Hidupkatolik.com
home / eksponen

Prof Dr Benedicta Prihatin Dwi Riyanti: Psikolog Wirausaha

Rabu, 15 Agustus 2012 11:36 WIB
eksponen-prof-dr-b-p-d-riyanti-hidup-katolik.jpg
HIDUPKATOLIK.com - ”Terakhir, ucapan ini saya tujukan kepada anak saya....” Pidatonya berhenti. Lidahnya terasa kelu. Dari matanya keluar air. Ia mengusap air di pelupuk matanya.

Tak lama, ia melanjutkan, ”... Ignatius Jurian Ratria Galih. Inilah persembahan Mama untukmu, Nak. Semoga kamu kelak terpacu untuk berbuat yang lebih baik dari yang bisa Mama capai sekarang. Maafkan Mama, karena Mama sering tidak sabar dan sering meninggalkan kamu sendirian ketika Mama harus bertugas.”

Ignatius Jurian Ratria Galih adalah putra semata wayang Prof Dr Benedicta Prihatin Dwi Riyanti yang pada Jumat, 19 Februari 2010 dikukuhkan sebagai guru besar di Universitas Katolik (Unika) Atma Jaya Jakarta. Dalam acara itu, Dwi Riyanti menyampaikan pidato ilmiahberjudul Kontribusi Psikologi dalam Penciptaan Kewirausahaan di Indonesia. Ia mengawinkan ilmu psikologi dengan ilmu ekonomi, khususnya tentang kewirausahaan.

Kreativitas
Wirausaha identik dengan kreativitas. Berkat kreativitas juga, Dwi Riyanti bisa mendekatkan psikologi dengan kewirausahaan. Saat menempuh jenjang doktoral, ia ditantang (Alm) Prof Ashar Sunyoto Munandar.

”Yanti, mengapa kamu tidak meneliti usaha kecil? Selama ini yang diteliti hanya industri besar,” kata Dwi Riyanti menirukan Prof Ashar Sunyoto Munandar.

”O ya, Prof! Tapi bukunya apa, Prof?” tanyanya kala itu.

Prof Ashar Sunyoto Munandar pun memberi setumpuk buku kewirausahaan. Dwi Riyanti mulai membuka buku itu satu per satu. Namun, ia tak menemukan kaitan dengan psikologi. Ia terus mencari.

Bagai orang yang mengetuk pintu akan dibukakan dan yang mencari akan menemukan, Dwi Riyanti terus berusaha. Akhirnya, ia dibukakan pintu dan menemukan sesuatu. ”Ternyata, inti wirausaha itu kreativitas yang merupakan kajian ilmu psikologi,” ceritanya bersemangat.

Perempuan kelahiran Gunung Kidul, Yogyakarta, 11 Mei 1963 ini juga mulai mengulik masa lalu. Bapaknya, seorang petani. Sementara ibunya piawai membuat kue. Dwi Riyanti pun pernah turun ke sawah dan ikut berjualan kue buatan sang ibu. ”Orangtua saya juga menanam bayam. Bayam diikat-ikat dan dijual ke pasar. Ini kan bentuk sederhana kreativitas,” ujarnya. Bagi Dwi Riyanti, keluarga adalah tempat pertama kali ia belajar agar selalu berusaha dan terus mencoba.

Dari keluarga pula ia belajar, bahwa wirausaha dapat dimulai dari segala sesuatu di sekitar kita. Menurutnya, ketika seseorang menambahkan satu elemen baru dalam kegiatan atau benda-benda yang ada di sekitarnya, itu adalah kreativitas. Dari kreativitas itu bisa tumbuh kreativitas-kreativitas lain yang bisa menghasilkan tambahan pendapatan ekonomi.

Peran wirausaha
Menurut Dwi Riyanti, peran penting wirausaha dalam perkembangan ekonomi suatu negara sudah lama ditekankan ’Bapak Manajemen Modern’, Peter F. Drucker. Ia membuktikan, bukan perusahaan berteknologi tinggi, tapi wirausaha yang menciptakan ribuan lapangan kerja. Sementara pakar psikologi motivasi, David McClelland, menyatakan, suatu negara dikatakan makmur bila terdapat minimal dua persen wirausaha dari jumlah penduduk. Amerika Serikat memiliki 15 % wirausaha (2009), Eropa mencapai 6 %, dan di Asia, terutama Singapura ada 7 % wirausaha. Bagaimana di Indonesia?

Dalam pidato ilmiahnya, Dwi Riyanti menyampaikan, di Indonesia pada 2001, jumlah wirausaha sekitar 400.000 atau hanya 0,18%.

Warga Paroki St Thomas Kelapa Dua Cimanggis, Jawa Barat ini mengatakan, ada beberapa indikasi wirausaha belum berkembang di Indonesia. Pertama, sedikit orang yang berminat menekuni wirausaha, karena mayoritas masyarakat Indonesia masih berada dalam struktur dan cara berpikir agraris. Nilai agraris masih didominasi nilai-nilai yang bergantung pada alam. ”Nilai agraris lebih menekankan pada ketekunan kerja, yaitu terus mengerjakan hal yang sama, belum menekankan pada olah pikir kreatif,” urai Dwi Riyanti.

Kedua, masyarakat Indonesia cenderung mencari pekerjaan yang menciptakan rasa aman, yakni menjadi pegawai. Hanya sedikit lulusan Perguruan Tinggi yang berwirausaha, yakni sekitar 18% dari kelulusan. Sisanya, 82% bekerja pada instansi pemerintah dan swasta. Kemampuan manajemen para wirausaha di Indonesia pun sangat kurang, karena beberapa wirausaha tak pernah mengenyam pendidikan tinggi. ”Olah pikir dan logika itu akan lebih diasah di pendidikan tinggi. Ini penting agar wirausaha dapat berjangka panjang dan melihat setiap peluang,” papar Dwi Riyanti.

Ketiga, ada dimensi budaya Indonesia yang menghambat pembentukan perilaku wirausaha. Budaya power distance yang tinggi menyebabkan distribusi kekuasaan tak seimbang. Menurut Dwi Riyanti, budaya ini paling kentara dalam wujud ”bapak-isme”. ”Orang Indonesia cenderung mengikuti petunjuk orangtua agar anaknya menjadi pegawai,” tegasnya. Sementara budaya collectivism-individualism membuat masyarakat cenderung bersikap kompromis dan menghambat munculnya gagasan baru dalam wirausaha.

Keempat, usaha kecil masih didominasi sektor pertanian, kehutanan, peternakan, dan perikanan (53,5%). Kondisi ini menunjukkan, wirausaha di Indonesia muncul karena faktor kebutuhan, bukan didorong faktor inovasi. Kewirausahaan di Indonesia belum mengandalkan kreativitas dan inovasi. ”Bila dilihat faktor-faktor yang menyebabkan wirausaha di Indonesia, mengarah pada ranah sikap dan perilaku yang merupakan objek kajian ilmu psikologi,” tutur Dwi Riyanti.

Kontribusi psikologi
Dalam pendekatan ilmu psikologi untuk menumbuhkan wirausaha, Dwi Riyanti menawarkan dua prinsip, yakni penerapan prinsip modelling dan melakukan social persuation. Prinsip modelling menyatakan, wirausaha muncul dari keluarga wirausaha, di mana anak meniru perilaku orangtuanya. Cakupan prinsip ini dapat diperluas, tak harus dari keluarga, namun bisa siapa saja yang menumbuhkan inspirasi menjadi wirausaha.

Sedang social persuation adalah memberikan persuasi untuk menumbuhkan kepercayaan menjadi wirausaha. Hal ini bisa dilakukan orangtua, guru, pemuka agama, atau pemimpin informal lainnya. Bagi Dwi Riyanti, masyarakat harus diajak memberi pandangan yang positif pada wirausaha. ”Kewirausahaan itu pendidikan life skill. Karena menjadi wirausaha bisa dari mana saja, dari hobi atau dari kemampuan yang dimiliki. Maka, sebaiknya sejak kecil, anak-anak dilatih mengolah, tak hanya menerima saja. Anak-anak harus tahu proses, tidak hanya hasil saja,” usul Dwi Riyanti. Orangtua, kata Dwi Riyanti, harus memberi pelajaran kreativitas di rumah.

Selain itu, Dwi Riyanti juga menawarkan langkah nyata, seperti membentuk cara pandang bahwa wirausaha adalah sebuah profesi yang menjanjikan dan pendidikan kewirausahaan harus dirancang untuk semua golongan ekonomi dan semua tingkatan pendidikan. ”Pendidikan kewirausahaan perlu menekankan sikap dan kemampuan mengambil risiko yang diperhitungkan. Serta perlu praktikum dalam mengelola usaha yang disesuaikan dengan kondisi ekonomi peserta didik,” urainya.

Y. Prayogo



Share on Facebook || Share on Twitter
Berita Lainnya
Full Site