Hidupkatolik.com
home / sajian utama

Pelihara Lingkungan

Minggu, 23 Maret 2008 09:42 WIB
Mgr-Martinus-Dogma-Situmorang-OFMCap-hidup-katolik.jpg
HIDUPKATOLIK.com - Alam ini anugerah Tuhan yang perlu digunakan dan dinikmati dalam arti positif. Kita wajib menjaga dan menyerahkannya secara utuh untuk generasi mendatang.

Ketua Presidium Konferensi Waligerja Indonesia (KWI) Mgr Martinus Dogma Situmorang OFMCap mengungkapkan hal tersebut kepada Windy Subanto Kontributor HIDUP di Padang. KWI memfokuskan APP 2008 berkaitan dengan lingkungan hidup. Apa latar belakang dan relasinya dengan Paskah? Berikut petikan wawancara dengan Uskup Padang tersebut di Pasaman, Sumatera Barat, Jumat, 7/3.

Mengapa KWI memberikan perhatian pada lingkungan hidup tahun ini?
Sudah lama kami merancang tema tersebut. Jadi bukan karena alasan insidental. Hanya tema APP 2008 ini persis cocok dengan keprihatinan dan gerakan internasional seperti Konferensi Tingkat Tinggi tentang Perubahan Iklim di Bali. Kami melihat alam adalah habitat kita, tempat kita tinggal, tempat kita berkembang dan membangun. Kesadaran ini mesti ada. Nah, sambil tetap menjaga kesadaran itu, ternyata ditemukan tindakan negatif yang bertentangan dengan kelestarian lingkungan. Pertama, tidak mensyukuri dalam penggunaannya sehingga melakukannya di luar batas kewajaran.

Kedua, ada yang mengolah alam secara sistematis dengan alasan pembangunan, ekonomi, pengembangan dengan mengeksploitasi alam sedemikian rupa sehingga dampak negatifnya sangat besar bagi masyarakat. Contoh, pertambangan yang tidak dikelola dengan kewaspadaan sungguh-sungguh, hak pengolahan hutan (HPH), penggunaan potensi laut.

Ketiga,
budaya konsumerisme yang merebak membuat banyak orang ingin menikmati banyak hal dengan tidak lagi menghitung-hitung biaya yang dikeluarkan asalkan mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya. Kalau sikap itu yang dikedepankan, rasa tanggung jawab untuk menyerahkan alam ini kepada generasi berikutnya terabaikan, bahkan hilang.

Langkah-langkah apa yang secara konkret musti dilakukan?
Ada langkah yang perlu kita lakukan sendiri. Misalnya, membuat gerakan penghematan. Pengelolaan sampah yang lebih cerdas seperti memisahkan sampah organik dan non organik, memelihara sumber-sumber alam seperti air, udara, laut, gunung dengan hutannya. Ke depan, bersama-sama pihak-pihak lain secara sadar membangun solidaritas untuk tidak serakah, mementingkan diri sendiri di zaman kini dan mengabaikan generasi yang akan datang.

Selain itu, perlu secara bersama-sama, membangun semacam filosofi yang akan diikuti seperti kode etik dan tata tertib. Misalnya, kalau negara tertentu menggunakan sumber daya alam secara besar-besaran, harus mengompensasi segala akibat yang ditumbulkan kepada bangsa-bangsa lain. Hal ini secara tegas sudah disebut dalam KTT Pemanasan Global tetapi realisasinya tidak kedengaran.

Sikap apa yang perlu dipertegas umat Katolik dalam menghadapi persoalan ini?
Bersama dengan pihak-pihak di masyarakat, perlu mempertajam kesadaran akan makna alam ini. Kita harus bersikap dan bertindak ramah lingkungan, mendukung pelestarian lingkungan. Sebab tidak ada gunanya berteriak-teriak mengharapkan orang lain, kalau diri sendiri tidak berbuat.

Kita perlu mengawasi semua lembaga atau instansi pemerintah dan swasta. Bagaimana sikap, tindakan, dan kelakuan mereka terhadap lingkungan? Apakah pekerjaan mereka bersahabat terhadap lingkungan atau merusaknya? Alam ini harus diusahakan sehingga ada manfaat yang sebesar-besarnya untuk masyarakat. Contoh, tenaga nuklir di Jawa Tengah. Jangan karena desakan supaya disebut modern seperti negara lain maka ikut-ikutan membangun. Sikap demikian harus dibuang jauh-jauh. Forum kajian yang dilakukan STF Driyarkara baru-baru ini sangat baik karena bicara tentang tenaga nuklir dan melibatkan banyak pihak.

Apa keterkaitan antara Paskah dan kepedulian pada lingkungan?
Sengsara dan kebangkitan Yesus, tidak lain adalah demi memulihkan ciptaan dan menyempurnakannya. Memulihkan, memelihara, dan menjaga lingkungan merupakan bagian dari proses penebusan Kristus. Kita ambil bagian dalam rangka penebusan tersebut. Ketika kita merayakan Paskah, hari kebangkitan Kristus tahun ini, kita tidak bisa mengesampingkan tugas kita untuk memelihara lingkungan. Kelak kita akan menyerahkannya kepada generasi yang akan datang lebih indah dari yang sekarang.

Windy Subanto



Share on Facebook || Share on Twitter
Berita Lainnya
Full Site