Hidupkatolik.com
home / jendela & lembaga religius

Balkesmas Melania Pademangan: Pelayanan Hingga Pengujung Hayat

Kamis, 29 Agustus 2013 15:29 WIB
jendela-balkesmas-melania-pademangan-hidup-katolik.jpg
HIDUPKATOLIK.com - Demi akurasi diagnosis, balkesmas ini menyediakan sarana penunjang medik yang memadai. Tersedia pula unit “hospice” bagi pasien-pasien yang tak lagi punya harapan hidup.

Ketika dokter ahli onkologi di sebuah rumah sakit di Jakarta Pusat angkat tangan terhadap kondisi fisik Theresia Andriati, keluarganya segera menghimpun mufakat untuk mencarikan tempat yang bisa merawatnya dengan saksama. Saat itu, sel-sel kanker yang semula bercokol di payudara wanita berusia 78 tahun ini telah merambah ke organ-organ tubuh lainnya.

“Karena tante tidak punya anak, keponakan-keponakannya sepakat memasukkannya ke Hospice Melania Pademangan,” ujar Veronica Susiati
Mulia , salah satu keponakan Andriati.

Menurut Susiati, pengurus Bidang Pendidikan Yayasan Melania Jakarta, biaya perawatan di rumah sakit cenderung menjulang. “Biaya di Hospice Melania relatif terjangkau, sementara tante saya memperoleh perawatan yang memadai, termasuk pelayanan pastoral hingga ia meninggal sepuluh hari kemudian, pada 21 April 2012.”

Hospice merupakan salah satu pelayanan yang ditawarkan oleh Balai Kesehatan Masyarakat (Balkesmas) Melania Pademangan . Menurut Ketua Unit Kesehatan Melania Pademangan, Dokter Lucky Sandjaja Ongko, hospice yang diresmikan dua tahun lalu tersebut, bertujuan merawat para pasien dalam kondisi terminal agar mereka bisa menghembuskan napas terakhirnya dengan tenang.

Selain itu, Balkesmas Melania Pademangan memberikan pelayanan kesehatan rawat jalan, UGD 24 jam, klinik gigi, dan Balai Kesehatan Ibu dan Anak (BKIA). “Motto kami, one stop service. Walaupun kelas balkesmas, kami bisa memberikan diagnosis dini kepada pasien,” tandasnya saat ditemui di ruang praktiknya, Kamis, 27 Juni 2013.

Primadona
Balkesmas Melania Pademangan mulai melayani masyarakat setempat pada 1968, namun baru diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta (Alm) Ali Sadikin pada 1972. Balkesmas ini memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat menengah ke bawah dalam radius sekitar lima kilometer, khususnya bagi masyarakat Pademangan Timur, Ja karta Utara.

Pada era ’80 hingga ’90-an Balkesmas Melania Pademangan ramai didatangi pasien. Menurut Ketua Bidang Kesehatan Yayasan Melania Jakarta, Dokter Elisabeth Listyawati Purwanto, “Hingga tahun ’90-an, Balkesmas Melania Pademangan menjadi primadona dibanding empat Balkesmas Melania lainnya di kawasan Ciputat, Matraman, Rawasari, dan Kampung Sawah.”

Balkesmas Melania Pademangan memiliki sarana penunjang medik, seperti Ultrasonografi  {USG), rontgen, laboratorium, pemeriksaan jantung bayi doppler, fisioterapi, dan akupuntur. “Untuk mendiagnosis penyakit-penyakit yang tidak terlalu spesialistik, sarana kami cukup lengkap,” tandas Dokter Ongko.

Balkesmas Melania Pademangan juga memberikan pelayanan bersalin dengan bantuan dokter atau bidan. “Tetapi, kami hanya memberikan pelayanan melahirkan secara normal,” urai Dokter Ongko. Ibu yang melahirkan di balkesmas ini bisa bermalam selama satu atau dua hari.

Selama ini, Balkesmas Melania tidak pernah memperoleh kucuran subsidi dari pemerintah. “Kami swadana, sementara kami harus berkompetisi dengan puskesmas. Apalagi sekarang, Gubernur DKI Jakarta, Jokowi, memberi pengobatan gratis lewat Kartu Jakarta Sehat (KJS),” tukas Dokter Ongko sembari tersenyum kecut.

Balkesmas Melania hanya menarik biaya Rp 7.500 untuk pemeriksaan dokter, ditambah uang pendaftaran Rp 5.000. Sementara harga obat relatif terjangkau. Namun, tidak seperti puskemas-puskesmas yang memberikan obat-obat generik kepada pasien, Balkesmas Melania Pademangan memberikan obat non-generik. “Obat yang kami berikan pada umumnya bermerek. Karena sebagian pasien kami tidak sembuh dengan obat generik dari puskesmas,” papar Dokter Ongko.

Seiring menjamurnya puskesmas dan klinik 24 jam di Jakarta, jumlah pasien Balkesmas Melania Pademangan pun susut. “Setiap hari, pasien yang datang
kedokter umum hanya sekitar sepuluh sampai 20 pasien. Sedangkan pasien
melahirkan hanya 15 sampai 20 orang perbulan.”

Saat ini, ada satu dokter tetap dan enam dokter tidak tetap melayani di Balkesmas Melania Pademangan . Di samping itu, ada sekitar 40 karyawan yang mendukung pelayanan ini, yakni bidan, pembantu bidan, perawat, pembantu perawat, asisten apoteker, tenaga laboratorium, tenaga rontgen, tenaga administrasi, dan tenaga kebersihan dan dapur. “Belakangan, kami terpaksa mengurangi jumlah karyawan karena defisit,” beber Dokter Ongko terus terang.

Tidak Menderita
Gagasan mendirikan hospice muncul di benak Dokter Ongko tatkala mantan
Direktur RS St Carolus Jakarta, Dokter Maryono, melontarkan saran agar Balkesmas Melania Pademangan memiliki center of excellence. Lantas, Dokter Ongko mengusulkan kepada Yayasan Melania Jakarta untuk membangun hospice.

“Konsepnya untuk merawat orang-orang yang sudah tidak punya harapan hidup agar mereka tidak menderita pada saat-saat akhir hidupnya,” kata alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia (UKI) Jakarta ini. Pada umumnya, mereka yang melintasi hari-hari terakhirnya di Hospice Melania adalah para penderita kanker stadium lanjut dan stroke.
“Kami hanya merawat, tidak mengobati,” tegasnya.

Balkesmas Melania Pademangan menyediakan dua kamar hospice. Masing-masing kamar dilengkapi dengan tempat tidur untuk pasien dan tempat tidur untuk penjaga pasien, pendingin ruangan, televisi, dan kulkas, serta kamar mandi. “Ruangan hospice tidak memunculkan kesan seperti rumah sakit dan tidak ada batasan waktu berkunjung.”

Dokter Ongko mengakui, pada mulanya hospice didirikan untuk mendukung Balkesmas Melania Pademangan. Ternyata, seiring bergulirnya waktu, keberadaannya hanya pelengkap. “Bisa jadi karena konsep hospice belum dikenal secara luas di kalangan masyarakat Indonesia.”

Dokter yang mengabdi di Balkesmas Melania Pademangan sejak 1982 ini berharap, lembaga ini terus bertahan demi pelayanan terutama bagi masyarakat tak berpunya serta pasien-pasien hospice di pengujung hayatnya.

Maria Etty


Share on Facebook || Share on Twitter
Berita Lainnya
Full Site