Hidupkatolik.com
home / teropong

Mengembangkan Sikap Bertanggung Jawab

Minggu, 29 Juni 2008 10:58 WIB
teropong-responsible-attitude-hidup-katolik.jpg
HIDUPKATOLIK.com - Pengumuman hasil Ujian Nasional disambut dengan tawa dan tangis oleh generasi muda kita. Siswa-siswa yang dinyatakan lulus di berbagai kota merayakan kelulusannya dengan melakukan konvoi sepeda motor mengitari kota dan tidak mengindahkan aturan lalu lintas.

Di Jayapura, puluhan siswa SMA PGRI Jayapura mengamuk ketika diumumkan, hanya delapan dari 94 siswanya yang lulus. Mereka memecahkan kaca-kaca ruang kelas, serta merusak papan nama dan pintu sekolah (Kompas, 15/6/2008). Fenomena ini menjelaskan pada kita, bahwa generasi muda kita cenderung bersikap kurang bertanggung jawab. Hal ini berarti, keluarga dan dunia pendidikan kita belum berhasil mendidik angkatan muda kita untuk mampu bertanggung jawab, entah ketika mengungkapkan kegembiraannya maupun ketika harus menerima sebuah kegagalan.

Karakter “bertanggung jawab” adalah sikap (attitude) yang diperoleh seseorang sebagai hasil belajar selama proses pendidikan. Sikap ini hanya dimiliki seseorang yang telah berhasil menginternalisasi nilai tanggung jawab menjadi soft skill dalam dirinya. Juga hanya bisa terbentuk dalam diri seseorang melalui serangkaian pengalaman hidup sejak dini. Artinya, sikap bertanggung jawab mulai dilatihkan pada anak sejak dalam keluarga. Misalnya, ketika anak belajar berjalan, lalu dia mengalami jatuh karena kakinya tersandung kursi, maka kesempatan ini adalah kesempatan belajar bertanggung jawab.

Orangtua membiarkan anak mengatasi masalahnya, ketika dia menangis, orangtua lebih baik memeluk dan mendengarkan anak. Bukan justru memukul kursi dan menyalahkan lantai. Ketika anak sudah merasa tenang, barulah orangtua mengajak anak menganalisa, mengapa anak bisa jatuh dan bagaimana mengatasi masalah itu sebaiknya.

Ada banyak kesempatan yang perlu digunakan orangtua membentuk attitude bertanggung jawab dalam diri putra-putrinya. Ketika anak sudah mulai bisa mengancing bajunya, memasang kaus kakinya, melipat selimut, dan mengatur kamarnya, maka walaupun prosesnya lama, orangtua harus melatih anak me-lakukan kegiatan tersebut secara mandiri.

Tentu ada beberapa perilaku orangtua yang justru mengembangkan sikap tergantung dalam diri anak. Misalnya, selalu membantu anak setiap saat, membawakan tasnya, mengatur buku-buku pelajaran anak, menyuapi anak sekalipun sudah besar. Padahal, anak bisa dilatih melakukan hal-hal itu sendiri.

Latihan-latihan kecil ini menjadi landasan pembentukan soft skill sikap bertanggung jawab dalam diri anak. Anak perlu dilatih sejak dini bahwa dialah yang menciptakan pikiran, perasaan, emosi, dan perilakunya.

Bila seorang anak jatuh, justru orangtua menyalahkan lantai atau kursi yang membuat anak terjatuh. Seolah tanggung jawab ada di luar diri anak. Selanjutnya, bila terjadi sesuatu anak akan menyalahkan lingkungannya. Dia sudah terbiasa menghindar dari tanggung jawabnya.

Kurikulum soft skill yang telah dimulai dalam keluarga sebaiknya dilanjutkan di sekolah. Guru-guru mengupayakan agar para siswa mengalami langsung perilaku-perilaku yang bertanggung jawab. Misalnya, ketika memberikan tugas rumah pada siswa, guru benar-benar teliti memeriksa dan mengembalikan pada anak tepat waktu. Ketika siswa melakukan kesalahan, guru mengajak anak untuk refleksi, mengetahui penyebab masalahnya, dan sekaligus belajar mengatasinya.

Setiap guru, selama proses pembelajaran, senantiasa mengajak anak-didik untuk belajar mengenal dan mengolah dirinya (self awarness). Misalnya, ketika seseorang mengejek atau memberi gelar negatif kepada teman sekelasnya, guru lebih baik berhenti dulu, dan mengajak anak-didiknya untuk berefleksi: bagaimana rasanya bila orang lain memberi kita gelar yang tidak kita sukai?

Ketika semua siswa di dalam kelas ribut dan bicara sendiri-sendiri, sebaiknya guru berhenti dulu dan mengajak peserta didiknya untuk refleksi: bagaimana caranya menghargai orang lain yang sedang bicara. Bagaimana rasanya kalau kita bicara dan tak satu pun mendengarkan. Pengenalan diri ini sesungguhnya menjadi dasar dari setiap kegiatan pembelajaran (mata pelajaran apa pun). Itulah cara pelaksanaan kurikulum soft skill di kelas secara nyata.

Bila peserta didik kita sudah mencapai kesadaran diri yang optimal, dengan sendirinya dalam dirinya tumbuh sebuah attitude bertanggung jawab. Akhirnya, anak-didik kita menyadari bahwa tidak ada kejadian atau pribadi orang lain yang bertanggung jawab atas kebahagiaannya. Apa pun keadaannya, selama kita melihat sesuatu itu secara positif, maka situasi itu tidak pernah mengalahkan kebebasan seseorang.

Apa pun yang kita pikirkan dan lalukan selalu dimotivasi oleh keinginan kita. Apa yang kita pikirkan, menciptakan siapa diri kita. Ketika kita percaya bahwa kita adalah pribadi yang tidak bertanggung jawab, maka dengan sendirinya kita tidak mempraktikkan perilaku bertanggung jawab itu dalam kehidupan sehari-hari. Anak didik sadar bahwa kita tidak pernah menjadi ‘korban’, selama kita tidak memilih untuk menjadi ‘korban’.


Fidelis Waruwu


Share on Facebook || Share on Twitter
Berita Lainnya
Full Site