilai: disiplin, penghargaan, dan tanggung jawab.


Fidelis Waruwu



Share on Facebook || Share on Twitter
Berita Lainnya
Full Site