Hidupkatolik.com
home / renungan

Renungan Minggu 14/4/2013: Mgr John Liku Ada’

Sabtu, 13 April 2013 18:24 WIB
Kepekaan-terhadap-Kehadiran-Tuhan.jpg
HIDUPKATOLIK.com - Pekan Paskah III; Kis 5:27b-32.40b-41; Mzm 30; Why 5:11-14; Yoh 21:1-19

Kepekaan terhadap Kehadiran Tuhan

Yuri Gagarin, kosmonaut Uni Soviet, ialah manusia pertama yang diluncurkan ke ruang angkasa untuk mengitari bumi pada 12 April 1961. Diceritakan, setelah ia berhasil kembali di bumi dengan selamat, ia berkata: “Aku tidak melihat Tuhan ketika akan terbang di atas bumi ini!”

Berbeda dengan Neil Armstrong, astronaut Amerika, manusia pertama yang menginjakkan kaki di bulan pada 20 Juli 1969. Ketika ia berada di permukaan bulan yang berjarak 384.000 km dari bumi, ia tersadar sebagai makhluk kecil di jagat raya nan mahaluas. Ia pun merasakan kehadiran penuh misteri. Spontan ia takjub dan berseru: “Luar biasa! Tak terkira! Indah!”

Yuri Gagarin dan Neil Armstrong mewakili dua kelompok manusia modern yang berlawanan arah. Gagarin mewakili kelompok manusia yang tak lagi mampu melihat sesuatu melampaui penghilatan mata jasmani, dan menjadi ateis. Sebaliknya, Amstrong merepresentasikan kelompok manusia yang masih peka terhadap kehadiran suatu misteri. Ia mampu melihat di balik apa yang mereka alami dalam kehidupan konkret, dan tetap menjadi manusia beriman.

Injil hari ini mengisahkan penampakan Yesus yang bangkit kepada murid-murid-Nya di pantai danau Tiberias. Para murid, yang masih diselimuti kegalauan akibat kematian Sang Guru di atas salib, kembali ke profesi lama sebagai nelayan. Sepanjang malam mereka bekerja keras, tetapi tidak menangkap apa-apa. Mereka gagal.

Ketika hari mulai siang dalam perjalanan pulang, mereka melihat seseorang berdiri di pantai. Orang itu meminta mereka menebarkan jala di sebelah kanan perahu. Tanpa berpikir panjang, mereka menuruti permintaan itu. Dan lihatlah, mereka tidak dapat menarik jala itu lagi karena banyaknya ikan: 153 ekor besar-besar!

Mari kita bayangkan situasi para murid ketika itu. Mereka adalah nelayan yang berpengalaman. Semalam suntuk mereka berupaya sesuai keahlian mereka. Tetapi hasilnya nol. Mereka pasti kecewa. Mereka tahu kalau hari mulai siang, tak ada lagi ikan berkeliaran, apalagi dekat pantai. Bahwa mereka bersedia begitu saja mengikuti permintaan orang asing yang berdiri di pantai itu, sesungguhnya perbuatan itu melecehkan diri mereka sendiri sebagai nelayan yang berpengalaman. Namun, mereka toh membuatnya. Hal tersebut mengungkapkan betapa galau hati mereka karena gagal.

Ketika mereka menyaksikan penangkapan ikan yang luar biasa itu, kekecewaan mereka sontak berubah menjadi kegembiraan yang meluap-luap. Mata mereka terpusat pada hasil luar biasa yang dicapai. Jala yang “penuh ikan besar: 153 ekor banyaknya”.

Tetapi Yohanes tak hanya melihat hasil penangkapan itu. Ia memiliki kepekaan dan mampu melihat di balik hasil yang luar biasa tersebut. Perhatiannya justru tertuju pada orang asing yang berdiri di pantai dan meminta mereka menebarkan jala. “Itu Tuhan,” katanya kepada Petrus. Adalah murid yang sama, yang masuk ke kubur Yesus dan “melihat kain kafan terletak di tanah, sedang kain peluh yang tadinya ada di kepala Yesus tidak terletak dekat kain kafan itu, tetapi agak di samping di tempat yang lain dan sudah tergulung”; ia melihat semua itu dan “percaya”! (Yoh 20:6-8).

Apakah kita masih memiliki kepekaan seperti Yohanes untuk melihat dan merasakan kehadiran Tuhan di balik pengalaman hidup kita setiap hari? Dunia kita yang serba bising membuat hidup kita juga menjadi serba dangkal. Di tengah kesibukan dan kegaduhan dunia, manusia sungguh membutuhkan saat-saat hening dalam hidupnya. Kiranya itulah yang dimaksudkan William Callahan SJ, dengan “kontemplasi bising”. Thomas Merton menyebutnya “kontemplasi tersembunyi atau tersamar”.

Teolog besar Karl Rahner SJ, bicara mengenai “mistisisme hidup sehari-hari”. Rahner tidak hanya menekankan mistisisme batin. Tanpa ragu, ia bicara mengenai dimensi mistik dari makan, minum, tidur, berjalan, duduk, dan hal serba biasa dalam hidup sehari-hari. Baginya, setiap segi eksistensial manusia memuat suatu pengalaman implisit mengenai Allah Tritunggal serta Kristus yang tersalib dan bangkit. Bagaimana dengan kita?

Mgr John Liku Ada’

Uskup Agung Makassar


Share on Facebook || Share on Twitter
Berita Lainnya
Full Site