Hidupkatolik.com
home / kesaksian

Berkat Perantaraan Doa Mgr Manek

Minggu, 14 Desember 2008 14:27 WIB
saksi-suster-maria-clementia-prr-hidup-katolik.jpg
HIDUPKATOLIK.com - Ketika tengah sibuk bekerja, mendadak tubuh Suster Maria Clementia PRR lunglai. Lalu, darah segar mengalir dari lubang hidungnya. Sejenak ia duduk sambil mengeringkan darahnya.

Sesaat kemudian, ia kembali membersihkan sekeliling rumah Biara Puteri Reinha Rosari (PRR) di Atambua, Timor. Seakan tak mempedulikan apa yang baru saja terjadi, Suster Clementia terus bekerja. Tak lama berselang, darah segar kembali mengalir dari lubang hidungnya. Kali ini ia sulit bernapas hingga dadanya sesak.

Lantas, ia masuk kapel biara dan berdoa di depan arca Bunda Maria. “Saya memohon kepada Bunda Maria agar menghentikan darah yang mengalir dari hidung saya agar saya bisa bernapas lega kembali,” ujarnya. Seusai berdoa, seorang rekannya menghampiri dan menyarankannya agar segera memeriksakan diri ke dokter.

Suster Clementia dikenal sebagai seorang pekerja keras. Ia tidak akan berhenti bekerja bila pekerjaannya belum tuntas. Tak jarang ia sampai lupa makan bila ia sedang mengerjakan sesuatu. Bahkan, pada saat sakit, ia tetap bekerja.

Suster Clementia ingin meneladani semangat Pendiri Kongregasi Putri Reinha Rosari (PRR), Almarhum Mgr Gabriel Manek SVD. Ia terkenang pada Mgr Manek yang rajin mengunjungi umatnya yang tersebar di Flores Timur, termasuk Pulau Adonara, Solor, Lembata, Alor, dan Pantar. “Beliau naik sampan, menunggang kuda, dan berjalan kaki demi melayani orang-orang kecil dan menderita,” puji Suster Clementia.

Ke Jakarta
Peristiwa darah mengucur dari lubang hidungnya di penghujung 2004 membuat Suster Clementia segera memeriksakan diri pada seorang dokter spesialis THT di Jakarta. Awalnya, dokter mendapati ada gangguan di telinga Suster Clementia yang membuatnya sulit mendengar. Gangguan itu berupa semacam serbuk-serbuk halus yang menumpuk di dalam telinganya.

“Dokter menganjurkan agar telinga saya dioperasi agar penyakit itu tidak merambat ke tenggorokan dan hidung,” kenang Suster Clementia. Operasi berlangsung lancar. Suster Clementia bisa mendengar dengan jelas lagi. Setelah kondisinya pulih, ia kembali ke Atambua dan menjalankan aktivitasnya seperti semula.

Setahun berselang, biarawati yang mengikrarkan kaul kekal pada 2 Juli 1976 ini kembali sakit. Sekali lagi ia merasa sekujur tubuhnya lemah sementara tenggorokan, hidung, dan telinganya sangat sakit. Kepalanya juga terasa pusing. Penderitaan yang dialami Suster Clementia tak hanya itu. Bola matanya mendadak juling. Setiap kali ia menatap sebuah

objek, terjadi dua sampai tiga bayangan sekaligus. Selain itu, pita suara Suster Clementia mendadak rusak sehingga ia tak mampu bersuara. Komunikasi berlangsung dengan isyarat atau pesan yang ia tulis pada secarik kertas.

Pencinta Bunda Maria ini kembali bersembah sujud pada Bunda Maria. Ia menyerahkan seluruh penderitaannya kepada Bunda Maria seraya memohon agar dokter bisa menemukan sumber penyakit di tubuhnya. Sambil terus berdoa Novena, Suster Clementia rutin memeriksakan diri ke RSUD Atambua. Namun, sumber penyakitnya tak kunjung ditemukan sementara ia semakin menderita. Penglihatannya kian kabur. Ia hanya mampu melihat bayangan-bayangan di sekitarnya. Suaranya pun kian menghilang dan berat tubuhnya menurun drastis.

Perlindungan Maria
Tanggal 26 Agustus 2006, Suster Clementia memeriksakan diri lagi ke Jakarta, tepatnya di RS St Carolus untuk memastikan penyakitnya. Dokter menganjurkan agar Suster Clementia menjalankan operasi ringan di sekitar langit-langit mulut dan tenggorokannya. Sekali lagi Suster Clementia menyerahkan semuanya pada perlindungan Bunda Maria, sebelum ia memasuki ruangan operasi pada 31 Agustus 2006.

Dokter berhasil mengangkat segumpal daging kecil di tenggorokannya guna kepastian diagnosis. Untuk mengetahui hasilnya, Suster Clementia harus menunggu selama beberapa hari. Dalam penantian, ia terus berdoa. Tanggal 2 September 2006, dokter menyampaikan hasil biopsi tersebut.

Hasilnya sungguh mengejutkan. Ditemukan sel-sel ganas yang menjalar tak beraturan di sekitar tenggorokan, hidung, dan telinga Suster Clementia. Mendengar hal itu, Suster Clementia terdiam. Tak ada sepatah kata pun terluncur dari mulutnya. “Saya pasrahkan semuanya kepada penyelenggaraan Tuhan. Biarlah kehendak-Nya yang terjadi pada diri saya. Apa pun yang akan terjadi, saya siap menerimanya dengan iman yang teguh,” kata Suster Clementia seraya menahan air mata di pelupuk matanya.

Dokter memutuskan tidak mengoperasi penyakit Suster Clementia. Tetapi, ia harus menjalani serangkaian kemoterapi dan radiasi. Ternyata, kondisi Suster Clementia semakin memburuk. Rambutnya rontok hingga kepalanya gundul. Sementara itu, ia tak mampu lagi berbicara. Bahkan, membuka mulut pun Suster Clementia tidak sanggup. Begitu juga matanya tak bisa terbuka lagi. Karena kondisinya begitu lemah, ia harus menjalani tranfusi darah hingga lima kali. Diperkirakan, penderitaan Suster Clementia akan segera berakhir karena kondisinya sudah sedemikian kritis.

“Banyak orang mengatakan keadaan saya tak akan tertolong lagi karena badan saya sangat kurus. Apalagi, saya tidak mampu lagi melihat, mendengar, dan berbicara. Dalam keadaan setengah sadar, saya tetap berdoa dan saya yakin Tuhan akan menyembuhkan saya,” kenang Suster Clementia.

Mulai 20 Agustus hingga 8 November 2006, Suster Clementia terus berbaring di Ruang Lukas RS St Carolus, Jakarta. Karena sel-sel kanker kian menyebar di tubuhnya, selera makannya raib. Tak hanya itu, lendir kental menumpuk di kerongkongan dan hidungnya, membuatnya semakin sulit bernapas.

Pulang ke Atambua
Tanggal 14 Desember 2006, Suster Clementia kembali memeriksakan diri. Ternyata, kadar hemoglobin dalam darahnya anjlok sehingga ia harus menjalani transfusi darah lagi. Transfusi darah membuat tubuhnya terasa agak kuat dan nafsu makannya terbit lagi. Dua bulan berselang, lendir kental kembali memenuhi kerongkongannya sehingga menghambat napasnya dan membuatnya tak mampu berbicara lagi. Sekali lagi Suster Clementia hanya bisa berkomunikasi dengan bahasa isyarat dan melalui tulisan.

Karena kondisinya kembali memburuk, 6 Maret 2007, ia kembali dirawat di RS St Carolus Jakarta. Kemudian ia melanjutkan kemoterapi hingga tubuhnya menjadi sangat lemah. Karena tubuhnya sudah sangat kurus, Suster Clementia minta pulang ke Atambua. Awalnya, dokter tidak mengizinkannya karena kondisinya sudah sangat lemah.

“Saya katakan kepada dokter, walau saya sangat lemah, lebih baik saya kembali ke Atambua dan mati di sana daripada saya mati di Jakarta dan orang-orang repot mengurus saya,” ujarnya dengan air mata berlinang.

Saat hendak kembali ke Atambua, Suster Clementia mendengar kabar bahwa kerangka tubuh Almarhum Mgr Gabriel Manek SVD yang dimakamkan di Amerika, akan tiba di Kupang, 19 April 2007. Meski kondisinya lemah, Suster Clementia sengaja tidak langsung pulang ke Atambua. Ia menunggu kerangka tubuh Mgr Manek tiba di Kupang. Karena pengobatan medis dirasa tidak membantunya lagi, Suster Clementia merindukan pertolongan Mgr Manek.

Ketika kerangka tubuh Mgr Manek tiba di Kupang, 19 April 2007 dan disemayamkan di Komunitas PRR Naikoten, Kupang, Suster Clementia mengungkapkan keinginannya berdoa di hadapan peti. Dengan dipapah seorang rekan biarawati, Suster Clementia mendekati peti berisi kerangka tubuh Mgr Manek. Karena tubuhnya lunglai, Suster Clementia merebahkan kepalanya di atas peti itu seraya khusyuk berdoa. Dengan air mata berjatuhan, ia memohon rahmat penyembuhan Tuhan melalui Mgr Manek.

“Saat itu, saya mengucapkan selamat datang kepada Mgr Gabriel dan memohon bantuannya agar saya sembuh. Saya sungguh yakin, berkat doa pendiri PRR itu, saya akan sembuh dari penyakit yang mematikan ini,” tegasnya.

Keesokan harinya, 20 April 2007, tanda heran pun terjadi. Ketika bangun dari tidurnya, Suster Clementia merasa telah terjadi perubahan dalam dirinya. Tiba-tiba, ia bisa berbicara dengan lancar, ia juga bisa mendengar dan melihat dengan jelas. Rekan-rekan di biaranya pun terheran-heran melihat realita ini. “Saya tidak mengira akan mengalami kesembuhan. Tuhan telah menyembuhkan saya dengan perantaraan doa Mgr Gabriel Manek,” ujarnya gembira.

Ketika merayakan pesta syukur 40 tahun membiara di Biara Pusat PRR di Lebao, Flores Timur, 8 Desember 2007, biarawati yang pernah berkarya di Timor Leste selama 15 tahun ini menandaskan bahwa doa merupakan kekuatan utama baginya dalam menjalankan tugasnya di tengah umat. “Tanpa doa, orang akan kehilangan semangat pelayanan. Sebaliknya, tanpa pelayanan yang tulus, orang akan kehilangan semangat doa,” katanya bersemangat.

Alhasil, walau dalam kondisi sakit, ia berusaha tetap melayani. Ia yakin, Tuhan memanggilnya menjadi biarawati untuk melayani sebagaimana motonya: “Aku datang untuk melayani bukan untuk dilayani” (Matius 20:28). Kini, Suster Clementia telah kembali berkarya di Atambua. Meski belum sembuh total, ia tetap setia menjalankan tugas-tugas kesehariannya. “Saya yakin, Tuhan akan menguatkan saya dalam menjalankan tugas,” tegasnya.

Hermin Bere Pr


Share on Facebook || Share on Twitter
Berita Lainnya
Full Site