Hidupkatolik.com
home / sajian utama

Tak Sekadar Bangun Gereja

Minggu, 14 September 2008 11:34 WIB
sajut-maket-gereja-pamulang-hidup-katolik.jpg
HIDUPKATOLIK.com - Empat belas tahun Paroki Rasul Barnabas Pamulang, Banten berdiri. Mereka berada di Provinsi Banten, wilayah yang kental dengan nuansa Islami. Bagaimana usaha mereka membaur dengan masyarakat dan memperoleh IMB?

Masih jelas dalam ingatan Pastor Paroki Pamulang Yulianus Puryanto SCJ, ketika empat tahun lalu ia didatangi sekelompok orang. Mereka bertanya, “Romo, saya dengar di sini sulit membangun gereja ya?”

Pastor Puryanto memahami, pertanyaan yang diajukan pasti terkait dengan kondisi paroki yang belum mempunyai tempat ibadah. Ia menjawab,” Di sini, ada yang lebih penting dari sekadar bangun gereja. Ketika itu, para tokoh agama di daerah ini merasa prihatin dengan kondisi kerukunan umat beragama dan sedang mencari jalan keluarnya.”

Lebih lanjut ia mengatakan, “Daerah ini dinamakan Pamulang karena dulunya menjadi tempat transit tentara Sultan Agung dalam perjalanan kembali ke Jawa Tengah setelah menyerang Belanda di Batavia.”

Menurut Pastor Puryanto, arti kata Pamulang adalah kembali. Ini bisa diartikan sebagai kembali pada kesucian. “Mari kita awali niat menegakkan kerukunan umat beragama dengan persaudaraan sejati. Setiap umat beragama hendaknya makin menghayati kehidupan berbangsa dan bernegara dengan baik,” paparnya.

Awal persahabatan
Peristiwa tersebut menjadi titik awal persahabatan dan usahanya untuk lebih membaur dengan umat Muslim. Satu ketika, Pastor Puryanto meminta bantuan seorang temannya untuk mengadakan tahlilan bagi kakaknya yang beragama Islam. Temannya bersedia membantu. Dalam acara tersebut, ia berkenalan dengan tokoh-tokoh yang cukup disegani di Pamulang.

Saat itu, salah seorang tokoh didaulat menyampaikan renungan tahlilan. Renungan itu membuat merinding Pastor Puryanto. “Ia mengritik sikap hidup orang Katolik yang sombong dan terkesan eksklusif. Hal ini membuat saya makin menyadari, bahwa selama ini umat Katolik hanya sibuk di dalam dengan melakukan berbagai kegiatan doa dan puji-pujian. Dalam bermasyarakat, kegiatan yang dilakukan tidak maksimal dan intensitasnya sangat kurang,” tuturnya.

Apa yang dikatakan pemberi renungan itu ternyata mewakili sikap umat Muslim di daerah tersebut. Bahkan, sempat muncul isu, umat Katolik menghalalkan segala cara termasuk main uang dengan pejabat setempat guna memperoleh Izin Mendirikan Bangunan (IMB).

Selain itu, ternyata mereka juga kurang mengerti beda antara Kristen dan Katolik. Tidak mengherankan, bila menurut mereka di daerah itu tidak perlu lagi didirikan gereja karena sudah ada dua tempat ibadah bagi umat beragama Kristen.

Terkait hal itu, Pastor Puryanto mengatakan, “Mungkin ini terjadi karena kita kurang bergaul dengan mereka dan sibuk dengan urusan masing-masing.” Hal itu membuatnya bersemangat merintis komunikasi lintas agama. Beberapa kali pertemuan antarpemuka agama diadakan.

Rintis Taaruf
Pada pertemuan yang kesekian kali di daerah Puncak, muncul ide membuat forum lintas agama yang lebih serius. Mereka sepakat mengadakan pertemuan di Restoran Lebak Wangi, Banten. Acara ini juga dihadiri Lurah Pondok Cabe Udik dan Camat Pamulang.

Di restoran itulah muncul Deklarasi Lebak Wangi yang melahirkan forum komunikasi lintas agama bernama Taaruf yang berarti kerukunan sejati. “Nama itu berasal dari bahasa Arab,” jelas Pastor Puryanto. Ia menjadi salah satu ketua kelompok.

Persaudaraan dalam Taaruf makin erat, meskipun ada yang menganggap, kelompok yang dibentuk merupakan kendaraan umat Katolik untuk memperoleh izin mendirikan gereja. Menanggapi hal itu, Pastor Puryanto menegaskan, “Taaruf bertujuan menjalin persaudaraan lintas agama. Hal ini perlu karena kerukunan umat beragama di Pamulang menjadi hal penting yang harus diperhatikan.”

Sikap itu diamini salah seorang tokoh Muslim di daerah itu, Haji Muhammad Kahfie. Menurutnya, saat ini kehidupan masyarakat sudah terkotak-kotak. “Penyebabnya, masyarakat kurang dapat bergaul dengan orang-orang dari agama lain. Hendaknya kita bisa hidup sebagai satu saudara tanpa memandang perbedaan agama. Untuk hal itulah Taaruf dibentuk,” jelasnya.

Saat Pastor Puryanto bersama beberapa awam Katolik aktif di Taaruf, umat Paroki Pamulang tekun melakukan usaha mendapatkan IMB gereja. Sebidang tanah bakal gereja di Jalan Mohamad Toha, Kelurahan Pondok Cabe Udik, Pamulang telah mereka miliki. Ketua Panitia Pembangunan Gereja Toto Prawoto mengemukakan, “Terbitnya Peraturan Surat Keputusan Bersama (SKB) Dua Menteri, antara Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri tahun 2006, menjadi momen berarti bagi kami.”

Menurutnya, ketentuan dalam SKB ini sangat jelas. Pertama, untuk mendirikan tempat ibadah harus mendapat persetujuan minimal 60 orang warga setempat yang beragama lain. Kedua, harus mempunyai umat minimal 90 orang.

Banyak tantangan
Berdasarkan SKB tersebut, panitia pembangunan gereja mencari dan mengumpulkan bukti persetujuan dari warga setempat. “Selama melakukan itu, kami mengusahakan adanya dialog dengan masyarakat. Membangun gereja tidak semata-mata terkait dengan persoalan material saja, tetapi juga sejauh mana kita bisa membangun komunikasi dalam masyarakat dan saling memahami satu sama lain,” tukasnya.

Menurut Panitia Pembangunan Robertus Maria Seno, sampai saat ini 132 warga non Katolik sudah menyetujui pembangunan gereja. “Mengumpulkannya juga butuh waktu lama. Untuk itu, kami meminta bantuan kaum muda Katolik ikut melakukan sosialisasi ke masyarakat tentang maksud dan tujuan pembangunan tempat ibadah kami,” paparnya.

Namun, Seno – sapaannya – mengatakan, “Walau secara prosedural kami sudah memenuhi syarat, tetapi tantangan di lapangan masih banyak. Baru-baru ini, gereja didemo oleh sekelompok orang yang menyatakan sikap tidak setuju terhadap pembangunan tempat ibadah baru di daerah tersebut.”

Toto Prawoto menambahkan, “Bahkan, sempat diisukan, gereja yang hendak kami bangun akan menjadi gereja terbesar se-Asia Tenggara. Padahal, hal itu sama sekali tidak benar.”

Rancangan bentuk bangunan gereja sangat memperhatikan kondisi lingkungan sekitar dan berusaha sebisa mungkin tidak mengganggu aktivitas warga setempat serta tidak menimbulkan kemacetan baru di daerah itu.

Menanggapi masalah tersebut, Haji Muhammad Kahfie berpendapat, “Persoalan itu wajar terjadi. Dalam kehidupan bermasyarakat, pasti ada perbedaan pendapat. Di keluarga kecil saja, bisa timbul pertentangan antara suami, istri, dan anak.” Lewat pertentangan itulah, manusia mulai saling mengerti dan memahami kemauan orang lain terhadap dirinya.

Ia menguraikan, di Indonesia, mayoritas penduduknya hidup dalam kemiskinan. Karena itulah, umat Katolik hendaknya berusaha makin terlibat dalam kehidupan sosial dan terus membangun komunikasi dengan warga sekitarnya. “Terutama terhadap masyarakat akar rumput,” sahutnya.

Usaha untuk mewujudkan sebuah bangunan gereja ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Begitu juga usaha menjalin komunikasi dengan masyarakat sekitar yang berbeda agama.

Sekilas Paroki Pamulang
Nama: Paroki Rasul Barnabas Pamulang, Banten.
Lokasi Pastoran: Jl Salam No 3 RT 02/05, Kelurahan Pondok Cabe Udik
Lokasi tanah gereja: Jl Mohamad Toha No 3, Pondok Cabe Udik
• Dulunya merupakan stasi dari Paroki St Stefanus Cilandak, Jakarta Selatan
• Ditetapkan sebagai paroki oleh Mgr Leo Soekoto SJ berdasarkan surat keputusan Uskup Agung Jakarta tanggal 17 Juli 1993
• Penggembalaannya diserahkan pada Kongregasi SCJ.
• Pada 26 April 2003, salah satu stasi paroki tersebut berpisah dan menjadi paroki sendiri bernama Paroki Santo Nikodemus Ciputat.
• Selama ini beribadat di SDK Mater Dei, Kompleks Witana Harja, Pamulang, Banten.
• Kapel dan pastoran dibangun pada 27 Juli 2003 oleh Pastor Kepala Paroki yang pertama F.X. Harimurtono SCJ.
• Tahun 1999, mendapatkan izin membangun ruko, bukan gereja.
• Berdasarkan data statistik yang disusun dewan paroki bersama panitia pembangunan, pada akhir tahun 2005 diperkirakan jumlah umat Katolik mencapai 7.594 jiwa.

RB Yoga Kuswandono



Share on Facebook || Share on Twitter
Berita Lainnya
Full Site