Hidupkatolik.com
home / kesaksian

Siluet Kasih Sayang di Dalam Biara

Jumat, 5 Oktober 2012 09:01 WIB
saksi-sr-lucia-adm-dan-pasien-hidup-katolik.jpg
HIDUPKATOLIK.com - Biarawan/biarawati yang sudah berjasa dan berperan dalam pelayanan di masa mudanya, membutuhkan banyak orang seperti Sr Lucia ADM untuk merawat dan mendampingi mereka dalam masa senjanya.

Setamat pendidikan di SMU di Muntil­an, Agatha Sapariyah, dara kelahiran Magelang 5 Juli 1963, bekerja sebagai pembantu perawat di Rumah Sakit Palang Biru Kutoarjo, Jawa Tengah. Namun Tuhan mempunyai rencana-Nya sendiri pada Agatha muda. Rencana yang sama sekali tidak ada dalam bayangannya.

Suatu hari dia harus merawat Sr Dolorosa ADM dan Sr Lucia ADM (keduanya kini sudah almarhum) yang dirawat di rumah sakit itu. “Hatiku tersentuh. Dalam hati kubertanya-tanya, siapa nanti yang mengganti mereka menjadi penerus suster-suster ADM?” kata Suster Lucia ADM (47) mengenang panggilannya.

Lalu muncullah tekad dalam jiwa Agatha yang sedang mencari identitas itu. Dia lalu memberanikan diri untuk mengatakan pada suster kepala biara untuk ikut rekoleksi aspiran­ selama satu tahun untuk lebih mengenal tentang suster ADM dan karyanya. Setelah rekoleksi itu hati Agatha siap untuk mengabdikan diri menjadi suster Amal Kasih Darah Mulia (ADM).

Agatha adalah anak sulung keluarga. Dia adalah tulang punggung keluarga. Anak yang sangat diharapkan setelah kakak-kakaknya meninggal karena sakit. Karena itulah orangtuanya berat melepas Agatha untuk mengabdikan diri pada Tuhan. “Bakti saya pada orangtua tidak hanya dengan uang dan materi. Yang juga penting adalah doa,” kenangnya waktu itu.

”Saya percaya Tuhan pasti akan merawat dan tetap memberi kehidupan,” Agatha meyakinkan dirinya.

Tersembunyi namun berarti
Waktu tak berhenti berputar. Tahun 1991 Agatha masuk postulan. Dia memilih menggunakan nama Suster Lucia (dari Santa Lucia yang berarti cahaya). Alasan pemilihan nama itu karena dua hal. Pertama, dia terkesan sekali saat merawat Suster Lucia (almarhum) yang memiliki pribadi mengesankan dan humoris. Alasan kedua, Santa Lucia adalah santa yang terkenal tapi tersembunyi. Suster Lucia bertekad bahwa tugas perutusannya bukanlah mencari kepopuleran dan kebesaran, melainkan tersembunyi namun berarti.

Ia pun punya tekad untuk tetap membiara, apa pun yang terjadi. “Tidak pernah
terbersit dalam benak saya untuk keluar dari biara. Saya menyadari, baik berkeluarga maupun berselibat selalu ada kesulitan dan tantangan.” Dalam benaknya, terpateri katakata Sr Theresia ADM, pimpinan komunitas ADM, “Kalau sudah mengambil keputusan, harus selalu melangkah ke depan, jangan menoleh ke belakang.” Kata-kata ini selalu meneguhkannya saat dia bimbang dengan panggilannya.

Melayani dengan gembira

Cinta kasih itu selalu bergembira. (I Korintus 13:4-13). Ayat Kitab Suci ini selalu menjadi pedomannya. Itulah sebabnya mengapa Sr Lucia ADM selalu bahagia menjalani hari-harinya sebagai perawat suster lansia di komunitas Susteran Amal Kasih Darah Mulia St Yoseph Gombong, Jawa Tengah.

Aktifitas sehari-hari Sr Lucia adalah merawat dan mendampingi suster-suster lansia dan yang sakit. Tangannya bergerak penuh kasih dan terampil memandikan, menyuapi, dan membersihkan kamar suster-suster yang dia rawat. Dia juga bertugas mengantarkan suster yang berobat di rumah sakit. Suster yang sabar dan keibuan ini tak pernah bosan karena meyakini bahwa itulah persembahan hidupnya pada Yesus.

Rutinitas itu Sr Lucia jalani dengan gembira. Seringkali ia mencoba menghibur hati suster-suster sepuh itu dengan meledek (menggoda) agar suster itu tertawa. Salah satu ledekan-nya ketika salah satu suster sepuh selalu menanyakan, “Suster Lucia, apakah saya sudah makan?” Ia selalu menjawab,
“Kan tadi suster sudah makan telur mata sapi. Kalau suster makan lagi, sapinya nggak bisa melihat dong, karena matanya semua sudah dimakan suster,” katanya sambil tertawa.

Sr Lucia pandai menggambar. Bakat itulah yang ia salurkan dengan membuat kartu-kartu ucapan bergambar. Kartu-kartu itu ia berikan kepada teman-teman suster yang berulang tahun atau merayakan pesta nama. Hobi
menggambar itulah yang membuatnya sejenak membebaskannya dari rutinitas
yang kadang-kadang membosankan.

Dimulai dari rumah
Tahun 2003 Sr Lucia mengucapkan kaul kekal. Dia menyadari kaul ini bukanlah akhir tapi awal dari tugas perutusannya sebagai suster. Maka di awal hari, Sr Lucia memulainya dengan senam yoga. Senam itu bermanfaat agar sepanjang hari pikiran Sr Lucia selalu jernih, hati gembira, dan mampu menahan emosi.

Tak terbersit sekalipun di hatinya rasa iri kepada suster-suster yang berkarya di luar rumah. “Karena Tuhan telah memberikan keunikan, keistimewaan dan kelemahan pada kita masing-masing,” ujarnya.

Inilah tugasnya, tugas yang sangat sederhana. Menyiapkan baju yang rapi dan bersih bagi suster-suster yang hendak bepergian. ”Dengan mereka tampil rapi, saya merasa sangat bahagia karenanya,” kata Sr Lucia sambil tersenyum. Bila bertemu orang di jalan dan ditanya “Suster bekerja dimana?” Ia akan menjawab, “Di rumah,” dengan senyum ringan. Dia tak merasa minder dengan karyanya yang di rumah saja. Bukankah Bunda Teresa berkata bahwa kasih
itu dimulai dari rumah?

Siluet kasih sayang
Bila Sr Lucia harus mengerjakan tugas sendirian, dalam doa dia meminta Yesus menemaninya. Melalui kontak mata, genggamantangan hangat, suara yang peduli, atau sebagaimana karunia yang Sr Lucia dapatkan, sebuah hati untuk melayani suster-suster lansia dan sakit, ia merasakan Yesus berdiri di sampingnya. Ia merasakan Yesus berkarya dan terus berkarya lewat pekerjaan-pekerjaan rumah tangga yang sederhana. Karena itu, dia bercita- cita akan selalu merawat suster-suster sepuh itu hingga akhir hayatnya. Hingga
Yesus memanggil-Nya kembali. Sr Lucia mendapat hadiah yang Yesus siapkan
yaitu kebahagiaan karena telah menemukan panggilan hidupnya.

Laksana cahaya siluet yang menghiasi langit, Sr Lucia berkarya dengan hati yang penuh cinta. Hati yang sama akan tetap ada setelah mentari terbenam. Dalam karyanya yang tersembunyi, Santa Lucia pastilah merasa bangga dengan suster yang memakai namanya ini.

“Tuhan yang mengawali panggilan ini, Tuhan juga yang akan menyelesaikan,” itulah sebaris doa yang Sr Lucia ucapkan setiaphari untuk meneguhkan panggilannya.

Ivonne Suryanto



Share on Facebook || Share on Twitter
Berita Lainnya
Full Site