Hidupkatolik.com
home / tajuk

Pemimpin Perempuan

Minggu, 22 Maret 2009 09:27 WIB
tajuk-female-leader-hidup-katolik.jpg
HIDUPKATOLIK.com - Kebanyakan perempuan yang ada di Injil tampil dalam keadaan ’terluka’: tersingkir secara sosial, bukan warga utama, sakit, berdosa, bahkan tak bernama. Dalam situasi yang tidak menguntungkan itu, kebanyakan perempuan - berkat perjumpaan dengan Yesus - kemudian mampu bangkit menjadi perempuan yang terhormat dan memainkan peranan penting dalam karya keselamatan Allah. Mereka menjadi leader, pemimpin.

Lihatlah perempuan Samaria yang tampil di Injil Yohanes (4:1-42). Ia tidak disebutkan namanya dari awal hingga akhir. Hidupnya bisa diduga muram. Ia dikatakan ’kawin-cerai’ sebanyak lima kali. Tetapi, setelah perjumpaan dengan Yesus, ia praktis membawa dan memimpin banyak orang pada Yesus.

Diceritakan, ia pergi sendirian ke pinggiran kota untuk mengambil air. Di bibir sumur, ia memperoleh pencerahan batin setelah ’berdiskusi’ dengan Yesus. Penampilan perempuan Samaria ini mengekspresikan potret sosial pada masanya (dan masih banyak berlangsung hingga sekarang ini) yang ditandai dengan pemisahan dan pertentangan: superior/inferior, laki-laki/perempuan, berkuasa/tak berdaya.

Di balik ketidakberdayaannya itu, cara perempuan ini bereaksi menampilkan kepemimpinan alternatif. Mengapa alternatif? Dia mencairkan kebekuan struktur masyarakat. Dia menerobos kebudayaan tabu dalam masyarakat. Bayangkan, seorang perempuan ngobrol akrab dengan laki-laki yang bukan muhrimnya di tempat yang sangat eksklusif. Sampai para murid pun berbisik-bisik dan mulai bergosip satu sama lain. Keberanian sang perempuan untuk mendobrak menjadi modal dasar.

Dalam perjumpaan ini, perempuan Samaria tadi mendekati Yesus dan mulai membangun dialog imani dengan-Nya. Terlepas bahwa dirinya seorang perempuan ’tak bernama’ dan sangat sulit menempatkan diri dalam struktur masyarakat. Ingat, dia ’kawin cerai’ berkali-kali. Dan dikatakan, dia hidup dengan seorang laki-laki yang tidak bisa dianggap sebagai suaminya. Namun, dia tetap maju.

Perempuan ini dengan sikap terbuka mendengarkan ajaran Yesus. Sikap keterbukaannya telah mengubah hidupnya. Dia pergi ke kota dan mewartakan Kabar Gembira pada orang banyak. Jadi, berlangsung perubahan yang menarik dalam diri perempuan ini. Dia yang semula lemah dan tidak memiliki otoritas apa pun, sekarang memiliki kekuatan. Seakan dia menjadi orang yang diutus oleh Yesus sendiri untuk mewartakan pada orang banyak.

Uniknya, keberanian sang perempuan Samaria ini mengalir dari sikap sederhana dan rendah hati. Kesederhanaan dan kerendahan hati menjadi pencerminan bahwa ia menyadari sebagai orang lemah dan berdosa. Ia tidak menolak realita ini. Namun, kelemahan ini tidak membuatnya macet dan tertidur. Dia tetap merasa bahwa Yesus memanggil dalam keberdosaannya.

Kepemimpinan alternatif seorang perempuan – dengan demikian – tampil dalam prinsip ’ia kuat dalam kelemahannya’. Ini hanya mungkin bila secara teguh ia mampu keluar dari egoismenya sendiri. Orang lain bersedia untuk dipimpin hanya bila mereka merasakan bahwa sang pemimpin secara konsisten memperjuangkan nilai-nilai kebaikan bersama. Perempuan Samaria terasa dan memancarkan integritas karena Yesus menjadi tujuan pokok dalam kepemimpinannya.

Ketika perempuan Samaria ini berkata kepada orang banyak – yang kemungkinan sebagian besar laki-laki – ”Mari, lihat”, dia mengambil sikap dan inisiatif untuk memimpin. Caranya memimpin juga sangat taktis. Dia tidak memerintah orang untuk mengikuti dia. Dia mengajak orang untuk bertemu dan melihat Yesus. Dan ajakannya sangat efektif. ”Banyak orang Samaria dari kota itu telah menjadi percaya kepada-Nya karena perkataan perempuan itu” (4:39a).

Untuk perempuan Katolik yang hidup pada zaman sekarang, kisah perempuan Samaria ini bisa memberikan banyak pelajaran berharga. Banyak perempuan Katolik (dan agama lain) memainkan peranan signifikan di tengah-tengah masyarakat yang sangat patriarkal ini.

Mereka membentuk dan mengubah wajah Gereja menjadi lebih ceria dan ramah. Mereka menerobos berbagai pemisahan laki-laki/perempuan, kuat/lemah, menindas/ditindas. Banyak di antara mereka berkerja secara diam-diam. Mereka bekerja dengan menanggalkan kepentingan sendiri. Seakan membenarkan perempuan Samaria tadi, mereka kuat dalam kelemahannya, mereka terpanggil dalam keterpurukannya. Mereka kuat karena Yesus dan kebaikan yang lebih tinggi yang sedang mereka perjuangkan.

Redaksi



Share on Facebook || Share on Twitter
Berita Lainnya
Full Site