Hidupkatolik.com
home / teropong

Kurikulum Baru 2013

Minggu, 6 Januari 2013 14:13 WIB
teropong-kurikulum-baru-hidup-katolik.jpg
HIDUPKATOLIK.com - Pada Tahun Ajaran 2013 yang akan datang – sesuai dengan rencana pemerintah – kurikulum baru mulai diberlakukan secara bertahap. Kurikulum ini akan diterapkan pada murid Kelas I dan Kelas IV Sekolah Dasar (SD), Kelas VII (SMP) dan Kelas X (SMA). Selama Desember ini pemerintah memberi kesempatan Uji Publik atas kurikulum tersebut. Uji Publik dapat juga diikuti oleh masyarakat secara on line pada link http://kurikulum2013. kemdikbud.go.id/

Apa saja yang baru pada Kurikulum 2013 tersebut? Perubahan besar terjadi pada Kurikulum Sekolah Dasar. Khusus untuk murid Kelas I sampai Kelas III, mata pelajaran IPA diintegrasikan pada Bahasa Indonesia dan Mata Pelajaran IPS diintegrasikan ke dalam PPKn. Jam pelajaran murid SD yang tadinya 26 jam per minggu ditambah menjadi 30 jam per minggu. Jam pelajaran Agama menjadi empat jam per minggu dan PPKn menjadi enam jam per minggu.

Dengan penambahan jam pelajaran Agama dan PPKn ini diharapkan peletakan dasar karakter generasi bangsa akan lebih baik. Pada SMP penambahan jumlah jam pelajaran juga berubah dari 32 jam per minggu menjadi 38 jam per minggu, dan ada penambahan jam pelajaran Agama dan PPKn.

Guna menerapkan Kurikulum 2013 ini, pemerintah akan menyiapkan guru-guru secara bertahap: mulai dengan melakukan penataran terhadap guru-guru Kelas I dan IV, Kelas VII dan Kelas X. Guru yang akan dipilih untuk itu adalah guru yang memenuhi syarat, yakni guru-guru yang mempunyai
hasil Ujian Kompetensi Guru (UKG) yang baik, yakni yang memiliki nilai UKG 60 ke atas.

Kita semua tentu bertanya-tanya: mengapa kurikulum pendidikan kita di Indonesia ini berubah begitu cepat? Tentu penjelasan pemerintah sangat masuk akal. Kurikulum harus berubah agar sesuai dengan perubahan zaman. Kurikulum 2012 adalah kurikulum yang menekankan kompetensi lulusan: kompetensi dasar dan kompetensi inti, yakni membentuk generasi bangsa yang berkarakter baik, kompeten dalam pengetahuan, dan memiliki keterampilan.

Namun, di sisi lain, perubahan kurikulum ini terkesan terlalu cepat. Para guru menjadi kalang kabut. Tahun 2004, pemerintah memperkenalkan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang empat tahun kemudian, 2008, diubah lagi menjadi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Para guru disuruh menyusun kurikulum di unit sekolah masing-masing demi mencapai “kompetensi ” yang sudah ditentukan pemerintah.

Baru saja para guru mulai mengerjakan KTSP, pemerintah sudah merombak lagi kurikulum dengan menambah jam pelajaran. Sepertinya pemerintah belum memiliki grand design kurikulum pendidikan nasional yang lebih stabil. Kurikulum pendidikan generasi bangsa kita berubah mengikuti perubahan pemikiran-pemikiran mereka yang menjabat di Mendiknas, sehingga ganti menteri berganti juga kurikulum pendidikan kita.

Pengembangan dan perbuahan sebuah kurikulum harusnya didasarkan pada evaluasi mendasar terhadap pelaksanaan kurikulum sebelumnya. Di negara-negara maju, dilakukan penelitian-penelitian ilmiah guna mendapat dasar yang kuat terhadap aspek-aspek mana yang perlu diubah dan dikembangkan dalam kurikulum.

Di negara kita, evaluasi terhadap kurikulum sebelumnya (KBK dan KTSP) belum dilakukan, dan juga tidak ada penelitian ilmiah yang mendukung, pemerintah sudah berani mengubah kurikulum pendidikan nasional.

Jangan-jangan penambahan jam pelajaran Agama dan PPKn itu malah membuat anak didik menjadi lebih bosan, lebih dijejali oleh dogma-dogma keagamaan yang membuat mereka makin fanatik? Materi pelajaran Agama dan PPKn yang bagaimana yang membuat anak-anak mengembangkan karakter-karakter yang positif?

Sebaiknya, sebelum mengubah kurikulum, pemerintah melakukan riset ilmiah lebih dulu. Apa sesungguhnya yang membantu membentuk karakter anak didik dan membuat mereka kompeten dan terampil? Jangan-jangan bukan dengan menambah jam pelajaran menjadi lebih banyak.

Bila pemerintah memaksakan pelaksanaan Kurikulum 2013 ini secara nasional, maka kita sedang mempertaruhkan masa depan bangsa kita pada sesuatu yang tidak punya justifikasi yang jelas.

Fidelis Waruwu


Share on Facebook || Share on Twitter
Berita Lainnya
Full Site