Hidupkatolik.com
home / jendela & lembaga religius

RSK Puri Nirmala: Rumah Impian Pasien yang Sembuh

Jumat, 23 November 2012 11:48 WIB
jendela-rsk-puri-nurmala-hidup-katolik.jpg
HIDUPKATOLIK.com - Di taman kecil yang asri, ada beberapa kursi di pinggirnya. Orang-orang duduk di kursi-kursi itu, ada juga yang di teras, namun di antara mereka tak ada yang tegur-sapa.

Mereka tampak sibuk dengan dirinya sendiri. Bermain sendiri, terkadang tertawa atau tersenyum sendiri, atau sekadar duduk termenung dengan pandangan kosong.

Itulah suasana taman tempat orang-orang yang sedang menderita sakit jiwa disembuhkan di Rumah Sakit Khusus (RSK) Puri Nirmala Yogyakarta, yang berdiri sejak 1970.

Tidak setiap orang boleh masuk berbaur dengan mereka. Taman dan halaman tempat para pasien itu tak pernah lepas dari kunci besar yang selalu terkunci. Ada pintu kecil yang merupakan satu-satunya pintu untuk masuk taman rumah sakit yang terletak di tengah Kota Yogyakarta ini.

Taman itu dibatasi oleh pagar besi. Sewaktu-waktu, petugas bisa mengamati mereka dengan leluasa. Namun, taman itu tidak bisa terlihat dari luar, karena terbatasi oleh bangunan untuk kantor para perawat atau dokter.

“Ini untuk menjaga agar mereka jangan sampai keluar atau bahkan mengamuk. Sengaja agar tak bisa dilihat dari luar, karena mereka bukan pajangan untuk ditonton,” ujar Direktur RSK Puri Nirmala Raden Antonius dr Kresman, SpKJ.

Serang siapa saja
Kresnam berujar, sakit jiwa bisa menyerang siapa saja tanpa pandang status sosial. Tak urung, pasien rumah sakit yang tepat berdiri di sebelah timur Kraton Pura Pakualaman Yogyakarta ini datang dari beragam status, entah itu dosen, pejabat, dokter, pengusaha, bahkan ada pula suster. Mereka berasal dari berbagai penjuru Indonesia, dari Aceh, Kalimantan, Sulawesi, Sumatera, Jakarta, Bandung, Surabaya, Irian Jaya, Bali, dan sekitar Yogyakarta.

RSK Puri Nirmala dikenal orang, bukan karena pasang iklan di media masa atau televisi, namun lebih dari mulut ke mulut. Selain itu, rumah sakit sering mengadakan lokakarya, seminar, atau penyuluhan di tengah-tengah masyarakat, sehingga merupakan iklan yang sangat bagus.

“Lebih-lebih, saat kami mengadakan penyuluhan agar orang sakit jiwa tak boleh dipasung di Kulon Progo Yogyakarta dan kami mengimbau untuk diserahkan kepada kami. Tak urung, ada puluhan orang sakit jiwa yang diserahkan kepada kami dan kami pun berusaha untuk menyembuhkannya,” ujar lulusan Fakultas Kedokteran UGM, tahun 1964 ini.

Bagi Kresman yang juga dosen Universitas Negeri Yogyakarta ini, orang yang bermental lemah mudah sakit jiwa. Penyebab lain adalah masa kanak-kanak kurang bahagia dan benturan jiwa. Alhasil, ada yang sakit jiwa karena keturunan, namun ada yang karena pengaruh lain.

Dijelaskan lebih lanjut oleh dokter spesialis kesehatan jiwa ini, bahwa dewasa ini, di usia 16 tahun, remaja sudah terserang stres. Saat usia dewasa diserang sakit jiwa. Hal ini terjadi karena ada fasenya, di mana dari fase remaja menuju dewasa, ada fase keguncangan jiwa, jika tak sanggup akan mengakibatkan stress. “Akibatnya, anak muda itu mudah stress,” urai Kresman.

Karena itu, pendampingan sangat penting bagi remaja. Tanda-tanda remaja mulai stress, misalnya merokok, mengonsumsi ganja, mabuk. “Kalau itu terus-menerus baru bisa sakit jiwa,” lanjutnya.

Stres merupakan penderitaan batin, belum sakit jiwa. Orang bisa stres mungkin karena ditinggal mati suaminya, tidak naik kelas, kehilangan harta-benda, kehilangan anak, dan sebagainya. Sedang stres yang paling berat diakibatkan karena ditinggal atau kehilangan sesuatu yang paling dicintai.

“Stres baru menjadi sakit jiwa manakala nilai stresingnya mencapai 300 nilai. Misalnya, ditinggal mati suami nilai 100, ditinggal anak 100, rumah hancur 50, uang habis 50, akhirnya menjadi gila,” paparnya.

Rumah impian
RSK Puri Nirmala yang bernaung di bawah Yayasan Puri Nirmala, merupakan rumah sakit yang tergolong kecil dan sederhana. Hanya ada beberapa karyawan yang bekerja di situ. Sekalipun setiap hari bersentuhan dan mengurusi orang-orang yang sakit jiwa, namun ini bukan pekerjaan sia-sia.

Kresman bekerja di RSK Puri Nirmala sejak 1974. Ia menghayati pekerjaan itu sebagai sebuah kehormatan karena sebagai sarana untuk memanusiakan kembali manusia yang terguncang jiwanya.

Karena itulah, ia tak pernah bosan. Kesetiaannya dilandasi semangat kemanusian belaka, sebab merawat orang sakit jiwa dan kemudian sehat itu sangat membahagiakannya.

“Orang depresi ingin bunuh diri dan tak jadi bunuh diri, atau orang yang awalnya sakit jiwa, lalu bisa menjadi pegawai, ini sangat membahagiakan,” ujarnya tersenyum.

Karenanya, bersama perawat dan dokter-dokter lainnya, sebagai pimpinan, ia selalu menekankan bahwa pekerjaan itu sama sekali bukan pekerjaan sia-sia.

Banyak pasien yangt sembuh dan bekerja di RSK Puri Nirnala. Mereka bekerja sebagai tukang kebun atau tukang bersih-bersih. “Sebelumnya, mereka itu pasien di sini. Setelah sembuh, mereka tak mau pulang. Bahkan, ada yang sudah pulang, namun kembali lagi di sini karena tak betah di rumah,” ujar lulusan SMA de Britto Yogyakarta, tahun 1951 ini.

Pekerjaan-pekerjaan di bagian kebun, taman, tukang bersih-bersih, dan cuci sengaja diperuntukkan bagi mantan pasiennya. Di antara mereka, ada yang sudah tinggal lebih dari 10 tahun sampai sekarang.

Bagi mantan pasien yang tetap tinggal di rumah sakit itu, RSK Puri Nirmala bagaikan rumah impian mereka. Hal ini sangat dimungkinkan, karena seluruh pasien mendapatkan perhatian, baik secara jasmani maupun rohani.

Mereka disapa, diterima, diperlakukan layaknya manusia. Pelayanan seperti itu jarang dilakukan oleh keluarga mantan pasien di rumah, sehingga ketika kembali ke rumah, mereka tak kerasan. Mereka kembali ke rumah sakit dan tinggal di sana.

Ada jalan
Sebagai rumah sakit swasta, hambatan dan rintangan datang bertubi-tubi. Rumah sakit yang telah lama menerapkan subsisi silang ini, terkadang tetap tak bisa menutup biaya operasional dan gaji karyawannya.

Pasien yang datang dari kalangan kurang mampu, tak sanggup melunasi biaya perawatan. Menunggak biaya perawatan adalah hal yang biasa dijumpai. Bahkan, ada juga keluarga yang sengaja pindah alamat untuk menghilangkan jejak atau pasien sengaja tak diambil.

“Tunggakan mulai dari Rp 5 juta sampai Rp 10 juta. Dalam situasi demikian, kami harus pandai-pandai mengelola diri dan sepenuh-penuhnya berserah pada penyelenggaraan Tuhan semata. Berdoa sambil merawat pasien merupakan hal yang biasa di sini,” urai Kresman.

Kepada seluruh karyawannya, sekalipun sering berada dalam situasi pas-pasan, ia terus menekankan untuk bekerja dengan tulus dan baik. “Niscaya rezeki akan datang sendiri,” tandasnya.

Namun, bukan tanpa upaya untuk menagih uang yang tertunggak dengan melayangkan surat atau lewat telepon. Banyak alasan yang mereka kemukakan: ada yang berjanji, namun tak pernah ditepati, atau bahkan pindah alamat sehingga pihak rumah sakit kehilangan kontak.

Dari doa yang terus bergema dalam setiap pelayanan, Tuhan pun memberikan pertolongan demi keberlangsungan rumah sakit tersebut.

Saat terjadi kelebihan pasien yang sudah sembuh, yang tak kunjung diambil keluarganya, rumah sakit mendapat tawaran kerjasama dengan Dinas Sosial. Kemudian, para pasien ditempatkan di panti-panti sosial dan diberi pendidikan keterampilan.

RSK Puri Nirmala pun bekerjasa sama dengan bruder-bruder Karitas di Purworejo. Kelebihan pasien bisa dikirim ke tempat para bruder. Ada juga pasien yang dirawat di RSJ Magelang dan tidak dipungut biaya.

Nyatanya, rezeki selalu datang. Entah dari keluarga pasien yang membayar lebih sebagai ungkapan terima kasih, atau dari sumber-sumber lain yang tak terduga. “Puji Tuhan, selalu ada jalan. Ini bukan kebetulan, “ ungkap Kresman lagi.

Simon Sudarman



Share on Facebook || Share on Twitter
Berita Lainnya
Full Site