Hidupkatolik.com
home / jendela & lembaga religius

Kursus "Theresia Saelmaekers" : Peduli Perempuan Putus Sekolah

Selasa, 20 November 2012 10:56 WIB
jendela-kursus-ts-hidup-katolik.jpg
HIDUPKATOLIK.com - Di satu sudut Kota Palembang, Sumatra Selatan, terdapat bangunan bercat hijau muda. Letak bangunan ini masih satu kompleks dengan Biara Kongregasi Suster-Suster Santo Fransiskus Charitas (FCh).

Gedung yang letaknya berdekatan dengan Rumah Sakit Myria dan Panti Wredha Dharma Bhakti ini dipakai sebagai tempat Kursus dan Pelatihan Pramubayi, Anak, dan Lansia “Theresia Saelmaekers”. Nama Theresia Saelmaekers yang dipakai sebagai nama gedung ini diambil dari nama pendiri Kongregasi FCh, Theresia Saelmaekers. Di tempat inilah, para calon pengasuh bayi, anak, dan lansia yang semuanya perempuan menimba ilmu.

Karya ini berawal dari keprihatinan yang dirasakan para suster FCh terhadap kaum muda putri yang tidak dapat melanjutkan pendidikan di sekolah, karena kekurangan biaya. Situasi tersebut mendorong para suster untuk membuka sebuah tempat pendidikan yang dapat membantu para wanita muda ini merangkai masa depan yang lebih baik. Mulanya, tempat pendidikan ini didirikan di tiga wilayah, yaitu daerah Pasang Surut, Belitang, dan Km 7 Palembang. Saat itu, namanya “Kursus Dinamika Keterampilan Remaja Putri”.

Pada 1987-1992, tempat pendidikan ini mengalami perkembangan. Namun, karena berbagai kendala, seperti kurangnya sarana prasarana dan biaya operasional, akhirnya karya ini dihentikan. Pada 1994, Kongregasi FCh kembali membuka karya pendidikan ini. Syarat yang dikenakan bagi mereka yang berminat untuk bergabung adalah perempuan, tamat SLTP/SLTA, dan sehat jasmani dan rohani, dengan persyaratan teknis dan administratif, seperti foto copy ijazah yang telah dilegalisir, tes kesehatan, surat izin orangtua, dll.

Menurut Sr M. Tatiana FCh yang ditunjuk sebagai Penanggung Jawab Rumah Theresia Saelmaekers sejak Mei 2012, awal pengelolaan tempat pendidikan ini sangat memprihatinkan. “Saat itu, kami hanya memiliki delapan kursi dan masih menggunakan gedung bekas Sekolah Pendidikan Perawat (SPK),” ujarnya. Situasi ini memacu semangat Sr Tatiana untuk mengusahakan pengembangan dalam pengajaran serta sarana prasarana. Salah satunya, mengajukan proposal untuk mencari dana ke yayasan yang menangani bidang pemberdayaan anak di Amerika Serikat. Usahanya berhasil. Bantuan yang diperoleh dipakai untuk membangun tempat pendidikan dan membenahi semua peralatan penunjang.

Tempat kursus dan pelatihan ini berada di bawah naungan Yayasan Pendidikan Karya Kasih Palembang, satu yayasan dengan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (Stikes) Perdhaki Charitas, Palembang. Untuk proses kursus dan pelatihan, Sr Tatiana mendatangkan beberapa guru untuk membantu. Sebagian dari mereka adalah dosen Stikes Perdhaki Charitas Palembang. Pelajaran yang dijalani selama enam bulan ini bukan hanya berkaitan dengan perawatan bayi, lansia, dan orang sakit. Para siswa juga belajar tentang tata laksana memasak, menjahit, etiket, budi pekerti, psikologi perkembangan, gizi, salon, bahasa Inggris, dan komputer. Selain itu, nilai-nilai dasar seperti tanggung jawab dalam kerja harian, disiplin, dan semangat kesederhanaan pun diajarkan kepada mereka.

Selama masa kursus, biaya pendidikan sebesar Rp 600.000 per bulan ditanggung Kursus dan Pelatihan Pramubayi, Anak, dan Lansia “Theresia Saelmaekers”. Baru setelah mendapat pekerjaan, para siswa boleh mengangsur atau membayar langsung lunas. Untuk memperlancar pembayaran ini, Theresia Saelmaekers menerapkan sistem Ikatan Dinas.

Biasanya, setelah masa pendidikan enam bulan, para siswa yang sudah dianggap mampu dikirim ke tempat kerja yang sudah menanti. Mereka dikirim ke keluarga-keluarga yang membutuhkan jasa mereka. Kebanyakan keluarga kalangan menengah ke atas. Ada juga yang ditempatkan di panti jompo, klinik, dan rumah sakit. Mereka bekerja dengan sistem kontrak. Hal ini cukup membantu, karena mereka berada di bawah perlindungan hukum. Dengan demikian, persoalan-persoalan terkait masalah hubungan kerja bisa teratasi.

Meski demikian, tidak serta merta semua persoalan selesai. Banyak tantangan yang dihadapi siswa, yang juga menjadi keprihatinan Sr Tatiana. “Saya pernah berhadapan dengan persoalan yang tidak mudah, karena siswa yang dikirim ke sebuah keluarga mengaku tidak digaji selama sembilan bulan,” kisahnya. Kadang ada juga pengasuh yang diperlakukan semena-mena oleh majikannya. Namun, tidak semua mengalami hal ini. “Ada beberapa yang justru terpanggil menjadi biarawati dan melanjutkan pendidikan hingga jenjang S-2,” lanjutnya.

Sr Tatiana mengisahkan, banyak yang membutuhkan jasa para siswa yang sudah lulus. Kadang-kadang jumlah pemesan tidak seimbang dengan jumlah siswa yang sedang belajar atau yang sedang dipersiapkan. Saat ini, tempat ini telah meluluskan 36 angkatan dengan jumlah keseluruhan 676 siswa.

Yulia FCh


Share on Facebook || Share on Twitter
Berita Lainnya
Full Site