Hidupkatolik.com
home / eksponen

Pudentia Maria P.S.S. MPSS: Tradisi Lisan Membentuk Watak

Minggu, 27 Mei 2007 15:41 WIB
eksponen-pudentia-maria-purenti-sri-suniarti-mei-2007-hidup-katolik.jpg.jpg
HIDUPKATOLIK.com - Selama ini teori tentang kebudayaan yang berkembang berasal dari tradisi cetak, bukan dari tradisi lisan. Padahal, tradisi lisan mengandung kekayaan budaya yang amat penting guna pembentukan watak.

Awalnya, pakar tradisi lisan Dr Pudentia Maria Purenti Sri Suniarti MPSS, MHum tidak secara eksplisit tertarik pada kebudayaan. Ia tidak menaruh minat pada kebudayaan. Padahal, dari kecil ia sudah menyukai seni. Sewaktu SD ia sudah menari tarian Jawa maupun Melayu. ”Tapi, waktu itu saya nggak sadar. Saya hanya senang menari,” cerita Pudentia. Tidak hanya itu, pada waktu itu ia sudah ’menciptakan’ tarian untuk mengisi suatu acara sekolah bersama teman-temannya. 

Selain menyukai seni, ia juga suka membaca. Sejak SD minat baca Pudentia tinggi. Ia terdaftar sebagai anggota di sejumlah perpustakaan maupun Taman Bacaan. Kebiasaan membaca itu terus berlanjut sampai sekarang. Ke mana pun ia pergi, buku selalu ada di dekatnya bak perangko dan amplop. ”Buku-buku, termasuk koran dan majalah-majalah yang menjadi langganan di keluarga kami ikut membentuk saya,” tandasnya. 

Saat duduk di bangku SMA kelas I ia sudah diarahkan masuk ke jurusan Pasti Alam (Paspal, waktu itu) karena ketika di SMP nilai-nilai IPA-nya di atas 8. Walau demikian ia menolak. Ia memilih jurusan sosial ekonomi. Sedang untuk ekstrakurikuler ia tetap memilih bidang seni, yakni membatik dan perpustakaan.

Setamat SMA, ia ingin masuk Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Tapi, psikolog di sekolah mengatakan kalau masuk IKJ nanti ia bukan sarjana. ”Sebab IKJ itu Akademi. Sementara Indeks Prestasi (IP) memungkinkan saya menjadi sarjana. Akhirnya, saya pun berpikir ulang,” cerita Pudentia. 

Titik balik
Saat lulus SMA ia sudah berkenalan dengan tulisan-tulisan orang asing yang membahas tentang Indonesia. Itulah titik baliknya yang pertama, kenapa orang asing bisa lebih tahu tentang Indonesia daripada orang Indonesia sendiri. Mereka jauh-jauh datang dari negerinya untuk memahami suatu budaya yang sangat berbeda. Misalnya, Snoug Hugronye. ”Kok naskah-naskah itu diketahui mereka? Itulah yang mengubah hidup saya,” terang Pudentia. Karena alasan itulah, akhirnya ia memilih jurusan Sastra Indonesia ketika duduk di bangku kuliah. 

Titik balik kedua ia alami secara tidak sengaja, namun ia anggap sebagai penyelenggaraan Ilahi, yakni ketika menulis tesis. Ia memilih ilmu susastra modern. ”Karena bidang saya itu. Jadi, pola yang saya miliki sampai dengan tahun 1984 masih pola susastra modern, yaitu tulis cetak. Semua teori itu dikembangkan oleh sastra modern,” kata Ketua Asosiasi Tradisi Lisan (ATL). 

Yang menarik, waktu ia sedang mengurusi susastra modern lebih jauh, ada saja hambatannya. Ia gagal ke Australia. Mencari data maupun pembimbing pun kesulitan. Penentuan topiknya pun tidak kunjung jadi. 

Namun, saat Prof Teew datang ke Indonesia dan membawakan topik tentang transformasi sastra, ia menjadi amat tertarik. Lantas, ia pun mengajukan topik senada, yakni transformasi sastra dalam kisah Roro Mendut Pronocitro. Dari situ ia mengadakan sejumlah temuan. Dan, temuan itu memaksanya masuk ke dalam dunia sastra tradisi. Waktu itu tidak ada pengetahuan, tidak ada yang mengajari atau mengarahkan, tidak ada peer group untuk sastra tradisi.

Pudentia tertarik dengan transformasi sastra dalam kisah Roro Mendut Pronocitro sebab itu bukan hanya karya sastra klasik Jawa saja, tetapi juga ada nuansa pertentangan antara daerah pesisir dengan kebesaran budaya Mataram. 

Kemudian dari situlah ia mulai masuk ke dalam dunia naskah-naskah yang tidak tercetak tetapi masih ditulis tangan di Keraton Surakarta. Lalu, naskah-naskah itu diambilnya dan diterjemahkannya dengan bantuan petugas. Ia juga merekam dan mencermati film Roro Mendut Pronocitro yang dibuat Romo Y. B. Mangunwijaya Pr. 

Tahun 1990, ada titik balik ketiga yang ia anggap juga sebagai penyelenggaraan Ilahi, yaitu ketika ia mencari beasiswa untuk melanjutkan studi tentang sastra modern agar dapat mendalami lagi. Tetapi, waktu itu temannya yang memegang proyek bantuan beasiswa malah menyarankannya untuk meneruskan sastra lisan. ”Kalau untuk itu ada beasiswanya. Jadi, saya ambil kesempatan itu meskipun saya belum tahu rimbanya seperti apa dunia sastra lisan itu,” tandas Dosen Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI sejak 1981.

Pembentuk watak 
Tahun 1990, ia berkesempatan ke Riau. Waktu itu LIPI punya program penelitian khusus, yakni melihat kegelisahan orang Melayu yang merasa dieksploitasi habis-habisan oleh Pemerintah Pusat. Maka, LIPI dengan usulan Bappenas mengadakan penelitian kecil dengan mencoba melihat potensi sastra Melayu yang ada di daratan maupun di kepulauan. Dari situlah ia mulai berkenalan dengan dunia Melayu. 

Prof Ahadiyati, Prof Taufik Abdullah, dan Prof Adrilafian sangat berjasa karena telah menariknya masuk ke dunia Melayu. Ia pun senang bahkan menjadikannya sebagai kampungnya yang kedua. 

Kemudian ia berhimpun dengan teman-teman yang memiliki concern yang sama dalam lembaga tradisi lisan. Lalu, untuk pertama kalinya mereka mengemas seminar dan festival tradisi lisan pada 1993. Itulah pertama kalinya secara resmi istilah tradisi lisan dipakai dan diperkenalkan kepada umum.

Waktu itu untuk pertama kalinya juga ada seminar yang diikuti dengan pertunjukan, yang kemudian menjadi mode. ”Waktu itu kami dibantu oleh lembaga dana dari Amerika sehingga dapat mendatangkan sejumlah tradisi lisan yang sangat langka dari berbagai daerah di Indonesia,” kata Pudentia. Mulai saat itulah ia makin menyadari betapa masih sangat kurangnya jumlah peneliti di bidang tradisi lisan. ”Tradisi lisan amat potensial untuk membuka cakrawala kita sehingga kita bisa memiliki cakrawala baru yang berbeda sekali dari sebelumnya.” 

Teori-teori tentang kebudayaan yang selama ini berkembang berasal dari tradisi cetak, bukan dari tradisi lisan. Di situlah ia menemukan banyak sekali temuan berpangkal dari tradisi lisan. Ia makin yakin, itulah salah satu kekayaan budaya yang amat penting di dalam pembentukan watak. Dari situ jugalah ia berkelana dan berkenalan dengan pelbagai pihak dari satu seminar ke seminar lainnya. Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) pun melihat bahwa dalam abad baru ini tradisi lisan yang masuk dalam intangible culture itu merupakan kekayaan luar biasa, terutama dalam pembentukan watak bangsa.

Budaya dan Gereja
Ia mengakui, banyak ahli kebudayaan Indonesia di kalangan Gereja adalah para Yesuit. Termasuk misalnya Wolter J. Ong SJ, penulis buku yang amat penting untuk dunia tradisi lisan, yaitu Orality and Literacy. 

Yang menyedihkan, menurut Pudentia, dulu Indonesia banyak diilhami pemikiran kebudayaan oleh para Yesuit dan rohaniwan lainnya ”Kok belakangan ini sedikit sekali. Ada apa? Apa perhatian pada kebudayaan sudah mulai berubah atau sudah bergeser?” tanyanya prihatin.

Menurut Pudentia, gerakan kebudayaan mungkin memang ada. Tapi, sebagai sebuah gerakan kebudayaan dari pihak Gereja, ia belum melihatnya secara berarti. Kalau soal kebudayaan menjadi sebuah gerakan, siapapun juga akan memperhatikan tradisi yang ada di daerahnya. Dengan demikian, masyarakat bisa berbuat sesuatu yang membawa perubahan lebih baik. ”Kalau ini terjadi, Gereja memberi sumbangan yang amat berarti, baik menyangkut pendidikan, keperempuanan, bina generasi muda, maupun nilai-nilai moral. Bahkan, akhirnya kita bisa menyumbang pada dunia,” ujar Pudentia.

Ia mengakui, hal ini tidak mudah. Tetapi, kalau menjadi gerakan dan didukung banyak orang, pasti yang sulit akan menjadi lebih mudah. Gereja pada gilirannya juga akan menghasilkan sesuatu yang berarti. 

Pudentia Maria Purenti Sri Suniarti
TTL: Muntilan, 8 Mei 1956
Pendidikan: 
1. S1 Fakultas Sastra UI
2. S2 Magister Humaniora UI
3. S3 Sandwich Program UI dengan Universitas Leiden dan University of California, Berkeley
Karya: 
1. Transformasi Sastra, 1990
2. Indonesian Malay Literature, 1998
3. Metodologi Kajian Tradisi Lisan, 2000

Ari Darsana


Share on Facebook || Share on Twitter
Berita Lainnya
Full Site