Hidupkatolik.com
home / mimbar

Guru PNS

Jumat, 24 Agustus 2012 15:20 WIB
mimbar-guru-pns-hidup-katolik.jpg
HIDUPKATOLIK.com - Harapan para guru untuk mendapatkan masa depan yang lebih baik kelihatannya bakal terpenuhi. Di daerah-daerah sudah banyak guru bantu yang mengabdi baik di sekolah negeri maupun swasta diangkat menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil. Tentu selanjutnya mereka juga berharap menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Hal ini yang akan membuat mereka lebih tenteram, karena penghasilan bulanannya menjadi lebih baik, dan kelak ketika pensiun, kehidupan mereka akan lebih terjamin.

Harapan dapat diangkat menjadi Guru PNS tentu menjadi dambaan banyak guru lainnya, terutama mereka yang mengabdi di sekolah-sekolah swasta yang berada di bawah Yayasan yang keuangannya tidak terlalu kuat. Kondisi ini juga banyak dialami para guru yang berkarya di sekolah-sekolah Katolik.

Cukup banyak yayasan yang mengelola sekolah Katolik mampu memberikan yang layak bagi para gurunya. Namun tidak sedikit pula yang hanya dapat memberikan imbalan setara atau bahkan di bawah Upah Minimum Propinsi (UMP) bagi para pengabdi pendidikan ini. Keinginan untuk mendapatkan penghasilan yang layak kadang-kadang harus disingkirkan dan diminta memahami ayat-ayat kitab suci yang mengatakan: ”... upahmu besar di surga”.

Banyak guru di sekolah-sekolah di bawah Yayasan Katolik yang dapat mengerti bahkan menghayati arti kata-kata tersebut. Tetapi bukankah pada kenyataannya beban hidup yang harus mereka sangga sesungguhnya terasa begitu berat? Apalagi harga-harga kebutuhan rumah tangga yang makin hari makin membubung tidak terjangkau. Kalau kondisinya demikian tentu dikhawatirkan mereka tidak dapat melaksanakan tugasnya dengan baik. Tidak terbayangkan bagaimana bisa mengajar dengan baik kalau kebutuhan rumah tangganya tidak tercukupi. Bagaimana mungkin mengajar dengan baik kalau mau mendaftarkan anaknya sendiri masuk perguruan tinggi saja tidak punya dana?

Maksud baik pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan guru dengan mengangkat guru bantu atau guru honorer menjadi PNS ternyata tidak selalu ditanggapi dengan baik oleh para pengelola atau Yayasan di sekolah swasta Katolik. Mereka khawatir jangan-jangan setelah mereka diangkat menjadi PNS mereka kemudian menjadi tidak loyal lagi kepada yayasan, tetapi loyal kepada pemberi gaji. Bahkan dikhawatirkan mereka menjadi tidak patuh pada aturan yayasan.

Kelihatannya kekhawatiran ini sedikit berlebihan. Bukankah 20 tahunan lalu banyak guru DPK (guru PNS yang dipekerjakan di sekolah swasta) yang juga mengabdi dengan baik serta loyal pada yayasan meskipun mereka mendapat gaji dari pemerintah? Kalau tidak salah, di Indonesia bagian timur yang mayoritas beragama Kristen, sebagian guru sekolah swasta juga diangkat sebagai PNS. Semestinya pengangkatan guru honorer menjadi PNS juga disyukuri oleh para pengelola sekolah Katolik. Sebab dengan demikian biaya operasional sekolah menjadi lebih ringan. Harapan akhir tentunya biaya pendidikan di sekolah-sekolah Katolik menjadi lebih terjangkau. Kalau Yayasan belum mampu memberi kesejahteraan yang layak kepada para guru biarlah pemerintah yang memberi dengan memberikan mereka kesempatan untuk menjadi PNS.

Dengan keputusan pemerintah menaikkan anggaran pendidikan menjadi 20 persen, ada harapan bahwa peningkatan kualitas pendidikan tidak hanya dilakukan pada sekolah negeri saja, tetapi juga pada sekolah swasta yang sudah terbukti ikut berperan serta memajukan negara lewat bidang pendidikan. Tentunya uluran pemerintah kepada sekolah swasta dalam bentuk bantuan operasional maupun pengangkatan guru honorer menjadi PNS disambut dengan baik. Jangan sampai terjadi bertahun-tahun mengabdi menjadi guru tidak pernah diangkat menjadi guru tetap yayasan. Mau mengangkat jadi guru tetap yayasan tidak punya dana. Mau mendaftar menjadi guru PNS tidak boleh. Kalau nekad mendaftar jadi guru PNS dianggap tidak loyal dan dikeluarkan dari sekolah. Akhirnya akan banyak guru yang menjadi guru tetap honorer sepanjang masa. Atau guru tetap yayasan dengan gaji seadanya. Banyak pengelola sekolah Katolik yang bersikap sombong terhadap para pendidiknya. ”Kalau mau jadi guru di sekolah ini ya silakan, gajinya ya cuma segini... Kalau tidak mau ya silakan cari tempat lain saja, yang melamar jadi guru di sini buanyak...”

Sekolah Katolik merupakan salah satu ujung tombak bagi perkembangan Gereja di masa mendatang. Kalau para guru di sekolah Katolik diperlakukan dengan baik, kesejahteraan diperhatikan, tentu kinerja mereka juga akan baik. Kalau mengajarnya baik tentu akan menghasilkan anak didik yang berkualitas. Harapannya, anak didik ini akan menjadi generasi penerus Gereja Katolik di masa mendatang. Semoga Yayasan pengelola sekolah Katolik memperhatikan nasib para gurunya.

Teresya
Dosen, tinggal di Yogyakarta



Share on Facebook || Share on Twitter
Berita Lainnya
Full Site