Hidupkatolik.com
home / sajian utama

Napak Tilas Misi Paulus

Minggu, 30 Agustus 2009 13:31 WIB
sajut-gereja-tarsus-hidup-katolik.jpg
HIDUPKATOLIK.com - Tiga kali Rasul Paulus menjalankan misinya di sekitar Balkan, sebelum menuju “pusat kekuasaan” di Roma. Misi Paulus adalah membawa ajaran Yesus keluar dari lingkungan Yahudi.

Perjalanan Paulus inilah yang direkonstruksi Peter Walker menjadi sebuah karya jurnalistik dan mudah dicerna oleh generasi sekarang. Rasul Paulus atau sering disebut Santo Paulus dari Tarsus, adalah etnis Yahudi kelahiran Tarsus (Turki). Ia bernama asli Saulus. Setelah memperoleh kewarganegaraan Roma, ia berganti nama menjadi Paulus.

Pada usia 15 tahun, ia berangkat ke Yerusalem untuk belajar agama Yahudi. Sebagai pemuka agama Yahudi sekaligus warga negara Roma, Saulus merupakan penentang ajaran Yesus. Ia dikenal sebagai pemburu para pengikut Yesus. Pada tahun 31 atau 32 M, dalam perjalanan dari Yerusalem ke Damsyik, Paulus mengalami pertobatan.

Sejak itulah, ia berbalik dari memusuhi menjadi penyebar ajaran Yesus. Sebagai Yahudi kelahiran Tarsus dan berwarga negara Roma, Paulus paling siap dalam misi membawa ajaran Yesus keluar dari Israel.

Cara Paulus juga sangat khas, yakni melalui perjalanan ia terus-menerus menulis surat untuk jemaat yang pernah dikunjunginya. Ide Paulus untuk membawa ajaran Yesus keluar dari Israel, tidak begitu mudah diterima para murid Yesus, terutama Petrus dan Yakobus.

Dukungan kepada Paulus baru menguat setelah Konsili Apostolik Yerusalem (Konsili Pertama), tahun 49 M. Sejak itulah, ”duet” Petrus dan Paulus menjadi ujung tombak misi Gereja purba yang berjuang melawan penindasan kekaisaran Romawi.

Tiga perjalanan
Setelah mengalami pertobatan, sekitartahun 34/35 M, Paulus kembali ke Yerusalem, lalu menuju kota kelahirannya, Tarsus. Sejak awal, Barnabas, salah seorang murid Yesus, bisa memahami perubahan pada diri Paulus. Barnabaslah yang pada tahun 40 M, pertama kali mengantar Paulus ke Antiokhia.

Tahun 45 M, Yerusalem dilanda bencana kelaparan. Paulus dan Barnabas datang ke kota ini untuk mengantar bantuan. Paulus mengawali perjalanan pertamanya ditemani Barnabas. Sasaran misi pertama Paulus adalah Siprus, Pamfilia, dan Galatia. Perjalanan pertama Paulus inilah yang telah membuat perpecahan di antara para pengikut Yesus.

Hal pokok yang menjadi pertentangan adalah syarat penyelamatan Yesus. Apakah masyarakat non Yahudi, yang akan menjadi pengikut Yesus, harus menjadi Yahudi terlebih dahulu? Atau bisa langsung mengikuti ajaran Yesus?

Petrus berpendapat, siapapun yang akan menjadi pengikut Yesus, harus terlebih dahulu menjadi Yahudi, berarti harus disunat dan haram menyantap daging babi.

Paulus beranggapan bahwa menjadi pengikut Yesus tidak harus terlebih dahulu menjadi Yahudi. Berarti tidak semua hukum Yahudi wajib bagi pengikut Yesus. Untuk memecahkan masalah ini, pada tahun 49 M digelar konsili pertama di Yerusalem. Dalam konsili inilah, ide Paulus diterima.

Setahun setelah konsili, Paulus menjalankan misi keduanya. Kali ini ia menjelajahi Makedonia, Atena, Troas, Filipi, dan Korintus. Di Makedonia, Paulus diusir. Di Atena ia ditangkap dan dipenjara. Di Korintus, Paulus lebih bisa diterima, hingga ia sempat berkarya selama 1,5 tahun.

Korintus adalah kota niaga yang sangat makmur di sebelah barat Atena, di utara Sparta. Letak Korintus persis di ujung tanah genting, yang menghubungkan daratan Yunani di utara, dengan Peloponesia di selatan. Posisinya sangat strategis, dengan Pelabuhan Kengkrea di pantai timur, menghadap Teluk Saronik dan Laut Aegea, serta Pelabuhan Lechaion di pantai barat yang menghadap ke Teluk Korintus.

Masyarakat Korintus
Sebagai kota pelabuhan yang multikultur dan sangat makmur, Korintus penuh dengan tempat hiburan terutama prostitusi. Bandar Korintus tumbuh seiring dengan perkembangan peradaban Yunani. Tahun 600 SM, dibangun jalan dengan balok-balok kayu sepanjang enam kilometer, untuk menarik kapal antara Lechaion ke Kengkrea. ”Jalan” kapal ini disebut diolkos.

Kemudian tahun 550 SM, Korintus membangun Kuil Apollo. Karena terkenal sebagai kota maksiat, kata ”Korintus” kemudian digunakan secara luas sebagai ungkapan terhadap perilaku seks bebas. Tahun 146 SM Kaisar Roma Lucius Mummius menghancurkan Korintus.

Sejak tahun 44 SM, terjadi kolonisasi besar-besaran oleh kekaisaran Romawi, yang ketika itu dibawah kekuasaan Julius Caesar. Kemudian tahun 27 SM, Korintus dijadikan Ibu Kota Akaia, Provinsi Romawi di Yunani Selatan. Sejak itulah, Korintus kembali tumbuh menjadi bandar penting di kawasan Yunani.

Korintus menjadi penting dalam misi Paulus, meskipun ia hanya tinggal selama 1,5 tahun di sana. Pada kurun waktu inilah, ia ditangkap Lucius Junius Galio, Prokonsul Akaia, yang berdomisili di Korintus. Dalam ”pengadilan” di Korintus, Paulus dibebaskan, dan Kristen dinyatakan tidak bertentangan dengan Hukum Romawi. Dia merupakan bagian dari agama Yudaisme yang sah diakui Roma.

Korintus juga penting bagi misi Paulus, karena masyarakatnya yang multikultur dan multietnis. Awalnya, Paulus hanya bisa berkhotbah pada hari Sabtu. Pada hari-hari lain ia masih harus menangani bisnis kerajinan kulit untuk menopang karya misinya. Belakangan, setelah dukungan finansial cukup, ia bisa berkonsentrasi penuh menjalankan karya misinya di Korintus.

Paulus meninggalkan Korintus melalui Pelabuhan Kengkrea, menuju Efesus, di pantai barat daratan Turki. Di sini, Paulus tinggal selama tiga tahun. Setelah itu, ia pergi ke Makedonia, Ilirikum, dan pantai barat Yunani. Perjalanan ini ditempuhnya selama 1,5 tahun. Lalu, selama tiga bulan ia kembali ke Korintus.

Martir di Roma
Pola perjalanan Yesus dari Nazaret ke Yerusalem, dijadikan model yang kemudian dikembangkan Petrus dan Paulus. Yesus berkarya di kalangan intern umat Yahudi, tanpa melalui perjalanan laut. Ketika itu, Yerusalem adalah pusat kekuasaan, ekonomi, dan kultur Yahudi. Perjalanan Paulus meluas menjelajahi masyarakat yang plural, dengan tujuan Roma, pusat kekuasaan kekaisaran.

Petrus dan Paulus sadar akan risiko yang akan mereka hadapi di Roma. Mereka bisa ditangkap, diadili, dan dihukum mati, sama dengan yang dialami guru mereka di Yerusalem. Paulus dengan ditemani Lukas, benar-benar sampai di Roma pada musim semi tahun 60.

Begitu tiba di Roma, Paulus langsung dikenai tahanan rumah. Selama tinggal dalam tahanan rumah inilah Paulus menulis suratnya untuk para jemaat setempat. Kisah Para Rasul, tidak menjelaskan lebih lanjut, bagaimana nasib Paulus secara rinci dalam tahanan. Yang selama ini diyakini, ia dihukum mati dengan cara dipancung di luar Kota Roma.

Ketika itu, Romawi berada di bawah kekuasaan Kaisar Nero. Pemancungan Paulus diperkirakan terjadi sebelum kebakaran besar Kota Roma. Dengan menjadi martir, Paulus telah memosisikan dirinya sebagai simbol dari sebuah pemihakan. Ia konsisten membawa ajaran Yesus ke masyarakat bukan Yahudi.

Karena terjadi di Kota Roma, berita tentang pengorbanan Paulus segera tersebar luas ke seluruh wilayan kekaisaran, bahkan juga ke pusat-pusat kekristenan awal. Sebelum penghancuran seluruh sinagoga oleh pasukan Romawi pada tahun 70, ibadat Kristen awal selalu dilakukan di sinagoga.

Penguasa Romawi masih mengkategorikan ajaran Yesus sebagai ”Sekte Yudaisme”, hingga keberadaannya dinyatakan sah. Keberatan justru datang dari umat Yahudi, yang menyatakan bahwa Yesus bukan Mesias, hingga Kristen bukan bagian dari agama Yahudi. Karena bukan bagian dari agama Yahudi yang diakui Roma, maka ajaran Yesus dinyatakan terlarang.

Obyek wisata ziarah
In The Steps of Saint Paul karya Peter Walker, merupakan rekonstruksi perjalanan Paulus, mulai dari Tarsus sampai ke Roma. Karya ”napak tilas” ini bukan rekonstruksi sejarah, bukan pula telaah Kitab Suci, meskipun sebagian besar sumber utama In The Steps of Saint Paul berasal dari Kisah Para Rasul dan Surat-surat Paulus.

Kelebihan Peter, ia mengunjungi seluruh tempat yang disebut dalam Kitab Suci. Dengan demikian, secara kontekstual kita tahu bagaimana kondisi kota yang pernah menjadi ”jejak” Paulus itu, pada saat ini. Meskipun bukan rekonstruksi sejarah, In The Steps of Saint Paul sarat dengan data dan fakta sejarah.

Sebagai fakta iman dan juga historis, sosok Paulus jelas sangat menarik perhatian publik sampai dengan zaman ini. Salah satu bentuk ketertarikan itu berupa aktivitas ziarah, juga wisata minat khusus. Peter Walker sangat beruntung, sebab ia juga berkesempatan memandu para wisatawan dan peziarah yang berminat melakukan ”napak tilas” perjalanan Paulus. Sama halnya denganPaulus, ia juga berkesempatan tinggal beberapa lama di kota-kota bersejarah tersebut.

Karena bukan merupakan telaah Kitab Suci, karya Peter bisa dinikmati oleh kalanganNon Kristiani. Sama halnya dengan ketika Bulan Ramadan, umat Kristiani juga bisa menikmati film televisi ”Jejak Rasul”.

F. Rahardi


Share on Facebook || Share on Twitter
Berita Lainnya
Full Site