Hidupkatolik.com
home / jendela & lembaga religius

STW Caritas Bekasi: Rumah Cinta Manula yang Sakit-sakitan

Kamis, 9 Agustus 2012 11:28 WIB
jendela-stw-caritas-hidup-katolik.jpg
HIDUPKATOLIK.com - Rasa cinta yang mendalam terhadap manula (manusia usia lanjut/tua), khususnya yang sakit-sakitan membuat panti ini hadir di tengah-tengah masyarakat. Sasana Tresna Wherda Caritas memang berbeda dengan panti jompo lainnya.

”Gotuuun ...!” sapaan centil dengan nada panjang itu keluar dari mulut Opa Salim (64) yang ditujukan kepada Oma Gotun (60).

Dari kejauhan Opa Salim sudah mengamati Oma Gotun yang tengah asyik mengobrol dengan oma-oma lainnya. Setelah keduanya berdekatan, sesekali tangan Opa Salim menyentuh jemari Oma Gotun. Tawa dan ejekan ringan berdatangan dari penghuni lain yang menyaksikan pemandangan itu.

”Ah, kasihan Salim. Gotun kan suka sama Frengki. Jadi, cinta segitiga kayak anak muda,” timpal Oma Neti sambil tertawa lepas.

Opa Salim memang sudah tidak lagi muda. Jalannya tak sesempurna dulu. Tetapi, rasa cinta tak mampu dibendung ketika ia melihat sang pujaan hati tengah duduk di ruang santai Sasana Tresna Wherda Caritas yang berlokasi di Jalan Kusuma Utara No 5, Wisma Jaya, Kelurahan Duren Jaya, Kecamatan Bekasi Timur, Jawa Barat itu, Selasa siang, 9/3.

Muhartati, Pimpinan Caritas, tak mengelak bahwa saat ini ada tiga pasang manula penghuni panti yang sedang saling menaksir. ”Mereka terlibat cinta lokasi di panti ini,” ungkap Muhartati di ruang kantornya yang berukuran 5x3 meter itu.

Cinta memang tidak pernah mengenal batas usia. Cinta pun mampu menembus batas ruang dan waktu. Namun, cinta yang dikembangkan Caritas tentu tidak terbatas hanya pada mereka yang tengah jatuh hati dengan lawan jenisnya, melainkan cinta untuk seluruh penghuni panti. Caritas ingin menunjukkan cinta kasihnya yang besar kepada sesama, khususnya mereka yang sudah lanjut usia dan sakit-sakitan.

Nilai plus
Kehadiran Caritas di tengah-tengah masyarakat membawa angin segar, terutama pada keluarga-keluarga yang ingin menitipkan anggota keluarganya yang telah lanjut usia di panti. Jika kebanyakan panti jompo hanya mau menerima calon penghuni dengan kesehatan fisik yang masih bagus, tidak emikian dengan Caritas yang mau menerima calon penghuni usia lanjut dalam kondisi sakit.

Konsistensi untuk bersedia menerima oma-opa yang sudah sakit membuat panti jompo yang berada di bawah naungan Yayasan Bina Bakti ini diminati banyak pihak. ”Sebab, banyak panti hanya menerima orang yang masih sehat dan mandiri. Kalau begitu, siapa yang mau menolong orang tua yang lumpuh?” Muhartati mempertanyakan. Rasa cinta kepada manula yang sakit inilah yang membuat Caritas begitu spesial dan menjadikannya berbeda dengan panti jompo lain.

Sekarang ini, Caritas baru sanggup menampung 50 penghuni. Di Bekasi tidak banyak panti jompo, sehingga Caritas ”kebanjiran” penghuni. Saat ini, di Bekasi hanya ada dua panti jompo, yaitu Panti Sosial Tresna Werdha Budi Dharma, Bekasi Timur dan Sasana Wherda Caritas. Kondisinya agak berbeda dengan panti-panti asuhan untuk anak-anak yang merebak bak jamur di musim penghujan.

Apalagi, penghuni Caritas tidak hanya datang dari Bekasi dan sekitarnya. Ada juga penghuni yang datang dari luar Jawa seperti Balikpapan dan Bangka. Dari total 50 penghuni, ada 40 oma dan 10 opa. Rata-rata mengalami sakit tua, seperti hipertensi dan stroke. Beberapa di antara mereka masih sehat, tetapi ada yang sama sekali tidak bisa bergerak.

Untuk menjadi penghuni Caritas, persyaratannya antara lain usia minimal 60 tahun; ”sehat” dalam arti mereka yang sudah sakit bisa diterima dengan pertimbangan khusus; tidak berpenyakit menular, menyertakan Kartu Tanda Penduduk (KTP), Kartu Keluarga (KK), dan KK penanggung jawabnya. Setiap bulan, ada iuran wajib sebesar Rp 600.000, tetapi bagi yang tidak mampu tidak diharuskan membayar.

Beralih fungsi
Lembaga ini semula bukanlah panti jompo, melainkan Taman Kanak-Kanak (TK) dan Tempat Penitipan Anak (TPA). Pada 16 September 1980, Yayasan Bina Bakti mulai didirikan. Awalnya, terletak di Jl Prof Moh. Yamin, Duren Jaya, Bekasi. Sifatnya non panti dengan macam-macam kegiatan seperti mengurus masalah biaya pendidikan anak, keterampilan menjahit dan elektro, ataupun kredit permodalan. Tidak hanya di Bekasi, tahun 1986 yayasan ini juga bergerak di Serpong, Tangerang.

Pendirinya adalah Drs R. Supardi yang sudah lama berkecimpung di bidang sosial. ”Jika kita berbuat untuk mereka yang kecil dan tidak berdaya, dalam hal apa pun, kita juga melakukannya untuk Kristus,” ungkap Supardi ketika ditanya alasannya mendirikan yayasan.

Tahun 1992, TK dan TPA mulai didirikan di Jalan Kusuma. Tetapi, karena panti jompo yang ada di Serpong sudah tidak dapat menampung penghuni dan juga atas banyaknya permintaan, maka pada tahun 2001, TK dan TPA di Jalan Kusuma ditutup, dialihfungsikan sebagai panti jompo. Yayasan ini bersifat umum, tetapi banyak pengelolanya yang Katolik. Ajaran Gereja menginspirasi mereka untuk selalu berbuat kasih. Mayoritas penghuni panti menganut Katolik, tetapi ada juga yang beragama Islam, Kristen, dan Buddha.

Caritas memiliki 19 kamar. Kamar para oma-opa dibedakan berdasarkan kemampuan fisik mereka. Ada kamar mandiri (2 kamar) untuk oma-opa yang tidak terlalu diawasi dan masih mampu melakukan tugas sehari-hari seperti menyapu; kamar setengah mandiri (9 kamar) untuk mereka yang terkadang masih memerlukan bantuan dari para suster; dan kamar ketergantungan (8 kamar) untuk mereka yang benar-benar harus diawasi 24 jam penuh.

Sabar
Nora, pegawai yang sudah bekerja di Caritas selama hampir lima tahun, mengungkapkan, ”Harus banyak sabar menghadapi kelakuan oma-opa yang tidak bisa diduga.” Bekerja merawat kaum usia lanjut memang tidak mudah. Mereka dituntut selalu siaga. Karena itu, para suster yang berkarya di sini diutamakan yang masih single. Untuk memudahkan pekerjaan, mereka juga ditempatkan di asrama yang terletak di belakang panti.

Saat ini pegawai Caritas ada 23 orang, terdiri dari bagian masak (3 orang), bagian cuci (4 orang), satpam (1 orang), tukang (1 orang), kebersihan (2 orang), dan suster (12 orang).

Panti jompo seyogianya berfungsi membantu keluarga-keluarga yang karena beberapa alasan, tidak mampu lagi merawat salah satu anggota keluarga yang sudah tua dan sakit-sakitan. Agar kondisi mereka (orang tua) menjadi lebih baik, dengan lingkungan yang lebih nyaman, kemudian mereka dititipkan ke panti jompo. Yang sering terjadi, panti jompo disalahgunakan. Mereka menganggap panti jompo hanya sekadar tempat penitipan manula.

Ada kasus, rumah seorang opa dijual oleh anak dan menantunya. Lalu, opa tersebut dikirim ke Caritas. Anak dan menantunya pergi begitu saja. Ada juga yang menitipkan kerabatnya di panti ini mengatakan bahwa orang tua tersebut sudah tidak punya saudara, pembayarannya pun minim. Akan tetapi, begitu orang tua tersebut meninggal, mobil-mobil berderet di halaman panti bahkan sampai mengirimkan tiga ambulans untuk keperluan penguburan.

Untuk mengantisipasi hal tersebut tak terulang lagi, sekarang setiap orang tua yang ingin menjadi penghuni panti harus disertai surat rekomendasi yang dapat dipercaya. Bagi yang Kristen Protestan dan Katolik harus disertai surat rekomendasi dari Gereja.

Dalam pelayanan rohani, penghuni Katolik mendapat Komuni secara rutin setiap Minggu. Ibadat Sabda juga sering diselenggarakan. Setiap Selasa, Caritas menerima kunjungan dari Gereja Bethel Indonesia (GBI). Yayasan Buddha Tzu Chi Tangerang juga datang memberikan pelayanan setiap dua bulan sekali.

Dalam pelayanan kesehatan, Caritas mendapat kunjungan dari Pusat Kesehatan Masyarakat setempat setiap bulan.

Masyarakat di sekitar panti dapat menerima kehadiran Caritas dengan baik. ”Gak masalah. Caritas tidak mengganggu aktivitas kami,” ungkap W. Benny, warga yang tinggal tidak terlalu jauh dari Caritas. Pihak Caritas juga menjalin kerjasama yang baik dengan warga sekitar. Contohnya, saat Idul Adha, mushola setempat mengirimkan daging kurban ke Caritas. Sebaliknya, Caritas pun pernah membagi-bagikan 1 dus jeruk kepada beberapa Tempat Pendidikan Al-Qur’an di wilayah tersebut.

Sesuai visi misinya, Caritas ingin membawa manula menerima anugerah Tuhan. Hidup, napas, kesehatan adalah anugerah yang harus disyukuri. Jika sakit, mereka harus bisa menerima. Bina Bakti mengajarkan agar dalam keadaan apa pun mereka bisa menerima kenyataan. Sebab, semua itu berasal dari cinta. Allah adalah Cinta. Sama seperti Opa Salim dan Oma Gotun yang disatukan oleh cinta.

Pipit Ayu Wardhani



Share on Facebook || Share on Twitter
Berita Lainnya
Full Site