Hidupkatolik.com
home / sajian utama

Ke Depan, Katolisitas adalah Dialogalitas

Minggu, 28 Desember 2008 15:53 WIB
sajut-din-syamsuddin-dan-paus-benediktus-xvi-hidup-katolik.jpg
HIDUPKATOLIK.com - Jabat tangan antara Paus Benediktus XVI dan Raja Abdullah dari Arab Saudi, 6 November 2007 di Vatikan seolah menyiratkan babak baru peziarahan umat beragama mencari titik-titik temu di antara sekian warna-warni perbedaan sepanjang tahun 2008.

Di penghujung tahun 2008 ini, para tokoh dari berbagai agama dan kepercayaan berkumpul di Nikosia, Siprus, Minggu-Selasa, 16-18/11. Pertemuan bertema “Peradaban Damai, Agama dan Budaya dalam Dialog” ada benang merahnya dengan pertemuan yang pernah digagas Paus Yohanes Paulus II tahun 1986 di Asisi, Italia.

Kami mengajak Anda mengikuti percakapan tertulis HIDUP dengan Pastor Dr Armada Riyanto CM, Ketua Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Widya Sasana, Malang, Jawa Timur Minggu, 7/12, untuk menengok kembali perjalanan umat beragama (baca: kita) menciptakan perdamaian setapak demi setapak selama tahun 2008 ini.

Bagaimana Pastor melihat perkembangan dialog antarumat beragama di tahun 2008 jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya?
Di tingkat internasional, tahun 2008 ditandai dengan gerakan-gerakan dialogal yang bagus. Memang belum melibatkan keseluruhan negara. Tetapi, dialogical gestures (isyarat konkret dialogal) telah ditampilkan secara meyakinkan oleh Sri Paus Benediktus dan Raja Abdullah dari Arab Saudi di akhir tahun 2007 lalu. Juga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah memandang secara serius pentingnya dialog antarumat beragama. Di tingkat nasional, langsung atau tidak langsung, hembusan angin dialogal level internasional mengalir pula di tanah air kita. Harus diakui bahwa ketika era saat ini disebut globalisasi, dengan globalisasi dimaksudkan “dialogalisasi”. Dunia di segala sektor kehidupan memiliki suasana sekaligus nuansa dialogal.

Bisa diterangkan lebih jauh?
Dialog antarumat beragama di tahun 2008, jika hendak dievaluasi, kita mesti memiliki satu dua kesepakatan perspektif.

Perspektif pertama berkaitan dengan perspektif keseringan melakukan aktivitas perjumpaan formal. Dari sudut pandang itu, dialog antarumat beragama 2008 jelas dapat disebut sebagai salah satu “tahun sibuk”. Perjumpaan formal berupa silaturahmi, seminar, diskusi, atau perhelatan intelektual sangat penting. Saya mengatakan sangat penting, karena beberapa orang kerap memandang perjumpaan formal tidak banyak artinya bagi dialog interreligius. Menurut saya justru kebalikannya, perjumpaan formal atau intelektual kerap menjadi “ruang bebas” pendalaman persepsi masing-masing untuk mempromosikan pencegahan kesalah-pahaman paling sedikit secara intelektual.

Perspektif kedua berupa impacts (aneka dampak) konkret dalam kehidupan nyata. Tahun 2008 relatif “dingin” (cool), tidak terjadi gejolak hebat, tidak ada gereja atau masjid atau pura atau klentheng yang hangus dibakar massa. Tetapi, itu tidak berarti tahun 2008 adalah tahun “terbaik” dalam dialog agama. Kita tidak melihat gereja terbakar, tetapi kita menyaksikan di beberapa tempat “kesewenang-wenangan” pihak-pihak tertentu untuk memblokir peribadatan atau mempersulit pembangunan rumah-rumah ibadat. Di daerah Junrejo, sebuah rumah yang dimaksudkan untuk panti asuhan telah dihentikan pembangunannya oleh sekelompok kecil orang yang menaruh kecurigaan. Hal lain lagi, coba disimak Surat Keputusan Bersama (SKB) tentang dilarangnya kelompok Ahmadiyah.

Tonggak-tonggak terpenting tahun 2008 yang mengindikasikan dialog antarumat beragama telah terjalin dengan baik?
Jika yang disebut “tonggak” adalah peristiwa penting, cukup banyak yang bisa disebut. Tetapi, barangkali yang paling penting bukan terutama peristiwa perjumpaannya, melainkan impacts karya bakti bersama dalam hidup. Lihatlah karya-karya yang dikerjakan di tingkat keuskupan, paroki, lingkungan. Besar kecilnya sebuah tonggak tidak bergantung pada tingkatannya, melainkan pada dampak bagi kehidupan konkretnya. Proyek “mercusuar” (yang mungkin Anda sebut “tonggak”) dialog itu sendiri tidak ada. Proyeknya ya membangun tata kehidupan bersama ini menjadi lebih baik, lebih manusiawi. Atau, dalam bahasa iman, proyeknya: membangun dan menghadirkan Kerajaan Allah di dunia, di mana umat manusia satu sama lain menghayati hidupnya sebagai “citra” Allah. Dan, proyek ini tidak kenal selesai.

Evaluasi Romo untuk tahun 2008?
Dalam dialog antarumat beragama, tantangan paling konkret ialah menjaga tata hidup bersama berjalan dengan baik, damai, solider satu sama lain tanpa menghitung perbedaan. Bangsa kita adalah bangsa yang didominasi oleh kultur harmoni. Paling sedikit, hal itu ada dalam tradisi nilai yang kita junjung tinggi. Tetapi, kita kurang terbiasa dengan realitas perbedaan, apalagi bila perbedaan itu menyentuh iman, berkaitan dengan ortodoksi iman! Kultur harmoni lantas menjadi political move penyeragaman. Akibatnya, perbedaan yang mungkin “menabrak” ortodoksi iman menjadi alasan untuk menyingkirkan pihak lain.

Tantangan lainnya berasal dari realitas tata politik sehari-hari yang cenderung mengarah kepada konflik adu kekuatan. Jika sudah konflik, halnya secara mudah dapat dibelokkan ke perkara konflik agama. Politik identitas yang mengusung kepentingan kelompok sendiri dan lantas menggusur eksistensi yang lain merupakan tantangan terberat dialog di tanah air.

Bagaimana sikap Gereja merespons tantangan itu?
Selama ini Gereja tampak “kurang siap”, jika saya boleh melakukan kritik diri. Respon yang baik atas tantangan-tantangan di atas meminta beberapa perubahan internal dalam Gereja Katolik yang tidak mudah. Layaknya sebuah dialog yang baik mengandaikan manusia yang terlibat dewasa dan matang, demikian juga respon tantangan dialog antarumat beragama.

Kesan saya, Gereja cenderung sibuk dengan diri sendiri. Tata relasi dalam Gereja Katolik lebih banyak terfokus pada problem internal yang berkaitan dengan saling cemburu dan curiga satu sama lain. Pimpinan Gereja terlihat cemburu dan curiga (malahan konflik) terhadap aneka institusi yang berkarya di wilayahnya.

Dan, kebalikannya, institusi berada dalam ketidak-nyamanan eksistensial dalam menghadirkan kesaksian kekatolikan. Karena itu, Gereja kurang memiliki energi untuk eksplorasi kedalaman pastoral, teologis dan filosofis untuk dibawa ke masyarakat. Akibatnya, mudah dikira, Gereja tidak memiliki suara dalam promosi dialogal yang berkaitan dengan harmoni yang benar dalam societas yang mencakup keadilan. Dan, Gereja juga kurang mempromosikan politik kebaikan yang merangkul semua.

Bagaimana ke depan sebaiknya?
Tidak mudah. Sebagaimana sebuah dialog hanya menjadi mungkin jika manusianya dewasa, demikian Gereja harus pandai berdialog dalam perkara-perkara internal sebelum mengurus kehidupan bersama umat beragama yang lain. Mengutip kalimat Almarhum Yohanes Paulus II dalam kesempatan berbicara di depan para wakil gereja-gereja Kristen di Eropa, “Kita tidak mungkin memberi kesaksian tentang Kristus, jika kita tidak terlebih dahulu bersatu.” Berdamai dengan dan dalam diri sendiri dahulu, itulah entry point (pintu masuk) yang pertama-tama dari dialog yang perlu dilakukan Gereja.

Berikutnya, dialog antarumat beragama itu bukan hanya sebuah gerakan melainkan juga sebuah teologi (filsafat sekaligus). Artinya, dialog itu membutuhkan sebuah persepsi yang benar tentang kehidupan, tentang “aku”, tentang “alter” (dalam bahasa Indonesia diterjemahkan “liyan”), tentang beriman dalam konteks keberagaman, dst. Artinya lagi, dialog benar-benar meminta kita setiap kali berubah, memperbaharui diri dan berkembang, bukan hanya dalam persepsi tetapi juga dalam kepribadian. Bagaimana Gereja tampil menjelma menjadi seorang pribadi yang dialogal, itulah yang perlu dirancang ke depan. Ketika Gereja adalah kita semua, “Katolisitas” seakan-akan pertama-tama berarti “dialogalitas”. Kita menjadi pribadi-pribadi penuh iman yang membuka diri, menyambut siapa pun, dan cerdas dalam kolaborasi.

J. Chrys Wardjoko


Share on Facebook || Share on Twitter
Berita Lainnya
Full Site