Hidupkatolik.com
home / sajian utama

Doa Ziarah Kerep dan Sendangsono

Minggu, 17 Mei 2009 07:04 WIB
sajut-gm-kerep-hidup-katolik.jpg
HIDUPKATOLIK.com - Setiap malam Jumat, guru SMPN II Kartasura, F.X. Tri Suranto berziarah ke Gua Maria Kerep, Ambarawa. ”Doa-doa kami pada umumnya terkabul,” ungkap pria yang berziarah didampingi istri dan seorang cucunya, akhir April lalu.

Tri mengakui, doa-doanya yang ter­­­kabul adalah keberhasilan studi anaknya. Bahkan, tak lama berselang, anaknya memperoleh peker­­­jaan di Surabaya. Selain itu, ia memperoleh berkat dalam usaha kateringnya. ”Dan, yang lebih penting, kami dianugerahi keselamatan dalam keluarga,” tegasnya.

Lain lagi pengakuan Cicilia Sri Lestari, warga Tlogosan Semarang. Ibu ini hendak berdoa selama tujuh hari berturut-turut di Gua Maria Kerep karena dililit persoalan hutang. ”Semua itu terjadi karena saya kurang tepat mengelola uang,” aku pemilik salon dan pengusaha katering ini terus terang.

Namun, baru lima hari berdoa Koronka di Gua Kerep, wanita berusia 53 tahun ini mulai memperoleh titik terang untuk mengatasi belitan persoalannya. Cicilia mengaku kerap memperoleh keajaiban dengan berziarah ke Gua Maria Kerep. ”Dulu, keluarga saya nyaris pecah, tetapi kemudian bisa rukun kembali,” akunya seraya bersyukur.

Sementara guru SMAN I Ambarawa, Theresia Pujiah datang ke Gua Kerep di penghujung April 2009 untuk berdoa Novena. Ujud yang disampaikan Pujiah agar putrinya Veronika Yuli Anggraeni yang duduk di bangku kelas IX SMP Pangudi Luhur Ambarawa dan tengah menghadapi Ujian Nasional bisa lulus dengan angka cemerlang. ”Tahun 2004, anak pertama saya yang hendak menempuh Ujian Nasional juga saya doakan di sini hingga lulus dengan baik,” kenang Pujiah yang tinggal di Bedono, Ambarawa.

Tri Suranto, Cicilia Sri, dan Theresia Pujiah hanyalah sebagian dari ribuan peziarah yang membanjiri Gua Maria Kerep. Menurut Manajer Operasional Gua Maria Kerep, Effifani Wishnu Wasis Indahono (31), selama Bulan Maria jumlah peziarah di tempat itu bakal mencapai belasan ribu orang! ”Sedangkan pada bulan-bulan lainnya, angka pengunjung berkisar antara 5.000 sampai 7.000 peziarah. Bulan Mei biasanya mencapai dua kali lipat,” ungkap Wishnu saat ditemui di ruang kerjanya, Sabtu, 25/4/2009.

Sedangkan pada bulan-bulan selain Mei dan Oktober, Gua Maria Kerep dikunjungi oleh peziarah-peziarah lokal. Mereka kebanyakan datang dari Salatiga, Magelang, Solo, Semarang, dan dari Ambarawa. ”Sedangkan peziarah dari luar kota, seperti Jakarta, Tangerang, Bogor, Bandung, dan Surabaya biasanya berkunjung ke tempat ini pada bulan Maria, hari-hari besar Katolik, serta musim libur sekolah,” lanjut Wishnu.

Cukup strategis
Lokasi Gua Maria Kerep cukup strategis, hanya sekitar satu kilometer dari Terminal Ambarawa, Jawa Tengah. Jarak itu cukup nyaman ditempuh dengan jalan kaki, naik ojek, andong, mobil pribadi maupun angkutan umum berwarna biru jurusan Pasekan, yang hanya memungut ongkos Rp 1.500 per penumpang. Jika hendak naik ojek dari terminal, ongkosnya berkisar antara Rp 2.000 sampai Rp 3.000.

Gua Maria Kerep dilengkapi dengan sarana jalan salib, yang bisa ditempuh hanya sekitar 100 meter saja. Usai jalan salib, biasanya peziarah beradorasi di ruang khusus adorasi atau bersimpuh di kaki patung Maria. Berbagai fasilitas disediakan di Gua Maria Kerep. Antara lain, kemah rohani, rumah kaca, camping ground, serta gedung serba guna dan gedung untuk rekoleksi berupa hall.

Wishnu menjelaskan, banyak umat Kristen Protestan tertarik datang ke Gua Maria Kerep dan memanfaatkan bermacam-macam fasilitas yang ada. Pada umumnya mereka memanfaatkan fasilitas ruangan untuk Ibadat Padang, sebagian lainnya menggunakan ruangan untuk pesta pernikahan. ”Tetapi, kami tidak menempatkan mereka di area gua Maria,” ungkap Wishnu.

Pengurus administrasi Gua Maria Kerep, V. Septiarso mengemukakan bahwa persentase yang datang ke Gua Maria Kerep cenderung lebih banyak umat Kristen Protestan dibandingkan umat Katolik.

Daya tarik lainnya adalah panorama yang indah dan udara yang sejuk, membuat Gua Maria Kerep tak pernah sepi pengunjung. Sejauh ini kawasan Kerep relatif nyaman dan aman. ”Setiap hari, area ini dijaga empat petugas satpam dan keseluruhannya ada 12 tenaga satpam,” kata Septiarso.

Di tempat peziarahan seluas empat hektar ini juga tersedia areal parkir mobil. Sementara di seberang jalan Gua Maria Kerep ada sekitar 44 pedagang yang siap menjajakan barang-barang dagangannya. Mereka adalah penjual benda-benda adorasi dan bunga-bunga segar yang didatangkan dari Bandungan dan juga penjual makanan. ”Penjual cinderamata rohani dan makanan di sini buka selama 24 jam penuh,” tandas Wishnu.

Sejak dua tahun belakangan, di sekitar Gua Maria Kerep muncul berbagai penginapan dan vila yang menyediakan fasilitas mewah bagi pengunjung, seperti pesawat televisi dan air conditioner. ”Sewa satu kamar yang terdiri dari empat tempat tidur Rp 250.000 per hari,” ujar salah seorang warga yang tinggal di sekitar penginapan tersebut.

Meski kawasan gua Maria senantiasa ramai didatangi pengunjung, entah pagi, siang, maupun sore, Wishnu tak sepakat jika Gua Maria Kerep dijadikan objek wisata kelak. ”Ini tempat peziarahan. Kalau dibiarkan menjadi tempat wisata, kesakralannya sebagai tempat ziarah jelas akan terganggu,” ungkap Wishnu.

Ia menambahkan, setiap Minggu selama bulan Mei, dipersembahkan Misa di Gua Maria Kerep. ”Khusus pada 10 Mei 2009 pukul 09.00 pagi, Uskup Agung Semarang, Mgr I. Suharyo Pr akan memimpin Misa penutupan Novena periode 2008-2009,” jelas Wishnu.

Wishnu mengakui, setiap kali Misa Novena pada Bulan Maria, kolekte bisa mencapai sekitar Rp 30 juta rupiah. ”Namun, panitia hanya menerima sekitar 20 persen setelah dipotong untuk sewa soundsystem, tenda, kursi, dan peralatan lainnya,” paparnya.

Sendangsono
Seperti Gua Maria Kerep di Ambarawa, Gua Maria Sendangsono juga selalu ramai dikunjungi peziarah. Bahkan, tidak hanya pada bulan-bulan Maria. Bulan-bulan lainnya, khususnya pada hari Jumat, Sabtu, dan Minggu, Sendangsono juga dipadati peziarah. ”Apalagi, pada saat liburan panjang sekolah, peziarah sangat ramai,” ungkap Pastor Paroki St Maria Lourdes Promasan, Yustinus Slamet Witokaryono Pr saat ditemui di sela-sela persiapan Bulan Maria, akhir April lalu.

Menurut Pastor Witokaryono, Gua Maria Sendangsono selalu dibanjiri peziarah dari Surabaya, Malang, Bogor, Jakarta, dan Yogyakarta pada Bulan-bulan Maria atau saat libur panjang. ”Sedangkan pada bulan-bulan biasa, yang datang adalah para peziarah lokal. Mereka datang dari Magelang, Muntilan, Purworejo, dan Yogyakarta.”

Pada hari-hari biasa, jumlah peziarah di Sendangsono bisa mencapai 1.000 orang per bulan. Sedangkan pada Mei 2009 ini, diperkirakan Gua Maria Sendangsono bakal dikunjungi sekitar 5.000 peziarah. ”Sementara pada musim liburan panjang, peziarah bisa mencapai antara 3.000-4.000 orang,” lanjut Pastor Witokaryono.

Menjelang Bulan Maria pun, umat sudah mengalir datang ke Sendangsono. Di antaranya para siswa SD Maria Purworejo yang berziarah pada 26 April lalu. Rombongan murid kelas IV sampai VI ini dipimpin oleh seorang biarawati dan pembimbing Felites Regina Caeli, Theodora Dewi A. Henriques. Jumlah siswa mencapai 19 anak, mayoritas siswa kelas VI. ”Pada 11 Mei, mereka harus menghadapi ujian. Sedangkan murid kelas IV dan V akan menghadapi ulangan umum pada awal Juni. Karena itu, kami berziarah sebelum mereka menempuh ujian dan ulangan umum,” urai Dewi.

Pastor Witokaryono menjelaskan bahwa suasana hening sengaja ditawarkan di lokasi ziarah ini. ”Bahkan, ketika ada Perayaan Ekaristi di sini, peziarah belum tentu mengikutinya. Mereka tetap berdoa di depan patung Maria. Inilah keunikan peziarah di Sendangsono,” ungkapnya.

Ia mengungkapkan, banyak kesaksian dari peziarah di Sendangsono yang terbantu dalam mengatasi berbagai persoalan, seperti persoalan keluarga maupun kebangkrutan usaha. ”Kalau mencari pesugihan, saya kira arahnya tidak sampai ke situ ya. Kalau mohon jodoh, pasti ada,” tambah Pastor Witokaryono.

Selama Mei 2009 ini, di Gua Maria Sendangsono diadakan Perayaan Ekaristi sebanyak sepuluh kali. Pada Sabtu, 30 Mei pukul 19.00 akan berlangsung Misa Kaum Muda yang dilaksanakan oleh kaum muda dari Kevikepan Kedu dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Misa dipersembahkan oleh Uskup Agung Semarang, Mgr I. Suharyo Pr.

Mei 2009 ini, 76 orang muda Katolik wilayah KAS akan menyiapkan aksi sosial di Gua Maria Sendangsono. ”Mereka adalah orang muda yang disiapkan mengikuti Temu Raya Kaum Muda di Salam pada 26-28 Juli mendatang,” tambah Pastor Witokaryono.

Untuk memudahkan calon rombongan peziarah dari luar kota, saat ini di Gua Maria Sendangsono juga disiapkan ruang sekretariat untuk memudahkan komunikasi. Seperti juga Gua Maria Kerep, Gua Maria Sendangsono yang kebanjiran umat juga memberikan berkat rezeki kepada warga di sekitarnya, yang berdagang aneka benda rohani dan makanan. Bahkan, beberapa warga Sendangsono menyiapkan penginapan bagi umat yang berziarah.

Markus Ivan/ME



Share on Facebook || Share on Twitter
Berita Lainnya
Full Site