Hidupkatolik.com
home / renungan

Renungan Minggu 22/7/2012: Mgr Leo Laba Ladjar OFM-Uskup Jayapura

Jumat, 20 Juli 2012 17:45 WIB
Yesus-kapal-orang.jpg
HIDUPKATOLIK.com - Minggu, 22 Juli 2012, Pekan Biasa XVI: Yer 23:1-6; Mzm 23; Ef 2:13-18; Mrk 6:30-34

Gembala Menyatukan Kawanan


Sabda Tuhan dalam Liturgi Hari Minggu ini mengangkat pokok tentang gembala. Nabi Yeremia menyuarakan kekesalan Tuhan terhadap para gembala. Mereka ditegur dan dikutuk karena membiarkan kawanan tercerai-berai, tersesat, dan hilang. Gembala adalah kiasan untuk raja dan para pemimpin agama bangsa Israel. Mereka berlaku fasik dan menyeret kawanannya berbelok pada berhala-berhala kafir dan tidak setia melaksanakan perjanjian dengan Yahweh.

Akibat kelalaian para pemimpin itu, bangsa Israel berulang-ulang diceraiberaikan dan dibuang dari tanah airnya sendiri. Pembuangan itu, di mata Tuhan, merupakan hukuman dan pembersihan. Umat seperti disaring oleh Yahweh sendiri sehingga akhirnya tinggal satu sisa kecil yang setia yang dikembalikan ke tanah airnya. Ia akan mengangkat gembala-gembala baru bagi sisa kecil itu. Nabi menubuatkan, Yahweh akan memenuhi janji-Nya dengan menumbuhkan satu Tunas Daud yang akan menggembalakan umat-Nya dengan bijaksana, adil, dan benar.

Dari perspektif Perjanjian Baru, nubuat itu terpenuhi dalam diri Yesus Kristus. Dialah Tunas Daud itu. Dialah Gembala yang baik, seperti ditegaskan dalam Injil Yohanes (Yoh 10). Dalam perikop Injil Markus hari ini, Yesus menghadapi kelompok besar orang-orang yang datang untuk mendengarkan Dia. Begitu banyaknya orang mengerumuni Dia dan murid-murid-Nya, makan pun mereka tidak sempat. Ketika mereka mau menyendiri ke tempat yang sunyi untuk beristirahat, ternyata orang banyak itu sudah mendahului mereka.

Mereka merindukan seorang pemimpin dan berhasrat mendengarkan kata-katanya. Mereka menemukan figur pemimpin yang mereka impikan, maka mereka terus mencari Dia. Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus. Dia berbelas kasih kepada mereka, ”Karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala” (Mrk 6:34). Lalu, Dia mulai mengajar mereka.

Di bawah kepemimpinan Gembala yang Baik, umat hidup aman dan sejahtera. Hubungan damai dengan Tuhan dipulihkan oleh pengampunan dan kerahiman-Nya yang tak terhingga. Ada kasih dan belas kasih bagi masing-masing orang yang dikenal dengan namanya sendiri. Yang hilang dicari, yang lemah dan sakit dibopong kembali ke kandangnya. Domba-domba mengenal suara gembalanya dan berjalan mengikutinya ke padang yang hijau dan kembali ke kandang yang aman. Gembala yang baik mendatangkan damai sejahtera yang menyeluruh, baik kesejahteraan materi maupun rohani.

Damai sejahtera yang menyeluruh itu diwujudkan oleh hidup dan karya Yesus. Dengan menyerahkan nyawa-Nya dalam ketaatan kepada Bapa, Dia memulihkan hubungan damai antara Allah dan manusia. Dialah Damai Sejahtera kita, kata Rasul Paulus dalam surat kepada Jemaat di Effesus. Paulus menghadapi pertentangan antara bangsa Yahudi dan Yunani. Orang Yahudi menganggap orang Yunani kafir. Demi kemurnian agama serta rasnya, mereka menciptakan tembok pemisah. Paulus menegaskan, Yesus Kristus telah merobohkan tembok itu dan mempersatukan kedua pihak sebagai manusia baru. Persatuan mereka akan bertumbuh dalam satu Roh menuju persekutuan penuh dengan Bapa.

Pemersatu kawanan, itulah peranan yang paling penting dari Yesus Kristus, Gembala yang Baik. Gembala-gembala lain dikritik dan ditegur, karena mereka tidak menjadi pemersatu kawanan, tetapi justru menjadi pemecah-belah. Pokok itu menjadi keprihatinan Rasul Paulus atas umat di Korintus yang terpecah karena ambisi beberapa pemimpinnya.

Tembok pemisah sudah dirobohkan oleh Yesus, tetapi ancaman perpecahan tetap ada. Pesan akhir Yesus yang diungkapkan dalam doa-Nya sebagai Imam Agung (Yoh 17) ialah agar kawanan-Nya bersatu, karena persatuan para pengikut-Nya adalah bukti dan tanda persatuan-Nya dengan Bapa. Doa dan pesan akhir Tuhan itu tetap menjadi misi utama para gembala kita, yang kita sebut ”pastor”, yang memang berarti gembala.

Persatuan dan persekutuan harus terus dibangun. Bahaya perpecahan tetap ada. Ambisi pribadi, budaya kelompok, dan kepentingan politik sering memecah-belah umat. Unsur pemecah-belah itu ada dalam diri gembala juga, dan dia tidak akan berhasil menjadi pemersatu kalau tidak tinggal dalam persekutuan dengan Gembala Agung, Yesus Kristus, yang menyerahkan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya.

Mgr Leo Laba Ladjar OFM
Uskup Jayapura



Share on Facebook || Share on Twitter
Berita Lainnya
Full Site