Hidupkatolik.com
home / jendela & lembaga religius

Kompleks Rumah Retret Laverna: Berakar pada Semangat Fransiskus

Rabu, 19 Desember 2012 14:50 WIB
jendela-laverna-sanggau-hidup-katolik.jpg
HIDUPKATOLIK.com - Dua tahun sebelum wafat, awal September 1224, St Fransiskus Assisi berdoa di sebuah gunung di Italia. Gunung itu bernama Laverna. Saat itulah, ia menerima stigmata.

Nama “Laverna” kemudian digunakan untuk nama banyak tempat. Salah satunya, kompleks hutan lindung milik Ordo Fratrum Minorum Capuccinorum (OFMCap) Provinsi Pontianak. “Kami pakai nama Laverna supaya tempat ini menjadi sarana pembaruan iman dan rohani bagi orang-orang yang berada di dalamnya,” ujar Direktur Rumah Retret Laverna, Pastor Bernard Lam OFMCap.

Ada dua kompleks dalam hutan lindung itu, yaitu kompleks rumah retret dan kompleks persekolahan Badan Karya Kapusin (BKK). Keduanya merupakan karya kategorial para biarawan Ordo Kapusin Provinsi Pontianak. Tempat ini berdiri di tengah hutan lindung seluas 42 hektar di Sanggau, ibu kota Kabupaten Sanggau dan pusat Keuskupan Sanggau. Kota ini terletak di bagian utara Provinsi Kalimantan Barat.

Rumah retret
Letak Rumah Retret Laverna tidak jauh dari tempat pelaksanaan Indonesian Youth Day (IYD) 2012 di Sanggau, yakni kompleks Youth Center. Untuk mencapai kompleks Youth Center dapat melalui jalan darat dengan waktu tempuh enam jam dari Pontianak. Butuh waktu sekitar 30 menit dari kompleks Youth Center menuju Rumah Retret Laverna.

Rumah Retret Laverna mampu menampung sekitar 110 orang. Selain dilengkapi dengan fasilitas seperti kamar tidur, aula, kapel, dapur, dan ruang makan, Rumah Retret Laverna juga memiliki area Jalan Salib di tengah hutan lindung. Jalan untuk Jalan Salib sudah diaspal.

Hutan lindung di sekitar Rumah Retret Laverna sangat mendukung para peziarah yang ingin mendapatkan ketenangan. “Laverna bisa memberikan inspirasi iman sebab didukung dengan keasrian hutan, masih bisa mendengar kicauan burung, dan dekat dengan alam,” tutur Pastor Bernard.

Hutan lindung seluas 42 hektar yang awalnya dibeli dari masyarakat sekitar, dirawat para biarawan Ordo Kapusin. Mereka memutuskan merawat hutan tersebut sebagai paru-paru bumi. Hal ini sejalan dengan semangat St Fransiskus Assisi yang merupakan santo pelindung lingkungan hidup. ”Saat ini, di Kalimantan sudah tidak ada hutan lagi karena sudah dibuka untuk perkebunan,” jelas Pastor Bernard.

Selain itu, Ordo Kapusin juga menjaga hutan supaya menjadi daerah resapan air. “Kami tidak pakai air PAM untuk minum atau mandi. Kami pakai air tanah,” ujar Pastor Bernard. Ia menambahkan, “Ketika kemarau, kami tidak kesulitan mendapat air. Air yang diperoleh pun jernih. Air minum kami dari mata air, tidak perlu disaring atau apa, hasilnya jernih.”

Kompleks persekolahan
Sementara kompleks BKK meliputi SMP Sugiyopranoto, SMA Don Bosco, Asrama Putra/Putri, Postulat Ordo Kapusin, dan Susteran Kongregasi Suster Misi Fransiskanes Santo Antonius (SMFA).

Menurut Ketua Yayasan BKK, Giovanni OFMCap, pada 1960 hanya ada satu sekolah milik pemerintah Sanggau, yaitu Sekolah Menengah Ekonomi Atas. “Karena itu, pastor-pastor yang berkarya di Sanggau berpikir, mengapa hanya ada satu sekolah di Sanggau,” tuturnya.

Kemudian, para pastor ini mencoba mendirikan sekolah lainnya. Pada 1 September 1965 berdiri SMP Sugiyopranoto dengan status sekolah darurat. Seiring berjalannya waktu, pada 1968, mulai banyak murid yang masuk ke SMP Sugiyopranoto. Dan akhirnya, SMP Sugiyopranoto resmi berdiri pada 1982. Selanjutnya, disusul dengan pendirian SMA Don Bosco pada 2 November 1984. Banyak murid yang berasal dari daerah Singkawang, Sekadau, Sintang, dan Pontianak yang tidak memungkinkan pulang ke rumah, sehingga dibangun pula asrama putra/putri. “Mayoritas orangtua memasukkan anaknya ke asrama, karena di sana para siswa mendapatkan bimbingan rohani. Selain itu, keamanan di asrama juga lebih terjamin,” jelas Pastor Giovanni.

Saat ini, SMP Sugiyopranoto mendidik 380 siswa dan SMA Don Bosco, 519 siswa. Sedangkan asrama putri dihuni oleh 35 orang dan asrama putra dihuni 123 orang. Kepala SMA Don Bosco, Martinus Bok, menuturkan bahwa SMA Don Bosco mengalami perkembangan cukup pesat. Dari sisi jumlah siswa, puncak perkembangan terjadi pada tahun ini.

Setiap tahun SMP Sugiyopranoto dan SMA Don Bosco memiliki agenda kegiatan yang berkaitan dengan lingkungan. Para siswa diajak belajar menghayati semangat St Fransiskus Assisi untuk peduli terhadap lingkungan. Setiap peringatan St Fransiskus Assisi, para siswa diajarkan untuk menanam pohon dan membersihkan selokan. Tahun 2010, sebanyak 800 siswa membersihkan semua selokan yang ada di Sanggau. Sedangkan untuk program ekstrakurikuler, setiap sebulan sekali dicanangkan program membersihkan lingkungan sekitar sekolah.

Selain itu, tahun ini SMA Don Bosco juga mengikuti Lomba Sekolah Sehat. Para siswa diberi materi Muatan Lokal (Mulok) mengenai apotik hidup. Materi ini mengajarkan mereka untuk menanam beragam jenis tanaman yang bisa dijadikan obat.

Motto St Fransiskus Assisi yang cinta pada alam terus dijaga, meski kenyataannya tidak mudah. “Kami tularkan kepada mereka: cinta alam dan lingkungan. Karena kami, keluarga Fransiskan, harus dapat mentransfer semangat Assisi pada anak-anak. Kami hanya bisa menularkan apa yang terjadi di lingkungan sekitar. Paling tidak, mereka bisa ikut menjaga sebagian tanah milik orangtuanya,” tutur Pastor Giovanni.

Seiring berjalannya waktu, di kompleks dibangun juga pendidikan Postulat Ordo Kapusin, yaitu pendidikan calon-calon frater sebelum masuk novisiat. Selain itu, juga ada para suster SMFA yang menjadi mitra Ordo Kapusin dalam mengelola asrama putri. “Karena tidak mungkin seorang pastor masuk ke dalam asrama putri, maka kami menggandeng suster SMFA untuk mengelolanya,” jelas Pastor Giovanni.

Secara struktur organisasi, lembaga persekolahan dan rumah retret memang berdiri sendiri-sendiri. Namun, secara keseluruhan, kompleks ini berada dalam satu payung Ordo Kapusin.

Aprianita Ganadi/Birgitta Ajeng



Share on Facebook || Share on Twitter
Berita Lainnya
Full Site