Hidupkatolik.com
home / jendela & lembaga religius

SLB/G Helen Keller Indonesia: Mendidik dengan Bahasa Hati

Jumat, 22 Maret 2013 14:00 WIB
jendela-slbg-hki-hidup-katolik.jpg
HIDUPKATOLIK.com - Siang itu, di ruang makan, tampak anak-anak sedang makan dengan lahap. Suasana begitu teratur, ada yang makan sendiri, ada yang disuapi. Sekilas suasana itu bagaikan keluarga besar dengan ke semua anaknya normal.

Padahal, anak-anak itu adalah penghuni SLB/G Helen Keller Indonesia, Yogyakarta. Mereka adalah penyandang tuna netra dan tuna rungu. Ada pula anak yang hiper aktif dan menyandang keterbelakangan mental (down syndrome). “Awalnya, mereka datang ke sini dalam keadaan tak bisa apa-apa. Untuk pegang sendok pun harus diajari dengan sabar dan telaten. Apalagi, bisa makan sendiri, ini sudah menjadi rahmat Tuhan,” ujar Suster Stanisla Kurnianingsih PMY, salah satu pendidik di SLB/G Helen Keller Indonesia.

Keberadaan SLB/G Helen Keller Indonesia tak terlepas dari SLB/B Dena Upakara Wonosobo. Selain bernaung di bawah satu yayasan, yakni Yayasan Dena Upakara, semula SLB/G Helen Keller Indonesia merupakan cabang dari SLB/B Dena Upakara dan berdiri juga di Wonosobo. Beberapa tahun kemudian sekolah ini pindah ke Yogyakarta.

“SLB/G Helen Keller merupakan sekolah pertama yang peduli dengan para penyandang tuna netra dan tuna rungu di Yogyakarta,” jelas Kepala Sekolah SLB/G Helen Keller Indonesia, Suster Magdalena Sukiyam PMY.

Sekolah yang terletak di Jl R.E Martadinata No 88 A Wirobrajan, Yogyakarta ini dikelola dengan model sekolah berasrama. Tujuan sekolah itu tak lepas dari visi dan misi Tarekat Suster-suster PMY, yakni berpihak pada yang kecil, lemah, dan tersingkir. “Kami ingin mengaktualisasikan cinta kasih lewat pelayanan ini,” jelas Suster Magdalena.

Para pendidik di sekolah tersebut berusaha membangun sikap mandiri anak yang disesuaikan dengan kemampuan mereka. Hal ini penting diperhatikan karena setiap anak menyandang ketunaan dan kebutuhan yang berbeda-beda. “Kemandirian yang kami harapkan sesuai dengan kondisi setiap anak. Kemandirian itu juga bertujuan agar anak-anak siap hidup di tengah masyarakat. Jika anak sudah mandiri, kami kembalikan kepada keluarga,” jelas Suster Stanisla.

Suster Stanisla yang sudah lebih dari 10 tahun menjadi ibu, sekaligus pendidik bagi anak-anak buta dan tuli mengakui, menangani dan mendidik anak-anak seperti itu penuh dengan kendala dan tantangan.

Menurut Suster Stanisla, dalam menghadapi anak seperti itu, orangtua cenderung menutup-nutupi. Hal itu terjadi karena orangtua belum siap menerima dan tak banyak berharap pada anaknya dengan keadaan demikian. “Mereka juga tidak tahu cara merawat, apalagi mendidiknya. Sehingga kehadiran sekolah ini sungguh sangat disyukurinya,” jelasnya senang.

Bahasa hati
Suster Stanisla bersama tujuh pendidik di SLB/G Helen Keller mendapat pengalaman yang dinamis dan penuh tantangan sebagai guru bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Tidak ada kata berhenti untuk belajar memahami keinginan dan keadaan setiap anak. Misalnya, saat awal kedatangan anak ke sekolah tersebut, agar terbangun komunikasi yang baik, guru harus sungguh-sungguh mengenal anak. Masa pengenalan minimal satu bulan.

Beruntunglah SLB/G Helen Keller mempunyai kegiatan home visit, yakni kunjungan ke rumah untuk mempersiapkan anak masuk sekolah. “Sejak anak masih dalam keluarga, kami sudah belajar memahami anak. Kami bisa bertanya kepada orangtua. Terutama mengenai bahasa isyarat atau gerak tubuh anak,” lanjut Suster Stanisla.

Pengenalan anak secara pribadi merupakan sarana utama berkomunikasi lebih lanjut dalam proses pendidikan. Selain itu, dituntut pula untuk memahami anak, mengerti kemampuan, ketunaan, dan kekhasan anak. “Misalnya, si anak bisa melihat namun tak bisa bicara, kami menggunakan bahasa isyarat. Namun, jika tidak bisa melihat dan bisu tuli, kami gunakan rabaan. Sedangkan tuna netra namun tidak tuna rungu, dengan bicara,” jelasnya.

Semua pelayanan dan pendidikan menggunakan bahasa hati. Lewat bahasa hati, guru bisa mengerti gerak hati anak-anak. Misalnya, menangis karena lapar, sedih, bosan, atau sakit. Guru harus peka. Menangis merupakan bahasa komunikasi anak. Penguasaan bahasa hati merupakan keharusan dan terus-menerus diasah.

Selain itu, orangtua dan masyarakat juga dididik agar menerima anak-anak berkebutuhan khusus seperti anak-anak normal. Karena itu, kegiatan home visit merupakan sarana agar orangtua tahu bagaimana cara memperlakukan anak seperti itu.

Sekolah juga mengundang orangtua setiap enam bulan sekali. Sedangkan pendidikan terhadap masyarakat perlu dilakukan karena adanya pandangan bahwa anak seperti itu karena kutukan Tuhan. Padahal, anggapan demikian salah.

Tidak dibisniskan
Suster Magda PMY mengemukakan, mengelola sekolah untuk anak berkebutuhan khusus merupakan tantangan tersendiri. Anak-anak yang didik di situ berasal dari keluarga menengah ke bawah. Mereka datang dari Semarang, Sragen, Jakarta, dan Bandung.

“Sekolah ini tidak dibisniskan. Bahkan, harus siap rugi. Sebelum uang sekolah ditetapkan, terlebih dahulu ada dialog-dialog kemanusiaan dengan orangtua,” ujar Suster Magda.

Model sekolah berasrama membutuhkan dana besar. Tetapi, semua itu demi perkembangan dan kemajuan anak. Model subsidi silang belum sanggup menutup biaya operasional sekolah. Untuk itu, Yayasan Dena Upakara Wonosobo selalu siap mengatasi kekurangan dana. Terutama untuk gaji guru dan karyawan. Dana untuk itu sekitar Rp 16 juta per bulan.

Dari sepuluh anak, tidak semua orangtua membayar uang untuk keperluan anak secara rutin. Kalaupun ada yang membayar, berkisar dari Rp 10.000– Rp 20.000. Ada juga yang membayar Rp 700.000. Tetapi, itu tidak cukup. Mengelola sekolah seperti ini, minimal sebulan orangtua harus membayar Rp 1 juta. “Kami mengandalkan penyelenggaraan Ilahi. Tergantung bantuan insidental seperti beras, susu, minyak, kebutuhan harian, uang, dan sebagainya dari para donatur,” ujar Suster Magda sambil tertawa.

Demi anak-anak
Agar anak-anak bisa nyaman mengenyam pendidikan, gedung sekolah dan fasilitas yang lain sungguh diperhatikan. Untuk membangun gedung, dana dihimpun dari para donatur baik dari dalam negeri maupun luar negeri, khususnya Belanda. Gedung dua lantai akan selesai tahun 2008 dan menghabiskan dana sekitar Rp 1,8 miliar.

Supaya anak-anak bisa nyaman belajar, gedung dicat dengan warna-warna mencolok. Ada pula ruang fisioterapi, ruang rekreasi, ruang relaksasi, dan sebagainya. “Ini kami bangun demi anak, bukan demi gengsi. Karenanya, kami tak akan menarik uang gedung kepada orangtua. Ini bukan alasan kami untuk menarik uang gedung anak,” lanjutnya.

Seturut rencana, akan disiapkan lima ruang kelas. Jumlah ruangan itu sebagai antisipasi dari target yang ditetapkan, yakni mendapat 40 anak didik. Tiga orang siswa dididik oleh satu guru.

Di tengah berbagai usaha yang dilakukan, sekolah ini mendapat pengakuan dari Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Pengakuan itu terwujud dalam berbagai bantuan yang diberikan, antara lain terlibat dalam setiap kegiatan yang diadakan Pemerintah Daerah (penataran, seminar, pelatihan) dan dana.

“Keberadaan kami sepenuhnya didukung, bahkan kami ditunjuk oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Yogyakarta menjadi pusat pendidikan anak tuna rungu dan tuna netra di Yogyakarta,” lanjut Suster Magda.

Pihak sekolah pun menjalin kerja sama dengan para dosen Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang mempelajari pendidikan anak-anak tuna rungu dan tuna netra. Pihak sekolah juga bekerja sama dengan lembaga lain yang peduli pada anak-anak penyandang cacat, dalam rangka mencari anak-anak di berbagai wilayah Indonesia.

Suster Magda berpesan kepada orangtua maupun masyarakat agar menerima anak seperti itu seperti menerima anak pada umumnya. Anak-anak seperti itu dididik supaya mandiri. “Orangtua harus berani menghadapi realitas, jangan mudah patah semangat. Juga harus sadar bahwa anak seperti itu kelak bisa berkembang, minimal bisa komunikasi, itu sudah suatu anugerah,” ajak Suster Magda.

Susana KY



Share on Facebook || Share on Twitter
Berita Lainnya
Full Site