Hidupkatolik.com
home / renungan

Renungan Minggu 16/6/2013: RD Yacobus Hariprabowo

Sabtu, 15 Juni 2013 10:02 WIB
Peka-Akan-Dosa.jpg
HIDUPKATOLIK.com - Minggu Biasa XI; 2Sam 12:7-10.13; Mzm 32; Gal 2:16.19-21; Luk 7:36-50

Peka Akan Dosa

Dalam Injil hari ini, dikisahkan hati Simon, seorang Farisi, terusik akan kedatangan seorang perempuan pendosa, saat Simon mengundang Yesus makan di rumahnya. Perlakuan perempuan itu pada Yesus makin membuatnya gusar.

Simon tak dapat memahami Yesus yang dikenalnya sebagai nabi, bersentuhan dengan pendosa. Sesuai agamanya, Simon merasa perlu memperjelas batasan yang memisahkan kaum saleh dengan para pendosa. Orang-orang saleh seperti dirinya, tidak bergaul dengan kaum pendosa, seperti perempuan itu. Ia berharap, Yesus akan melakukan tindakan yang sama, tidak bersentuhan dengan pendosa.

Perempuan yang dikisahkan dalam Injil Lukas itu datang ke rumah Simon, karena mendengar Yesus hadir. Pastilah perempuan itu pernah mendengar siapa dan bagaimana Yesus, sehingga ia berani datang ke rumah orang Farisi untuk menjumpai-Nya. Dengan kesadaran penuh sebagai pendosa, ia datang untuk mohon pengampunan. Ia membasahi kaki Yesus dengan air mata penyesalannya, menyeka dengan rambutnya, menciumi dan meminyaki kaki-Nya.

Kegusaran si saleh Simon dan tindakan perempuan itu menjadi sarana pengajaran Yesus untuk menumbuhkan kepekaan akan keberdosaan diri dan kerahiman Allah yang tak terbatas. Melalui perumpamaan dua orang yang berhutang, yang seorang 50 dinar dan yang lain 500 dinar. Keduanya dibebaskan dari hutangnya karena tak sanggup melunasinya. Simon pun menyimpulkan, orang yang punya hutang lebih besar akan menunjukkan kasihnya pada pemilik piutang, daripada yang hutangnya sedikit. 

Jawaban Simon ini dibenarkan dan dipakai Yesus untuk menjelaskan keadaan perempuan pendosa tadi. Yesus menegaskan, perempuan itu telah diampuni dosanya yang banyak, karena ia mengungkapkan kasih yang lebih besar.

Tak bermaksud menyalahkan Simon, Yesus membandingkan sambutan Simon dan perempuan itu terhadap diri-Nya. Simon tidak menyediakan air bagi-Nya untuk membasuh kaki-Nya, seperti adat Yahudi bila masuk rumah. Ia juga tidak mencium atau memeluk Yesus sebagai sambutan hangat tuan rumah, apalagi secara istimewa meminyaki kepala Yesus. Tapi perempuan itu melakukan hal-hal yang tak dilakukan Simon, bahkan secara lebih istimewa. Ia menunjukkan kasihnya yang lebih besar daripada Simon.

Melalui pembandingan ini, Yesus menunjukkan bahwa ada orang yang sangat mengasihi Tuhan justru ketika merasa bersalah, karena menyakiti Allah. Orang ini akan merasa pilu dan sedih karena menyadari dirinya berdosa. Tapi sebaliknya, tak sedikit orang yang tak punya kepekaan seperti perempuan pendosa itu.

Yohanes Paulus II mengatakan, dosa terbesar manusia modern adalah hilangnya rasa bersalah dalam diri orang yang melakukan kesalahan. Orang kehilangan kepekaan batin hingga tak lagi merasa berdosa. Selanjutnya, hatinya tertutup pada kerahiman Allah.

“Mengasihi” dalam ajaran Yesus kali ini ialah kepekaan pendosa yang merasa sedih karena telah menyadari salahnya: melukai hati Allah dan merugikan sesama. Kepekaan batin inilah yang dimiliki dan diungkapkan perempuan itu pada Yesus di hadapan Simon dan tamu lainnya.

Dewasa ini, orang baru merasa bersalah jika perbuatan salahnya diketahui orang lain. Bahkan, tak sedikit orang yang kesalahannya telah diketahui, tapi masih bisa tampil “sumringah”. Ia tidak merasa bersalah karena pengadilan belum memutuskan bersalah. Seolah ia tak punya rasa sedih atas kesalahannya.

Peristiwa perjamuan makan di rumah Simon menjadi pengajaran Yesus bagi Simon, tamu yang lain, serta kita yang berpikir dan bersikap seperti Simon. Kita menganggap diri berada pada jalur yang benar, yakin telah memiliki keselamatan sebab kita tidak seperti perempuan pendosa itu.

Kita adalah “orang-orang yang berhutang”. Artinya, meski dekat dan mengasihi Tuhan, tapi toh punya kesalahan, baik besar maupun kecil. Yang diperlukan ialah kepekaan untuk mengakui dosa kita.

Kerahiman Tuhan terarah bagi siapa saja. Besar kecilnya dosa bukan ukuran bagi kerahiman-Nya. Dalam Injil Lukas, Yesus justru menggarisbawahi sikap orang-orang yang telah diampuni. Kita diajak untuk peka merasakan, betapa pedihnya dosa bagi Tuhan. Yesus mengajarkan, pengampunan itu terjadi ketika orang bisa dan mau mengalami kepedihan Tuhan hingga hatinya terbuka pada kerahiman-Nya.

RD Yacobus Hariprabowo
Vikjen Keuskupan Tanjungkarang


Share on Facebook || Share on Twitter
Berita Lainnya
Full Site