Hidupkatolik.com
home / jendela & lembaga religius

Desa Woloan, Minahasa: Pesemaian Pertama Gereja Minahasa

Jumat, 5 Oktober 2012 11:27 WIB
jendela-pastor-rony-dahua-msc-hidup-katolik.jpg
HIDUPKATOLIK.com - Woloan adalah sebuah desa kecil yang tidak terlalu menonjol. Sama seperti desa- desa lain di Indonesia, Woloan adalah tempat yang tenang, dikelilingi oleh bukit dan persawahan.

Dalam keheningannya, Woloan menyimpan permata indah bagi Gereja, terutama Gereja Mihanasa, dan Gereja Indonesia pada umumnya. Di sinilah,
Seminari Kecil dan Seminari Tinggi Minahasa untuk pertama kali didirikan.
Walau bekas-bekas itu tidak semegah pening galan misi di Muntilan (Jawa Tengah), kenangan kejayaan Woloan masa lalu masih bisa dilihat. Salah satunya adalah bangunan gereja yang masih berdiri kokoh.

Gereja Ziarah
Kunjungan dinas pastor Jesuit dari Surabaya disambut hangat orang-orang Minahasa, tahun 1868. Kala itu, belum ada pastor yang menetap di Minahasa. Pelayanan diberikan dalam kunjungan dinas yang diadakan setahun sekali, bila diizinkan pemerintah.

20 September 1877, dalam kunjungan dinasnya, Pastor J van Meurs SJ membaptis 10 orang Woloan. Mereka adalah umat pertama Woloan. Setahun kemudian, ada 95 orang yang dibaptis. Pada 1889, umat Woloan telah mencapai 150 orang.

1886, Manado ditetapkan sebagai Stasi otonom, dan dikirimlah satu imam untuk melayani umat di Manado. Tak lama berselang, satu pastor ditempatkan di Tomohon. Gembala yang semakin dekat itu, terus membakar semangat umat di Woloan.

Tahun 1900, pastor APF van Velsen SJ menetap di Woloan. Kedatangan gembala umat ini disambut dengan penuh kegembiraan. Terlebih, pastor van Velsen belajar bahasa daerah, Bahasa Tombulu, dan mempergunakannya dalam pelayanannya.

Doa-doa dan nyanyian-nyanyian digubah dalam bahasa Tombulu. Pertemuan-pertemuan juga dibawakan dalam bahasa Tombulu itu. Penggunaan bahasa Tombulu telah menyentuh orang-orang Woloan dan sekitarnya sehingga pastor van Velsen semakin dicintai oleh umat.

Gereja Woloan dibangun pada tahun 1903. Bahan bangunan yang digunakan adalah bekas bangunan gereja Tomohon. Bangunan gereja ini masih berdiri kokoh sampai sekarang. Kerangka yang terbuat dari besi membuatnya tahan lapuk. Dindingnya pun sangat kuat, bahkan paku pun tidak bisa menembusnya.

Sekolah Guru
Salah satu perhatian Pastor van Velsen adalah masalah pendidikan. Dia merasa pendidikan adalah sarana yang tepat untuk pewartaan. Oleh karenanya, peningkatan mutu guru tidak bisa ditawar lagi. Mulai tahun 1899, kursus peningkatan mutu guru (katekis) dibuka. Kursus dilangsungkan di Taratara dan Tomohon.

1901, kursus dipusatkan di Woloan dan menerima peserta kursus dari berbagai stasi. Kursus ini dipimpin langsung oleh Pastor van Velsen. Para peserta kursus tidak hanya belajar tetapi juga mempraktikkan apa yang
di pelajarinya itu di depan umat.

Setiap kali Pastor van Velsen mengadakan kunjungan ke kring-kring, dia mengajak beberapa peserta kursus untuk ikut serta. Dalam perjalanan, Pastor van Velsen memberikan pelajaran. Ketika sampai di kring, para peserta kursus ini mempraktikkan apa yang dipelajari selama perjalanan. Mereka mengajar
agama kepada umat. Sekolah berjalan ini dikenal dengan Sekolah Gipsi.

Karena kursus ini terus berkembang, Pastor van Velsen berpikir untuk mendirikan sebuah sekolah formal. Sekolah itu kemudian dikenal dengan Sekolah Guru (Kweekschool). Sekolah dibuka Januari 1905 dengan 20 murid perdana.

Tahun itu juga, pemerintah mengakui berdirinya sekolah itu, dan memberi nama
Sekolah Pendidikan Guru RK (Kweekschool RK). Murid-murid mendapat subsidi dari pemerintah. Pastor van Velsen kemudian dibantu dua tenaga pengajar yang lain, Philipus Palit dan HDY Tinangon. Pelajaran pun mulai ditambah. Penambahan itu meliputi Ilmu Pasti, Kimia, Bahasa Belanda, Ilmu
Falak, dan lain-lain.

Lulusan Sekolah Guru ini menjadi katekis (penolong) di Minahasa. Beberapa di antara mereka menjadi guru di luar Minahasa, bahkan ada yang sampai di Sumatra. Peran mereka sangat besar ketika para pastor dan suster misionaris diinternir tentara Jepang selama pendudukan Jepang (1942-1945).

Sekarang, Sekolah Guru dan kompleksnya telah menjadi SMP Gonzaga. Kompleks yang berada tepat di depan gereja Woloan ini meninggalkan kenangan bagi sejarah Gereja Indonesia.

Bosekeanum
19 April 1919, Serikat Yesus menyerahkan misi Minahasa kepada Misionaris Hati Kudus (MSC). Pada waktu itu, Gereja Minahasa (Sulawesi) dipisahkan dari Vicariat Apostolik Batavia.

2 September 1920, Uskup Vesters MSC bersama dengan Pastor A. Brocker MSC dan Pastor Y. Klemann MSC tiba di Manado. Lima hari berselang, Uskup Vesters menerima jabatan sebagai Prefek Apostolik Sulawesi di gereja Tomohon. Sementara dua pastor itu belajar bahasa Makatana (bahasa Tombulu), uskup tinggal di Woloan.

Praktis, tahun 1921, semua Jesuit yang berkarya di Minahasa kembali ke Jawa. Ladang Tuhan di Minahasa kini dikerjakan Tarekat MSC.

1928 tidak hanya penuh makna bagi bangsa Indonesia secara umum, karena
pada tahun itu juga, Tarekat MSC membuka Seminari Kecil (Menengah) di Woloan. Seminari dibuka pada tanggal 10 Januari 1928.

Seminari Kecil ini menempati gedung-gedung bekas Kweekschool yang dipindahkan ke Tomohon pada 1924. Bangunan yang sudah agak rapuh itu direnovasi sehingga bisa ditempati lagi.

Tahun 1936, bangunan baru bagi Seminari selesai dibangun di Kakaskasen. Maka, tahun itu, Seminari Kecil Woloan berpindah ke Kakaskasen.

Ketika itu, Seminari Kecil Woloan telah menghasilkan lulusan pertama. Para misionaris pun mendirikan Seminari Tinggi di Woloan. Dalam waktu yang sama, mereka mempersiapkan tempat di Kakaskasen.

Seminari Tinggi Woloan menempati sebuah rumah milik keluarga Boseke.
Banyak orang menyebut Seminari Tinggi itu sebagai Bosekeanum. Bosekeanum tidak berumur panjang, karena beberapa bulan berselang, Seminari Tinggi Kakaskasen telah siap. Para filosofan pun dipindahkan dari
Woloan ke Kakaskasen.

Pendudukan Jepang kembali menelan korban. Seminari Kakaskasen harus dikosongkan. Para pastor diinternir dan para seminaris berdiaspora.

Setahun setelah Jepang meninggalkan tanah air, seminari kembali dibuka di Woloan karena Kakaskasen dipugar. Kem bali, Woloan menjadi tempat pesemaian bagi calon gembala umat Allah Minahasa.

Selesai pemugaran, 1948, Seminari Kecil dipindahkan untuk kedua kali dari Woloan ke Kakaskasen. Tujuh tahun berselang, Seminari Tinggi didirikan di Pineleng, sebuah desa yang terletak antara Tomohon dan Manado.

Rumah Woloan
Selain Sekolah Guru dan Seminari, Woloan juga memiliki Sekolah Pertukangan. Bidang keterampilan pertukangan sangat maju. Kegiatan ini melatih tenaga-tenaga pria dewasa dan kaum muda, dipimpin seorang yang cukup ahli, Br Van Lidon MSC.

Rumah panggung Sulawesi dibangun orang-orang Woloan. Kegiatan itu disambut baik orang Woloan. Banyak orang yang kemudian mendirikan usaha berjualan rumah panggung.

Rumah panggung Woloan terkenal sampai keluar Minahasa. Orang Minahasa menyebut nya sebagai rumah Woloan. Sampai saat ini, banyak orang memesan rumah Woloan ini.

Rumah Woloan dijajakan di sepanjang jalan desa Woloan. Ketika memasuki desa Woloan, orang akan disambut dengan banyak rumah panggung yang berjejer di pinggir jalan. Rumah itu tidak ditempati, tetapi untuk dijual. Rumah panggung yang terbuat dari kayu itu dapat dibongkar pasang.

Bila ada orang yang membeli, rumah itu dibongkar dan dipasang kembali di tempat yang dikehendaki pembeli. Pembeli tidak hanya berasal dari Mihanasa. Banyak dari mereka berasal dari luar Minahasa, bahkan luar Sulawesi.

Bentuknya yang eksotis membuat orang senang menempatkan rumah panggung di tempat-tempat rekreasi, seperti di kawasan Puncak, Jawa Barat. Beberapa rumah panggung khas Woloan dapat dijumpai di sana.

Paul DF


Share on Facebook || Share on Twitter
Berita Lainnya
Full Site