Hidupkatolik.com
home / jendela & lembaga religius

Panti Asuhan St Thomas Ngawen: Wahana Pendidikan Nilai Kehidupan

Jumat, 22 Februari 2013 11:55 WIB
jendela-pa-st-thomas-hidup-katolik.jpg
HIDUPKATOLIK.com - ”Panti ini memiliki satu tujuan sederhana, yaitu agar anak punya masa depan,” tegas Sr Yosephinia AK, Pimpinan Panti Asuhan Santo Thomas Ngawen.

Kehadiran panti asuhan ini bak pelita bagi masyarakat Dusun Jambu, Kelurahan Jurangjero, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta.

Masyarakat Dusun Jambu yang mayoritas bermata pencarian sebagai petani dan beragama Islam, menerima keberadaan panti. Mereka mempercayakan anak-anak mereka dibina dan dibimbing oleh para suster. Bahkan, mereka mendukung kegiatan-kegiatan yang ada.

Dialog kehidupan dalam sendi-sendi pluralisme terpancar di sana. Hal ini bisa terwujud karena di dalam panti tidak dikenal istilah kristenisasi. Buktinya, anak-anak panti yang tidak beragama Katolik tetap menganut agamanya.

Pihak panti pun memberikan beasiswa pendidikan bagi masyarakat sekitar yang tidak mampu. Anak-anak itu tetap ikut orangtua mereka, tetapi biaya sekolah ditanggung pihak panti.

Pilar utama
”Nilai kejujuran dan kedisiplinan adalah pilar utama yang sangat ditekankan di panti ini,” tegas Suster Yosephinia. Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa menjadi jujur dan terbuka itu tidak mudah. Situasi dewasa ini gampang menjebak seseorang untuk takut dengan dirinya sendiri.

Akibatnya, keterbukaan sulit diwujudkan karena orang takut kepribadiannya diketahui orang lain. Suster Yosephinia yakin, kejujuran bisa mendatangkan kepercayaan dari orang lain.

Terkait masalah kedisiplinan, panti memberlakukan sistem poin. Pelanggaran terhadap aturan dikenakan poin tertentu. Poin yang melebihi jumlah batas tertentu dikenakan sangsi tegas. ”Kedisiplinan para suster menjadi acuan bagi anak-anak. Ketika kami menyuruh anak-anak lekas mandi, kami pun sebenarnya sudah mandi terlebih dahulu,” ungkapnya jujur.

Saat ini, ada 70 anak panti. Sebagian besar masih memiliki orangtua. Kondisi orangtua tidak memungkinkan membiayai pendidikan mereka. Ada pula yang sudah tidak mempunyai orangtua, bahkan ada yang tidak tahu keberadaan orangtuanya sejak kecil.

Mereka berasal dari berbagai latar belakang. Ada yang dititipkan melalui pastor-pastor paroki di sekitar Keuskupan Agung Semarang, ada juga pindahan atau titipan dari panti asuhan lain, seperti Panti Asuhan Santa Maria Boro dan Panti Asuhan Vincentius Putra Jakarta. Cukup banyak anak yang
berasal dari sekitar Kabupaten Gunung Kidul.

Kesederhanaan
Panti Asuhan St Thomas Ngawen adalah cabang Panti Asuhan St Thomas Ungaran, Semarang, bernaung di bawah Yayasan Santa Maria yang dikelola oleh Suster-Suster Abdi Kristus. ”Secara khusus, Tarekat Abdi Kristus dipanggil untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat pedesaan dan
kota-kota kecil yang tidak terjangkau oleh tarekat-tarekat lain,” jelas Suster Yosephinia.

Awalnya, para suster tergerak memberikan perhatian dan pelayanan secara khusus bagi anak-anak korban Perang Dunia II. Mereka menyediakan tempat tinggal, makanan, pakaian, dan sebagainya. Perlakuan para suster terhadap anak-anak terlantar itu menggerakkan pihak Paroki Ambarawa, yang meminta mereka menangani Panti Asuhan Taman Pamardi milik paroki.

Tahun 1940, Panti Asuhan Taman Pamardi diserahkan kepada para suster dan berganti nama menjadi Panti Asuhan St Thomas.

Tahun 1986, para suster diundang Keuskupan Agung Semarang untuk berkarya di Wonosari sebagai tenaga pengajar di sekolah, pengajar katekumen, pembina misdinar, dan pengurus rumah tangga pastoran. Tapi, pihak paroki Wonosari meminta para suster Abdi Kristus meluaskan sayap pelayanannya di daerah pinggiran Wonosari, tepatnya di daerah Jambu, Ngawen. Sebagian besar masyarakat di daerah itu masih sangat miskin.

Sr Boromea AK adalah suster pertama yang memulai karya baru di Ngawen, sambil mengajar di SMP Kanisius dan SMP Sanjaya Ngawen. Pihak Keuskupan dan LPPS Jakarta memberikan bantuan dana untuk mendirikan gedung SMP Sanjaya yang baru. Gedung yang lama dipakai untuk tempat tinggal anak-anak panti yang dikirim dari Ungaran.

Suasana pedesaan Ngawen sangat mendukung pengembangan kepribadian anak-anak panti. Mereka bisa dekat dengan alam dan kehidupan sederhana seperti masyarakat sekitarnya. Anak-anak dapat belajar menghargai pekerjaan-pekerjaan sederhana, seperti bertani, beternak, dan berbagai keterampilan lainnya.

Berbudi luhur
Panti merupakan wahana pendidikan nilai dalam membentuk pribadi anak agar berbudi pekerti luhur. Dengan berbagai fasilitas yang ada, diharapkan anak-anak dapat belajar mengembangkan bakat dan keterampilan yang diperoleh secara formal ataupun nonformal.

Semua pekerjaan di panti dilakukan oleh anak-anak panti sendiri. Harapannya, ketika menghadapi dunia kerja, mereka sudah tidak asing lagi dengan segala pekerjaan dan tantangannya.

Dalam bidang kerohanian, anak-anak panti diajak menyadari bahwa mereka adalah ciptaan Tuhan yang paling dikasihi. Pihak panti tidak memandang perbedaan agama dan suku. Meski demikian, semua anak panti wajib hadir pada kegiatan doa pagi dan doa malam. Ini merupakan salah satu bentuk olah kedisiplinan dalam hidup bersama.

Bagi anak panti yang beragama Islam juga diwajibkan shalat Jumat di masjid.

”Saat ini, ada 13 anak beragama Islam. Pada saat puasa, kami mendukung ibadah mereka dengan menyiapkan makan dan minum untuk buka puasa dan sahur. Di panti inilah, anak-anak sudah belajar dan menghidupi indahnya keberagaman,” tegas Sr Yosephinia.

Dalam keseharian, anak-anak diberi tanggung jawab akan tugas-tugas dan kewajiban-kewajiban yang harus mereka laksanakan sesuai peraturan panti. Misalnya pada Sistem Organisasi Anak, anak-anak mempunyai ketua yang setiap tahun mereka pilih sendiri. Kegiatan anak setiap hari diatur oleh mereka
sendiri, yaitu dalam pembagian tugas atau piket yang telah disepakati bersama.

Anak-anak pun dipercaya membayarkan sendiri uang sekolah yang diberikan oleh suster kepada pihak sekolah. Dengan demikian, mereka bisa semakin menghargai hidup dan bertanggung jawab.

Panti asuhan juga memiliki beberapa usaha untuk membantu pembiayaan panti, sekaligus untuk latihan berwirausaha. Jika ada waktu luang, anak-anak panti membuat aneka kerajinan tangan dari manik-manik yang dibentuk menjadi tas cantik, dompet rosario, gelang, kalung, dan sebagainya.

Mereka pun diajak berkebun dan beternak. Sebagian lahan yang cukup luas di tengah kompleks dimanfaatkan untuk lahan sayuran, jagung, kacang, dan ketela. Lahan di pinggir kompleks digunakan untuk beternak angsa, kambing, ayam, dan sapi. Hasil berkebun dan beternak itu digunakan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari panti.

Dalam acara-acara kemasyarakatan, anak-anak panti selalu dilibatkan. Sedang dalam konteks menggereja, Panti Asuhan St Thomas sangat mewarnai kegiatan umat di lingkungan. Mereka dilibatkan dalam aneka kegiatan lingkungan dan paroki.

”Sejak berdirinya panti hingga saat ini, tidak ada gangguan yang mencemaskan yang dilakukan oleh warga sekitar panti. Secara umum, hubungan Panti Asuhan St Thomas dengan masyarakat sekitar sangat bagus, ” kata Sr Yosephinia lagi.

Warga sekitar menerima keberadaan panti. Mereka sering merelakan sumurnya dipakai anak-anak panti apabila persediaan air panti berkurang atau habis pada musim kemarau.

Relasi yang akrab dengan masyarakat sekitar juga dibuktikan dengan keaktifan
anak-anak panti dalam kegiatan-kegiatan di lingkungan sekitar. Panti yang diawaki Sr M. Imacculata AK, Sr M. Anastasiani AK, Sr M. Rosalia AK, dan Sr Yosephinia AK serta Bapak dan Ibu Ngatino ini, ibarat pelita kecil di tengah kecamuk pluralisme yang melanda dunia dewasa ini.

Johannes Sutanto de Britto


Share on Facebook || Share on Twitter
Berita Lainnya
Full Site