Hidupkatolik.com
home / konsultasi keluarga

Pengecut

Kamis, 10 Januari 2013 09:12 WIB
kkel-afraid-man-hidup-katolik.jpg
HIDUPKATOLIK.com - Pengasuh Yth, Saya seorang pria (39 tahun). Secara ekonomi hidup saya cukup mapan, saya bekerja sebagai operator sebuah perusahaan pertambangan asing di luar Jawa. Status saya masih bujangan. Rekan-rekan kerja saya sering berkelakar mengomentari bahwa “keputusan” saya tetap membujang bernilai sosial karena turut menekan laju pertambahan jumlah penduduk Indonesia. Saya sering menanggapi komentar-komentar demikian, dengan senyum-senyum saja. Tetapi, dalam hati saya prihatin karena sebenarnya hidup membujang bukanlah “keputusan” sebagaimana komentar mereka.

Jujur saja, saya membujang karena selalu gagal dalam menjalin hubungan khusus dengan wanita. Hingga saat ini saya sudah lima kali berpacaran, semuanya tak berlangsung lama; paling lama enam bulan. Lima kali hubungan khusus itu gagal bukan saya yang “memutus”, tapi mereka (pihak wanita).

Dua tahun terakhir ini, saya benar-benar tidak memiliki hubungan khusus dengan wanita, karena rasa pesimis bila akhirnya gagal lagi. Saya sering koreksi diri, apa sebenarnya kelemahan saya. Sepertinya saya memang kurang bisa memberi perhatian pada kaum wanita dan mungkin juga tidak ada bakat romantis. Selain itu, menurut empat dari lima mantan pacar saya, saya ini tipe laki-laki “pengecut”.

Yang ingin saya tanyakan: apa sebenarnya pengertian “pengecut” di mata wanita? Benarkah saya adalah jenis laki-laki “pengecut”? Terima kasih.


SH di Kota T

Bapak SH, sebenarnya narasumber paling tepat yang bisa menjawab pertanyaan tersebut adalah mantan-mantan pacar Anda itu. Label “pengecut” rasanya tidak sepenuhnya bisa dipahami sebatas definisi di kamus istilah. Sinonim “pengecut” adalah “pecundang”. Dalam label tersebut, pada umumnya terkandung nuansa kontekstualnya. Kontekstual dalam arti bagaimana dulu Anda berelasi dengan mantan-mantan pacar. Momen, situasi, atau kondisi apa saja yang dulu memicu terjadinya ketegangan hubungan Anda dengan mereka masing-masing?

Dari situlah sebenarnya pengertian “pengecut” bisa diidentifikasi. Supaya lebih kontekstual dalam menjawab pertanyaan Bapak, beberapa waktu yang lalu saya mewancarai 20 subjek: 10 wanita dan 10 pria berusia 18-35 tahun. Latar belakang para subjek tersebut adalah ibu rumah tangga, kaum ibu yang bekerja, mahasiswa, dosen fakultas psikologi, dan pria berstatus suami. Kepada mereka, saya ajukan dua pertanyaan: Menurut mereka Apa pengertian “pengecut” dan Apa saja ciri-ciri orang yang diberi label “pengecut”?
Berikut jawaban mereka:

Pengecut: pengertian dan ciri-ciri
Akar katanya adalah “kecut”. “Kecut” mendeskripsikan rasa masam pada berbagai buah, seperti jeruk, mangga, kedondong, dsb, terutama yang masih belum matang (belum saatnya dipetik). Dari akar kata inilah bisa jadi mengasosiasikan adanya kondisi atau kecenderungan kekurangmatangan.

Merujuk Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ”pengecut” adalah orang yang menjadi ciut hatinya, menjadi gentar atau menjadi ketakutan terhadap sesuatu hal. Dengan kata lain, seseorang diberi label itu bila dia tidak berani menerima atau menghindari risiko atau tidak berani bertanggung jawab atas perbuatan yang dilakukannya. Sedangkan ciri-ciri perilaku yang menonjol dari orang yang diberi label pengecut antara lain:

Pertama, suka membincangkan atau membeberkan kelemahan/keburukan orang lain, mencerca, mengutuk, mencaci maki, mendiskreditkan, dan mengobjekkan namun dengan tidak berani secara langsung di depan orangnya (target orang yang menjadi objek tidak berada di situ). Jadi, suka “main di belakang” dan tidak berani berkonfrontasi. Manakala dia berhadapan langsung dengan orang yang menjadi targetnya, tidak berani bicara, apalagi mengemukakan hal-hal yang jelek. Sebaliknya, malah melontarkan pujian-pujian yang bernuansa “menjilat”.

Kedua, berani berkata-kata keras, menantang, dan menggebu-gebu bila berada di antara orang-orang yang sepaham, sesikap, dan sekubu. Di luar itu, terutama di hadapan orang/pihak yang merupakan ancaman, dia lebih sering bersikap diam seribu bahasa.

Ketiga,
cenderung mencari kesalahan orang lain, defensif, dan mengutamakan pembenaran diri agar dapat terhindar dari kemungkinan dievaluasi, dikritik, disalahkan, dan dikalahkan. Upaya penyelamatan diri sendiri/egolah yang menjadi dasar pendorongnya. Kecenderungan ini menyasmitakan motif-motif ego yang sensitif terhadap segala hal yang dirasa bakal mengancam harga dirinya.

Keempat, bersikap oportunistik, cenderung mendekat ke orang/situasi yang paling menguntungkan bagi diri sendiri. Sering diistilahkan sebagai “bermental bunglon”, memiliki refleks “plin-plan” yang siap berubah-ubah menurut situasi yang paling menguntungkan.

Demikianlah pengertian karakter serta ciri-ciri orang yang dikenai label “pengecut” menurut pandangan kalangan umum. Label “pengecut” seringkali kurang menguntungkan dalam aktivitas bersosialisasi bagi orang yang menyandangnya. Mereka yang dicap sebagai “pengecut” sering dihindari dalam medan pergaulan, terlebih dalam konteks pergaulan khusus yang mengarah pada kesepakatan untuk hidup bersama dalam ikatan perkawinan.

Bila dalam sikap dan perilaku Bapak, tidak ada indikasi yang mencerminkan kecenderungan ciri-ciri di atas; maka Bapak tidak perlu memusingkan label “pengecut” yang diungkapkan oleh mantan-mantan pacar. Tetapi, bila setidaknya ada dua ciri yang mewarnai sikap dan perilaku Bapak dalam relasi-relasi dengan orang lain, seyogianya Bapak cepat menyadari diri dan mengupayakan perubahan sikap dan perilaku ke arah yang lebih positif.

H.M.E. Widiyatmadi


Share on Facebook || Share on Twitter
Berita Lainnya
Full Site