Hidupkatolik.com
home / konsultasi iman

Viatikum dan Pleroma

Rabu, 24 April 2013 16:09 WIB
kiman-viatikum-hidup-katolik.jpg
HIDUPKATOLIK.com - Apakah yang dimaksud dengan viatikum? Apa itu pleroma?

Imelda Candrakusuma, Jakarta

Pertama, Viatikum
(Lat: viaticum) adalah bekal perjalanan terakhir, yaitu perjalanan menghadap Bapa di Surga. Viatikum berupa komuni kudus (hosti dan.atau anggur) yang diberikan kepada orang yang menjelang kematian oleh imam atau superior di biara. Viatikum harus diterima dalam keadaan rahmat, artinya tanpa dosa berat. Jika ada dosa berat, sebaiknya yang bersangkutan menerima Sakramen Rekonsiliasi terlebih dahulu. Dalam keadaan darurat, setiap imam dan diakon wajib menerimakan viatikum (bdk KHK kan 911).

Kedua, pleroma berasal dari bahasa Yunani, yang berarti kepenuhan. Dalam surat-surat St Paulus, ungkapan ini menunjuk pada kepenuhan Allah (Ef 3:19), kepenuhan keallahan Kristus (Kol 1:19; 2:9). Juga kata itu merujuk pada Gereja sebagai kepenuhan Kristus (Ef 1:23), dan kepenuhan waktu ketika Putra Allah diutus (Gal 4:4).

Dalam HIDUP No 07, 17 Februari 2008, dikatakan “Simon dari Kirene dan Veronika menunjukkan keberanian yang luar biasa untuk membantu Tuhan yang sedang menderita.” Menurut Romo Tom Jacobs SJ, Veronika adalah tokoh imajiner yang diciptakan oleh bangsa Yunani, sekitar tahun 300. Veronika berarti gambar yang baik. Kami berharap mendapat pengetahuan lebih jauh tentang ini.

Ignatius Hermiyanto, Jakarta

Memang benar Veronika adalah tokoh imajiner. Namun demikian, keberanian yang diberikan oleh “Veronika” tetap bisa diteladani. Menurut legenda abad ke-6, Veronika adalah wanita yang disembuhkan Yesus dari sakit pendarahan (Mat 9:20). Ketika Yesus memanggul salib-Nya ke Kalvari, Veronika memberikan kainnya kepada Yesus, supaya dapat membersihkan wajah-Nya yang penuh darah dari tusukan mahkota duri.

Ketika Yesus mengembalikan kain itu kepada Veronika, wajah-Nya tertera pada kain tersebut. “Gambar asli” (Latin: verus = benar; Yun: eikon = gambar) ini pada abad ke-5 disimpan di Edessa, dibawa ke Konstantinopel (abad ke-10), dan akhirnya dibawa ke Basilika St Petrus di Roma. Peristiwa ini diperingati pada perhentian ke-6 dalam doa jalan salib.

Dalam salah satu tulisan Bernardus Gunawan Y. Surya dalam WAPHIRAS (Warta Philipus Rasul) 446/2008/20 Januari 2008, ada tulisan demikian: “Baptisan dengan Roh Kudus inilah yang melengkapi baptisan yang diberikan oleh Yohanes. Yesus membaptis dengan Roh karena Ia berasal dari Roh Kudus. Baptisan dengan Roh adalah baptisan yang mempunyai daya pemurnian dan penyucian yang kuat.” Pertanyaan saya, apakah kita yang sudah dibaptis di Gereja, masih belum cukup dan harus dibaptis lagi dengan Roh Kudus? Apakah baptisan biasa tidak mempunyai daya pemurnian dan penyucian yang kuat?

Agustinus, Jakarta

Pertama, yang dimaksud dengan “pembaptisan dengan Roh Kudus dan dengan api” (Luk 3:16) tak lain adalah pembaptisan kristiani yang kita miliki dalam Gereja. Sakramen Baptis memberikan anugerah Roh Kudus, sedangkan pembaptisan Yohanes tidak memberikan anugerah Roh. Jadi, yang dimaksud oleh teks tersebut adalah pembaptisan kristiani yang dilakukan dalam Gereja oleh imam atau diakon.

Ungkapan “pembaptisan dengan Roh Kudus dan api” (Luk 3:16, bdk Mrk 1:8 dan Yoh 1:33) mau mengatakan bahwa pembaptisan yang diberikan oleh Yesus memberikan anugerah Roh Kudus, yang memurnikan seperti api. Api mempunyai daya kekuatan pembersih atau pemurni lebih ampuh daripada air. Sakramen Baptis adalah yang pertama memberikan anugerah Roh Kudus (bdk Kis 19:5-6). (Bdk HIDUP, No 35, 2 September 2008).

Kedua, ungkapan “pembaptisan dengan Roh Kudus” hendaknya tidak dirancukan dengan ungkapan yang sama yang digunakan kelompok Karismatik Kristen, yaitu “pembaptisan dalam Roh Kudus”. Agar tidak rancu, dalam Gereja Katolik dan Gerakan Karismatik Katolik, realitas yang sama dirujuk dengan “pencurahan Roh” yang mirip dengan pengalaman Pentakosta.

Pencurahan Roh Kudus sebenarnya merupakan bagian integral dari Sakramen Baptis (bdk Kis 2:38; 1 Kor 12:13). Idealnya, penerimaan Sakramen Baptis merupakan pula pemberdayaan anugerah Roh Kudus seperti yang terjadi pada peristiwa Pentakosta. Pengalaman menunjukkan, pemberdayaan anugerah Roh Kudus seringkali terjadi melalui bantuan doa orang-orang lain yang mendoakan (bdk HIDUP, No 39, 30 September 2008).

Pastor Dr Petrus Maria Handoko CM


Share on Facebook || Share on Twitter
Berita Lainnya
Full Site