Hidupkatolik.com
home / konsultasi keluarga

Menanamkan Kesadaran tentang Makna Uang

Senin, 10 Juni 2013 14:03 WIB
kkel-money-hidup-katolik.jpg
HIDUPKATOLIK.com - Pepatah menyatakan uang bukan segala-galanya. Tetapi, untuk merealisasikan banyak hal dalam kehidupan, kita butuh uang. Lugasnya, peranan uang yang mendasar adalah sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan hidup. Di dunia modern, peran uang dalam kehidupan menjadi semakin kompleks: untuk menunjang tercapainya kepuasan, kebanggaan, sarana berbagi, dan membantu orang lain, kebahagiaan maupun perdamaian (ingat istilah ”uang damai”).

Pun sebaliknya, bisa menyebabkan iri hati, kekhawatiran, perselisihan, perpecahan, bahkan konflik. Mengingat peran uang begitu penting bagi kehidupan dengan berbagai kemungkinan implikasinya, maka para orangtua perlu menanamkan kesadaran tentang makna uang yang benar kepada anak sejak dini (usia balita). Anak-anak perlu dibekali, dilatih, dan dibiasakan bagaimana seharusnya memaknai, menyikapi, dan memperlakukan uang secara benar dan proporsional. Tentu saja, kepada anak tidak/belum perlu dibeberkan implikasi-implikasi yang njelimet dari peran uang sebagaimana dialami orang-orang dewasa.

Di sini yang penting adalah memandu dan memfasilitasi anak secara bertahap untuk bisa memahami dan menyadari makna dan peran uang sesuai dengan alam pikiran anak. Misalnya, menanamkan pemahaman dan penyadaran kepada anak bahwa uang adalah sarana untuk memenuhi kebutuhan hidup yang harus dikelola dengan tepat dan jujur.

Uang juga merupakan sarana untuk berbagi dan membantu orang lain. Mengingat alam pikiran anak yang masih sederhana, maka untuk menanamkan pemahaman dan penyadaran itu perlu dilakukan dengan cara dilatih melalui pembiasaan (conditioning) perilaku. Dengan cara ini anak diantar untuk berbuat secara konkret, melampaui (sekadar) ide dan pikiran. Adapun bentuk-bentuk pembiasaannya bisa melalui beberapa media: permainan peran (role playing), mengajak anak di kancah transaksi, memberikan uang saku, menabung, dan melibatkan anak dalam tindakan berbagi atau membantu orang lain.

Permainan peran (role playing) bisa diterapkan pada anak usia 3-5 tahun. Bermain peran melakukan transaksi interaktif jual-beli dengan menggunakan uang secara simbolik (uang diganti dengan potongan kertas berwarna-warni untuk membedakan nilai uang) yang melibatkan anak dan orangtua/pengasuh (secara bergiliran sebagai penjual maupun sebagai pembeli) adalah metode paling sederhana untuk membantu anak memahami peran uang sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan. Anak terbantu untuk ”menyadari” secara tidak langsung bahwa untuk mendapatkan sesuatu (beras, makanan, barang-barang, dsb) diperlukan alat tukar berupa uang.

Mengajak anak ke kancah transaksi jual-beli dan pembayaran jasa. Logika psikologisnya adalah sekali melihat dan ”mengalami”, jauh lebih baik daripada seratus kali mendengar. Dengan mengajak serta anak ke toko, pasar, tempat pembayaran rekening listrik, telpon dsb, akan membantu anak secara riil menyaksikan, ”mengalami”, sehingga memahami, selanjutnya menyadari pentingnya peran uang dalam memenuhi kebutuhan hidup. Pengalaman nyata di kancah ini akan memperjelas dan menyempurnakan pengalaman simbolik yang sebelumnya sebagian telah dihayati anak di media role playing. Anak terbantu untuk ”menyadari” secara langsung bahwa untuk mendapatkan sesuatu (beras, makanan, barang-barang, dsb) diperlukan alat tukar yang umum disepakati, yaitu uang. Sejalan dengan perkembangan usia, anak bisa distimulasi pada pemahaman bahwa untuk bisa memenuhi apa yang dibutuhkan harus memiliki uang (sebagai alat tukar). Untuk bisa memiliki uang harus berupaya, misalnya mengumpulkan uang. Caranya, bisa dengan menabung, melakukan kegiatan yang dapat mengahasilkan uang, dst.

Memberi uang saku. Merupakan sarana untuk melatih kemampuan anak dalam mengelola keuangan. Uang saku bisa mulai diberikan kepada anak usia 6 tahun. Jumlahnya tidak harus besar, bisa bertahap tergantung kebutuhan. Tempo pemberiannya bisa dalam hitungan minggu atau bulan (dengan mempertimbangkan kemampuan anak maupun orangtua). Pemberian uang saku dapat menjadi media bagi anak untuk berlatih mengelola uang secara mandiri, sekaligus sebagai ungkapan konkret pemberian kepercayaan orangtua kepada anak.

Dengan jumlah yang sudah ditentukan berdasarkan kuota yang ditentukan oleh orangtua ataupun berdasarkan negosiasi yang disepakati bersama, anak bisa melakukan pengeluaran untuk kebutuhan-kebutuhan yang memang relevan dan disepakati bersama orangtua. Di akhir setiap rentang waktu jatah uang saku perlu dilakukan evaluasi bersama (melibatkan anak dan orangtua). Dengan cara ini, anak diberi kepercayaan, dikondisikan untuk menyadari nilai uang, serta dilatih untuk mengelola keuangan secara jujur sesuai kebutuhan.

Menabung. Anak-anak usia 8 tahun umumnya sudah bisa dilatih dan dilibatkan dalam perencanaan keuangan ke depan. Salah satu cara yang bisa ditempuh adalah dengan memberi jatah uang tertentu untuk ditabung. Pada konstalasi keluarga-keluarga tertentu, kadang anak mendapat uang dari pihak saudara (kakak, om, tante, nenek, dsb). Meskipun itu tidak rutin, orangtua perlu mengarahkan anak untuk menyimpannya dalam bentuk tabungan. Tabungan ini bisa dititipkan orangtua, namun akan lebih baik lagi kalau si anak sendiri yang diberi tanggung jawab untuk menabung sendiri (bisa dibuatkan rekening khusus, menabung di sekolah, dsb).

Bersamaan dengan mulainya masa menabung anak, orangtua bisa mulai terbuka kepada anak mengenai jumlah pemasukan (gaji, pendapatan) yang diterima dan pengeluaran setiap bulannya agar anak pun mulai belajar memperhitungkan berapa jumlah jatah tabungan akumulatifnya untuk jangka waktu tertentu, guna merencanakan pengelolaan keuangan dikaitkan dengan prioritas kebutuhan yang akan dipenuhinya secara lebih realistis.

Melibatkan anak dalam tindakan berbagi atau membantu orang lain. Berkaitan dengan penyadaran tentang nilai prososial uang, pada momen-momen tertentu orangtua perlu melibatkan dan mengajak anak untuk berbagi dan membantu orang lain secara finansial. Misalnya, saat ada peminta-minta di depan rumah atau di jalan anaklah yang diminta untuk memberikan uang.

Secara periodik (misalnya menjelang perayaan Paskah, Natal, atau di akhir tri wulan, dsb, tergantung kemampuan dan kesepakatan) anak diajak ke panti asuhan, panti jompo, panti perawatan penderita kusta, dll, untuk memberikan sumbangan uang. Penanaman kesadaran dan kepedulian finansial anak bagi tindakan prososial ini bisa dimulai dari rumah. Misalnya, di rumah disediakan dua kotak atau yang lebih mudah lagi dua celengan yang berbeda warna/bentuk. Kotak/celengan pertama diisi untuk tabungan, kotak/celengan kedua untuk disumbangkan kepada kaum papa. Dengan cara ini, sejak awal anak dibiasakan untuk menabung bagi dirinya sekaligus peduli mengalokasikan uang kepada orang lain yang membutuhkan.

Demikianlah beberapa cara praktis yang bisa dicoba dalam upaya menanamkan kesadaran akan makna uang pada anak.

H M E Widiyatmadi MPsi


Share on Facebook || Share on Twitter
Berita Lainnya
Full Site