Hidupkatolik.com
home / konsultasi iman

Yesus sebagai Sang Injil

Selasa, 5 Februari 2013 16:20 WIB
Yesus-mengajar-perumpamaan-biji-sesawi.jpg
HIDUPKATOLIK.com - Mengapa dalam pewartaan awal-Nya, Yesus menyerukan:“ Bertobatlah dan percayalah kepada Injil.” (Mrk 1:15), padahal pada saat itu belum ada buku-buku Injil? Apa yang dimaksud Injil di ayat itu? Injil mana yang kita imani?

Theresia Maria Agusetyarini, Malang

Pertama, kata Indonesia “Injil” berasal dari bahasa Arab, yang merupakan terjemahan dari kata Yunani euaggelion, artinya kabar baik atau kabar gembira. Dalam Perjanjian Lama, kata Injil bisa ditemukan dalam Kitab Nabi Yesaya (bdk 40:9; 52:7; 61:1). Kabar gembira atau Injil di sini berarti Sabda Allah tentang pembebasan dari bahaya, penyelamatan, dan kesejahteraan. Allah sendiri yang terlibat dan memelihara orang berdosa. Inilah arti luas atau arti pertama dari kata “Injil”.

Dalam arti luas inilah kitab-kitab Perjanjian Baru menggunakan kata “Injil” seperti antara lain yang ditanyakan di atas (Mrk 1:15; Luk 4:17-21; Rom 10:15). Matius menguraikan isi kabar gembira itu: “orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik” (Mat 11:5; bdk. Luk 4:18-19). Inilah situasi baik yang menggambarkan kedatangan Mesias. Keadaan itu juga yang disebut sebagai kedatangan Kerajaan Allah, artinya ketika Allah meraja, Ia akan membuat semuanya menjadi baik. Dalam arti inilah Yesus sendiri menggunakan kata “Injil” (Mrk 1:3).

Kedua, perubahan pengertian kata “Injil” terjadi setelah wafat dan kebangkitan Yesus. Para rasul menyadari bahwa seluruh pribadi Yesus, hidup, ajaran dan pelayanan-Nya adalah perwujudan dari Allah yang peduli, terlibat, dan mengangkat orang berdosa dari penindasan dosa. Allah itu sendiri yang
menjadi manusia Yesus Kristus. Maka, kata “Injil” tidak lagi merujuk pada berita tentang Allah tetapi merujuk kepada seluruh diri Yesus Kristus. Yesus
Kristus itulah Sang Injil atau Kabar Gembira. Sabda Allah yang berpribadi dan hidup itulah Sang Injil (Rom 1:2-5). Yesus Kristus itulah Tuhan dan Mesias,
Penyelamat Manusia, Sang Injil. Inilah arti sempit atau arti kedua dari kata “Injil”.

Dalam arti sempit inilah, Paulus menggunakan kata “Injil” dalam surat-suratnya (Rom 1:1; Gal 1:8). Karena itu, hanya ada satu Injil, sedangkan yang lainnya “bukan Injil” (Gal 1:6-7). Yesus bukan hanya mewartakan kabar gembira tentang Allah tetapi seluruh pribadi dan pelayanan-Nya menunjukkan siapa dan bagaimana Allah itu. Allah yang tidak kelihatan menjadi bisa dilihat dalam pribadi Yesus. Hanya ada satu Injil. Keempat kitab Injil itu merupakan pemberitaan tentang satu Injil yang sama. Mereka yang ikut mewartakan Yesus Kristus sebagai Kabar Gembira juga disebut sebagai penginjil atau pemberita Injil (Ef 4:11).

Ketiga,
dalam penggunaan bahasa sehari-hari, Injil seringkali merujuk pada keempat kitab Injil, yaitu Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes. Kitab-kitab
Injil adalah catatan tentang perbuatan, ajaran, sengsara, wafat, dan kebangkitan Yesus Kristus yang disajikan berdasarkan pengalaman dan pandangan masing-masing penulis Injil. Tetapi, karena keseluruhan Perjanjian Baru berbicara tentang Yesus Kristus, Sang Kabar Gembira itu, maka seluruh
Perjanjian Baru, termasuk surat-surat, Kisah Para Rasul dan Kitab Wahyu) juga disebut sebagai Injil, Kabar Gembira. Inilah arti ketiga dari kata “Injil”.

Keempat, Yesus Kristus sebagai Sang Injil inilah yang menjadi dasar dari agama Kristiani. Yesus Kristus sebagai pribadi yang hidup itulah yang kita imani. Jadi, agama Kristiani bukanlah agama kitab tertulis, melainkan agama Sabda Allah yang tetap hidup dan berkarya aktif dalam Gereja. Tidak ada buku yang turun dari surga. Sabda Allah yang turun dan “tinggal di antara kita” (Yoh 1:14). Inilah dasar iman kita. Kitab-kitab Perjanjian Baru itulah yang
dinyatakan oleh Gereja sebagai diinspirasikan oleh Roh Kudus sehingga menyampaikan Wahyu yang dibawa oleh Yesus secara tepat dan tanpa kesalahan. Sesuai dengan tujuan dan maknanya, Kitab Suci tidak bersalah dalam segala hal yang berhubungan dengan iman dan keselamatan kita.

Pastor Dr Petrus Maria Handoko CM



Share on Facebook || Share on Twitter
Berita Lainnya
Full Site